Saturday, 29 October 2011

Ironis

Setelah dinyatakan lulus dari bangku kuliah rutinitas yang dijalani adalah membantu ayahku menjaga warung sambil menunggu rejeki datang bekerja di sebuah perusahaan. Hmmm.. seperti teman-temanku yang lain. Di sisi lain, di sana juga banyak sekali ilmu berdagang yang aku dapatkan saat menjaga warung. Ya tepat sekali, kawan. Komunikasi interpersonal. Bagaimana cara kita melayani customer dengan segala keinginannya dan tawar menawar harga yang kadang bikin jengkel hati. Hehehe… namanya juga customer. Stereotype tentang pembeli adalah raja dan yang punya adalah kacung memang masih melekat.  Tak apalah itu bagi saya juga melatih mental. Dan sudah barang tentu banyak sekali informasi dunia luar yang aku dapatkan. Dari informasi yang bikin ngos-ngosan hati sampe yang mendengarnya pun kita bisa tersenyum karena kekaguman.


Dari keseharianku itu, ada sebuah cerita yang membuatku terenyuh mendengarnya. Cerita itu datang dari seorang pamanku yang akan menyekolahkan anaknya di sebuah Sekolah Dasar (SD) favorit di kotaku. Rangkaian tes untuk mendapatkan gelar murid SD favorit pun digelar. Ratusan anak berlomba-lomba masuk sekolah tersebut. Tak luput juga doktrinasi dari para orangtua pun semakin membuat semangat yang membara anak-anak mereka untuk mendapatkan satu bangku di sana. Bak sperma yang berlomba-lomba membuahi sel telur. Seleksi demi seleksi anak pamanku lolos hingga tahap interview. Ya, betul banget kawan hal itu seperti selangkah lagi menjadi orang tua yang bangga pada anaknya lantaran diterima di sekolah favorit. Tapi sayang, pada tahap pengumuman interview anak itu gagal. 

Why??

Usut punya usut, anaknya gagal lantaran saat ditanyakan soal pekerjaan ayahnya. Yang namanya anak, dia pasti akan jujur menjawab pertanyaan yang sesederhana itu. 

“Waktu itu anakku ditanyain masalah pekerjaan ayahnya. Lah dia jawab, ‘ayah jualan nasi’.” Jelas pamanku.
“Terus.. terus, Om?”, Kejarku penasaran.
“Ya kan otomatis gak diterima, Zan. Sekarang yang namanya sekolah favorit itu otomatis orang tuanya punya kerjaannya mentereng. PNS, pegawai bank, pegawai BUMN, dan lainnya. Intinya pegawai. Lha kalo cuman tukang nasi? Gimana coba?”, Terang Omku.
“Jadi, cuman masalah pekerjaan orangtua? ckckckck…”, Balasku.
“Iya, sempet tersinggung Om, Zan. Mungkin mereka pikir pedagang nasi gak mampu bayar SPP” Keluhnya.

Padahal kalo kalian tahu guys, Om ku ini adalah seorang entrepreneur kuliner. Dia yang punya Garang Asem lesehan terkenal enak di Tegal. Omzet yang bisa dicapainya per bulan sekitar 10-15 juta. Dan penampilannya pun sederhana. Dia penganut orang yang tidak suka pamer apa yang dia punya. Kemanapun beliau hanya menggunakan sepeda motor lawas. 
Ada satu lagi cerita yang membuatku geram. Ketika itu ayahku mau pulang dari warungnya dan akan membeli buah dengan mengendarai sepeda onthel.

“Pak, beli jeruk 1 Kg aja”, Kata ayahku.
“Percuma, Pak. Anda gak bakal mampu beli jeruk ini!”, Jawab penjual buah.
“Oh… ya sudah. Makasih”, Jawab ayahku sambil pergi.

Damn‼ rasanya kalo aku ada di situ, ingin ku maki si penjual buah itu. Sudah otomatis tersinggung ayahku diperlakukan seperti itu. Tapi, beliau tetap sabar dan mengalah untuk tidak berdebat. Konon katanya, si penjual buah itu bangkrut. Naudzubillahi Mindzalik…
 
Pertanyaan yang ada di otakku sekarang adalah kenapa mereka (entrepreneur) yang terbilang masih biasa atau kecil dianggap sebelah mata bagi sebagian orang?? Apakah karena penghasilan mereka fluktuatif, di pandang tidak menjanjikan, atau mungkin prestise? Atau mungkin juga sebagian penampilan dari mereka yang tidak ingin mempertontonkan kekayaannya di depan umum dijadikan bahan pertimbangan?? Ironis…

No comments:

Post a Comment