Kebutuhan pangan di dalam suatu negara merupakan hal yang mutlak harus dipenuhi. Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat terutama pada negara berkembang menjadikan penerapan berbagai teknologi dan inovasi pertanian menjadi suatu keharusan, agar produksi dapat menunjang permintaan pangan yang tinggi.
Peningkatan produktivitas pertanian menjadi target kegiatan pertanian di berbagai negara. Karena dengan inovasi mampu menciptakan keunggulan dan mencukupi kebutuhan pangan sebuah negara. Berkaca dari kejadian-kejadian beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa keadaan ketahanan pangan nasional masih terbilang rapuh. Apalagi ditambah dengan implementasi perdagangan bebas antar kawasan (seperti ACFTA dan IAFTA), ketahanan pangan nasional menghadapi tantangan yang lebih kompleks. ”Daya saing” merupakan kata kunci untuk menghadapi persaingan di bidang produk pangan.
Selain itu juga faktor cuaca memang menjadi permasalahan yang sangat kuat dalam mempengaruhi produksi dan juga persediaan pangan global. Tidak bisa dipungkiri negara-negara produsen pangan utama seperti Amerika Serikat, Rusia, Brasil, Argentina, dan beberapa negara Asia seperti Indonesia dan Thailand telah secara bersamaan dilanda cuaca yang tidak menguntungkan pada tahun ini. Berawal dari tingginya curah hujan yang melanda Thailand yang menyebabkan produksi beras di negara tersebut mengalami gangguan.
Maka dari itu, Agustus lalu di sebuah media, Presiden RI mengemukakan pendapatnya tentang inovasi dalam teknologi pangan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menekankan perlunya kontribusi teknologi dan inovasi dalam upaya mencapai kemandirian pangan bagi sekitar 240 juta rakyat Indonesia. Penekanan itu disampaikan Presiden Yudhoyono dalam peringatan ke-17 Hari Teknologi Nasional di Bandung.
"Pikirkan kontribusi teknologi dan inovasi menuju kemandirian pangan," kata Presiden
Artinya inovasi memang perlu dikembangkan guna mencukupi stabilitas pasokan pangan di Indonesia. Saat ini di Indonesia sudah banyak sekali inovasi-inovasi teknologi pangan baik dari sektor hulu maupun hilir. Berdasarkan data dari Business Inovation Center (BIC), inovasi-inovasi yang tercetus tersebut didominasi di sektor hulu.
Mengenai inovasi-inovasi yang dilakukan tidak terlepas dari penelitian-penelitian yang dilakukan oleh pemerintah, akademisi, maupun swasta. Di samping itu, ada hal yang membuat para peneliti nantinya bergairah dalam melakukan riset-risetnya. Saat peringatan Hari Teknologi Nasional di Bandung, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan kepada media tentang peraturan presiden (Perpres) mengenai tunjangan bagi peneliti akan segera ditandatangani.
"Berita baiknya sudah siap saya tandatangani, mudah-mudahan minggu ini sudah saya teken dan September para peneliti sudah dapat kesejahteraan yang lebih tinggi," kata Presiden.
Berbagai Hasil Inovasi
Pada dasarnya, Indonesia kaya inovasi teknologi pangan, namun inovasi tersebut hanya beberapa saja yang diproduksi secara masal terkait nilai keekonomiannya dan dapat implementasikan oleh industri. Saat ini pemerintah Indonesia telah menggelontorkan dana untuk penelitian-penelitian terkait inovasi teknologi pangan. Menurut Sekretaris Jenderal Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kementerian Pertanian, Yazed Taufik mengatakan bahwa dana yang diberikan untuk melakukan riset teknologi pangan sekitar Rp290 miliar.
”Rp290 miliar untuk teknologi, untuk pengawalan mutu Rp.100 miliar, dan Rp. 100 miliar untuk pemetaan pasar baik dalam maupun luar negeri. Kalau kaitannya per unit, kita sudah revitalisasi penggilingan padi sekitar 3000 Rice Milling Unit (RMU) dan saat ini pun terus berjalan. Namun tidak sepenuhnya dana tersebut dari kita, karena dari kita terbatas. Jadi didukung pula oleh APBD”, Ujar Yazed.
Seperti halnya inovasi teknologi yang dihasilkan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, yaitu beras rendah gula. Inovasi ini mengubah gabah menjadi beras ber-Indeks Glikemik (IG) rendah dengan proses teknologi pratanak yang unik. Melalui proses pratanak ini, tingkat kandungan vitamin (B1, B2, B3, B6), mineral (Mg, Ca, K, Na, Fe, Zn), amilosa dan serat pangan dalam beras meningkat, namun kadar gula, daya cerna pati, dan IG menurun. Artinya jika dikonsumsi secara teratur maka kadar gula darah dapat diturunkan dan dikendalikan.
Kemudian dari pihak akademisi, baru-baru ini mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan hasil penelitiannya yaitu beras analog. Beras analog ini berbahan baku dari sagu, jagung, dan tepung singkong. Penemuan tersebut diapresiasi oleh Menteri Pertanian Suswono. Menurut Menteri, ini membuktikan Indonesia mampu berinovasi menciptakan banyak mode pangan. "Beras analog ini salah satu inovasi IPB, bahan utamanya berasal dari negeri sendiri seperti singkong, sagu dan jagung. Ini adalah bukti, bahwa Indonesia mampu menciptakan, mode pangan berbeda," kata Menteri yang diberitakan oleh media saat meluncurkan beras analog dalam acara Dies Natalis IPB ke-49.
Menteri berharap setelah beras analog diluncurkan, dapat disambut oleh pihak industri untuk diproduksi dalam jumlah banyak dan disosialisasikan. Inovasi-inovasi tersebut menandakan bahwa Indonesia pun tak kalah ketinggalan dengan negara lain terkait inovasi di bidang teknologinya. Sudah saatnya kita menggunakan hasil inovasi teknologi dari dalam negeri.
No comments:
Post a Comment