Indonesia sebagai negara agraris yang terletak di garis khatulistiwa, diuntungkan dengan iklim tropis dan memiliki dua musim sehingga keadaan tanahnya sangat subur serta tumbuh beraneka ragam tumbuhan yang berkualitas tinggi. Keanekaragaman tumbuhan dan hutan merupakan kekayaan Indonesia harus dimanfaatkan dikelola untuk kesejahteraan umat manusia. Salah satunya demi kebutuhan pangan. Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia sehingga ini menjadi isu yang teramat penting di samping energi dan air bersih.
Ketahanan pangan merupakan sebuah sistem kesatuan yang terdiri atas subsistem ketersediaan dan distribusi pangan serta subsistem konsumsi. Dalam ketersediaan dan distribusi itu memfasilitasi pasokan pangan yang stabil dan merata ke seluruh wilayah; sedangkan subsistem konsumsi memungkinkan setiap rumah tangga memperoleh pangan yang cukup dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan gizi seluruh anggotanya. Dengan demikian, ketahanan pangan adalah isu di tingkat wilayah-wilayah hingga tingkat keluarga, dengan dua elemen penting yaitu ketersediaan pangan dan akses setiap individu terhadap pangan yang cukup.
Seiring isu lingkungan yang kian memprihatinkan, hasil pertanian pun semakin berkurang. Hal ini tidak terjadi di Indonesia saja, melainkan di seluruh dunia. Bahkan isu ini menggelitik seorang Bill Gates – Pendiri Microsoft – untuk menciptakan teknologi yang mampu mempercepat hasil pertanian guna kepentingan seluruh umat manusia. Dari sinilah peran teknologi sangat memberikan angin surga bagi keniscayaan hasil pertanian yang lebih optimal.
Melihat hal ini, Indonesia tidak hanya diam saja. Memacu terobosan-terobosan baru untuk sejahterakan masyarakat dengan berbagai temuan inovasi pertanian. Berdasarkan data dari Business Innovation Center (BIC), banyak sekali teknologi terkait pertanian yang diciptakan oleh anak bangsa negeri ini. Misalnya saja, menanam kentang dengan kultur jaringan. Inovasi ini memanfaatkan teknologi aeroponik dan kultur jaringan untuk melipatgandakan benih kentang. Menggunakan peralatan dimodifikasi dan disederhanakan dari bahan-bahan yang tersedia di Indonesia, ternyata mampu menghasilkan benih kentang yang melimpah dari setek aklimatisasi kultur jaringan. Kemudian ada juga terobosan mengenai produktivitas padi serta kaya gizi yang dikenal dengan varietas padi baru yang selain memiliki tingkat produktivitas tinggi, juga memiliki kadar Fe cukup, yakni pada kisaran 22-29 ppm.
Sesungguhnya banyak sekali inovasi-inovasi yang mampu diciptakan oleh bangsa ini dengan melihat kultur dan alamnya, sehingga hasil karya itu dapat dioptimalkan sesuai kebutuhan dan sanggup mensejahterakan rakyat Indonesia. Namun sayangnya, dari beberapa inovasi-inovasi yang tercipta, belum seluruhnya dapat disinergikan dengan industri. Masih banyak PR yang tentunya harus diperhatikan pula oleh para peneliti seperti sustainable bahan baku yang disediakan, nilai keekonomian, dan komitmen yang tinggi antara pemerintah, peneliti, maupun industri (konsep triple helix). Jika konsep ini dapat dijalankan, maka mustahil bangsa ini akan menjadi negara pengimpor terus menerus.
No comments:
Post a Comment