Jam sudah menunjukan arah 13.30 WIB, bel sekolah pun berbunyi, tanda mengakhiri kegiatan belajar mengajar di SMA Negeri 2 Tegal, hari itu. Matematika lah mata pelajaran terakhir di kelasku. Kala itu aku masih kelas 1 SMA, tepatnya kelas 1.2.
Pak Slamet: “Ok, anak-anak. Karena bel sudah berbunyi kita sudahi dulu mata pelajaran ini. Bagi yang mau beli LKS, uangnya bisa dikumpulkan dulu di bendahara kelas.”
Murid-murid: “Baik, Pak”
Pak Slamet: “Selamat siang, anak-anak”
Murid-murid: “Selamat siang, Pak”
Akhirnya, selesai sudah mata pelajaran yang paling gak kusenangi. Satu setengah jam dengan matematika sudah berlalu.
Seperti biasanya, aku dan dua temanku, Fadli dan Ijun nongkrong di poskamling sambil menunggu kedatangan mobil jemputan bernomor polisi warna kuning. Satu lagi SMS-an, yang satunya bengong, dan aku hanya menikmati asap rokok yang kuhisap, itulah kegiatan lain dari menunggu mobil tersebut. Sudah hampir 1 jam kami menunggu, belum datang juga.
Fadli: “Ah, iya ah... tumben lama bener Om nya”
Ijun: “Om siapa, Jos (panggilan lain Fadli)? Dijemput Om mu, ya?”
Fadli: “Iya, Om. Om supir angkot. Hehehe...”
Aku: “hahahahahaahaha...” (ketawaku sampai batuk, gara-gara asap rokok yang kuhisap)
Tuesday, 16 February 2010
Saturday, 13 February 2010
Di Balik Rasa Sakit (part 2)
Kali ini, aku sudah kembali ke rumah. Hanya tidur dan makan yang aku lakukan saat kaki kiriku tak berdaya. Bosan rasanya, karena terbiasa dengan aktivitas pergi main dan sekarang hanya berkutat di kamar tidur. Selang beberapa hari, banyak teman-temanku yang berkunjung menjengukku. Ini adalah hiburan yang bisa kurasakan serta sejenak menghilangkan rasa stres. Canda tawa pun menghiasi gubukku yang ramai dikunjungi teman. Moment ini aku luangkan untuk menandatangani gips yang menempel pada kaki kiriku.
Aku: “Mumpung lagi rame, aku pengen kalian tanda tangani gips ku ini” (sambil tersenyum)
Teman-teman: “Keren!” (serentak, kayak mau perang aja.hehehe)
Satu per satu, tanda tangan mereka melekat di gipsku.
Aku: “Ini baru keren!” (ungkapku sambil tertawa kecil)
Karena sudah malam, mereka pun satu per satu pulang. Dan kini aku sendiri lagi. Rasa bosan datang lagi. Tapi, tiba-tiba suara ketokan pintu berbunyi, dalam hatiku berkata siapa lagi yang datang. Dibukakan lah pintu oleh ibuku, dan ternyata teman dekatku Dias. Lalu, ibuku memanggilku.
Aku: “Mumpung lagi rame, aku pengen kalian tanda tangani gips ku ini” (sambil tersenyum)
Teman-teman: “Keren!” (serentak, kayak mau perang aja.hehehe)
Satu per satu, tanda tangan mereka melekat di gipsku.
Aku: “Ini baru keren!” (ungkapku sambil tertawa kecil)
Karena sudah malam, mereka pun satu per satu pulang. Dan kini aku sendiri lagi. Rasa bosan datang lagi. Tapi, tiba-tiba suara ketokan pintu berbunyi, dalam hatiku berkata siapa lagi yang datang. Dibukakan lah pintu oleh ibuku, dan ternyata teman dekatku Dias. Lalu, ibuku memanggilku.
Di Balik Rasa Sakit
Enam bulan lagi aku akan menghadapi UANAS di bangku SMP, SMP Negeri 14 Kota Tegal sekolahku. Tahun berganti tahun, tak terasa sudah kelas 3 SMP. Padahal, perasaanku mengatakan baru kemaren aku kelas 1 SMP. Yahhh... begitulah waktu berputar dengan cepat.
