Monday, 13 December 2010

Petarung Waktu dari Kampung

Bercita-citalah yang tinggi, bermimpilah yang besar. Reguk madu ilmu sebanyak-banyaknya. Jelajahi Indonesiamu yang luas, jengkali Afrika yang eksotis, dan jelajahi Eropa yang megah. Semua itu bukan seberapa besar mimpi kita, tapi seberapa besar kita untuk mengejar mimpi itu”
(Sang Pemimpi)

Berawal dari pencarian referensi untuk skripsiku di perpustakaan kampus. Kedua mataku seketika terpaku pada penelitian orang tentang novel trilogi Laskar Pelangi. Bukan soal bagaimana penelitian yang ia lakukan. Namun, aku lebih menitikberatkan pada gambaran umum tentang pengarang dan novel-novel yang ia telurkan. Karena kebetulan Andrea Hirata saat itu bersekolah di SD Muhammadiyah Gantong, Belitung. Sama seperti aku juga, lulusan SD Muhammadiyah, cuman beda tempat aja. Hehehe...

Saat aku membaca gambaran umum tentang novelnya, serasa aku teringat kembali teman-teman SD ku. Kalo Andrea Hirata dalam novelnya boleh menyebut teman-temanya dengan ‘Laskar Pelangi’, maka aku memanggil kawan-kawan SD ku ‘Petarung Waktu dari Kampung’. Keren kan, Sob? Hehehe..


Syukur Alhamdulillah, udah dua kali lebaran kami saling berjumpa dan melepas rindu. Di sisi lain, aku juga berpikir, kenapa ya gak dari dulu aja sering ngumpul pas lebaran???? Kok baru bisa kemaren-kemaren?? Woy... pada kemana sih emangnya (termasuk aku)?? Aneh. Hehehe... Tak apalah, mungkin inilah yang namanya udah pada ngerti arti silaturahmi dan punya pikiran dewasa. 

Kenangan masa SD pun, satu per satu kami tuangkan kembali. Rata-rata dari kami hanya mengingat kenakalan apa saja yang dilakukan. Ada yang panggil nama pake nama orang tuanya, nuduh anak pups di celana, masih ditungguin ibunya sampe akhir kelas 1, dilempar sapu sama guru gara-gara ribut di kelas, bahkan ada guru yang mau duduk kursinya ditarik jauh kebelakang sehingga jatuhlah guru itu. Parah banget, kan? Hahahahahaha... Malahan saat kemaren kami berkunjung ke salah satu guru yang pernah dijatuhkan oleh temenku, ternyata beliau masih hafal dengan kejadian itu.
“Saya masih hafal dengan kejadian itu” Tuturnya.
Ckckckckckck... sadis!

Bercengkrama karena kerinduan, kecerian pun makin menggelayuti suasana. Sehingga tak tersadar waktu yang terus menggerus kebahagian kami di saat itu telah usai. Waktunya kembali mengangkat ransel dan pergi ke dunia kami masing-masing dengan penuh gairah. Tak peduli bagi kami seberat apapun itu menantang waktu. Karena kami yakin, sejatinya masa depan berawal dari mimpi dan perjuangan.

Hey Petarung Waktu dari Kampung, sudah siapkah kita untuk menjadi Ikal selanjutnya?  Good Luck, kawan! See u later..

1 comment:

  1. Inspiratif juga tulisan anda. Face anda yang ada di dalam foto diatas, sangat mudah dikenali.

    ReplyDelete