Malam itu, aku mau bermain dengan temanku, Dias (Sipe) namanya. Dia anak SMP Negeri 1 Kota Tegal. Biasalah anak umur segitu masih sering pergi maen, dan gak ada bedanya dengan sekarang. Hehehe... ngomong-ngmong soal UANAS, dulu aku gak peduli, tetap aja maen, dan megang buku aja gak pernah.
Aku: “Yas... Yas... Yas...?”
Dias: “Apa, Zan?”
Aku: “Maen yuk?”
Dias: “Tunggu bentar, nunggu ibuku nonton sinetron dulu”
Aku: “Apa hubungannya sinetron sama maen?” (sambil mengerutkan dahiku)
Dias: “Kayak gak tahu aja, kalo aku kepergok mau maen, ya gak bolehlah!” (Tegas dia)
Aku: “Ow... terus apa hubungannya?” (tetep gak ngerti)
Dias: “Biar ibuku lagi asyik-asyiknya nonton sinetron, trus aku keluar rumah...(badung banget yak) pokoknya kamu tunggu di depan masjid”
Aku: Oke!
Malam itu, aku mau bermain dengan temanku, Dias (Sipe) namanya. Dia anak SMP Negeri 1 Kota Tegal. Biasalah anak umur segitu masih sering pergi maen, dan gak ada bedanya dengan sekarang. Hehehe... ngomong-ngmong soal UANAS, dulu aku gak peduli, tetap aja maen, dan megang buku aja gak pernah.
Aku: “Yas... Yas... Yas...?”
Dias: “Apa, Zan?”
Aku: “Maen yuk?”
Dias: “Tunggu bentar, nunggu ibuku nonton sinetron dulu”
Aku: “Apa hubungannya sinetron sama maen?” (sambil mengerutkan dahiku)
Dias: “Kayak gak tahu aja, kalo aku kepergok mau maen, ya gak bolehlah!” (Tegas dia)
Aku: “Ow... terus apa hubungannya?” (tetep gak ngerti)
Dias: “Biar ibuku lagi asyik-asyiknya nonton sinetron, trus aku keluar rumah...(badung banget yak) pokoknya kamu tunggu di depan masjid”
Aku: Oke!
Jangan Sudzon
Kata orang, semua itu dari kebiasaan, memang bener sih... Contohnya, bangun pagi. Ini yang selalu membuatku resah kala mau kuliah pagi. (Kalo kayak gini, jadi inget lagunya Harapan Jaya yang judulnya Kuliah Pagi.hehehe. ). Malam itu, aku berniat untuk bangun pagi dan kuliah pukul 07.00 WIB. Segala macam perlengkapan untuk besok telah aku siapkan, dari file untuk presentasi, tidur lebih awal, sampai alarm handphone ku aktifkan pukul 04.30 WIB. Alhasil, aku terbangun dari tidurku tepat jam 08.30 WIB. “Edan tenan, mosok ra mlebu kuliah neh!”, ungkapan kekesalanku di dalam hati sambil berdiri di atas kasur dan melihat arah pada jam dinding. Hmmm... entah setan apa yang membelenggu sehingga masih aja aku terkapar di atas kasur dengan sprei yang kecoklatan akibat 1 bulan belum dicuci. “Jane ki sing konslet sopo tho, aku opo alarmku?”, tanyaku penasaran dalam hati. Karena penasaran itu dan rasa ingin tahu yang tak bisa terbendung, akhirnya kuputuskan untuk mengecek alarm pada handphone ku. Coba kuatur lagi alarm dengan dicocokan pada jam sekarang. Tiba-tiba saja, “KRINGGGGG....” wah ini, ternyata yang konslet itu buka alarmku, tapi memang aku yang bener-bener konslet.hehehehe.. Setelah kejadian itu, aku bertekad untuk bangun pagi tiap hari, walaupun tidak ada kuliah pagi, dan tak lagi menyalahkan alarm handphone. Hehehe...
Subscribe to:
Comments (Atom)