Saturday, 26 November 2011

Passion Luar Biasa!

Hari itu saya sedang mengantarkan teman satu kampung untuk mendaftar di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Banyak orang yang mengantri untuk melakukan test yang satu hari dapat dilihat hasilnya. Pelayanan tersebut dinamakan One day Service. Model pelayanan itu, jadi kita bisa tahu dengan cepat setelah mengerjakan soal-soal yang disuguhkan, apakah diterima atau tidak di universitas itu. Kebetulan adalah perguruan tinggi di mana saya menggali ilmu.


Di antara kerumunan orang-orang yang lagi pada ribet urusin soal test dan tetek bengek lainnya, terlihat satu orang yang membuat saya kagum. Dia merupakan salah satu kaum difabel. Di antara banyak kerumunan orang yang tak seperti dia, seakan dia bisa melebur dan menjadi satu tanpa ada rasa minder sedikit pun. Salut! 

Karena penasaran, saya pun mencoba mendekati dia. Seakan-akan bertanya tentang tata cara pendaftaran. Dia cowok lho. Dan ternyata, dia excited sekali, nunjukin cara pendaftarannya.

“Mau daftar fakultas apa, mas?” tanyanya.
“Gak kok, cuman mau nganterin temen aja. Kebetulan baru datang. Alhamdulillah saya udah kuliah di sini”, jelas saya sambil tersenyum.
“Wahhh.. udah jadi mahasiswa donk, mas? Ngambil fakultas apa di sini?”, katanya.
“Hahaha… ah biasa aja. Saya ambil Fakultas Ilmu Komunikasi. Kamu rencananya mau ambil jurusan apa di sini?”, tanya saya. (Saya berani tanya itu soalnya dia lagi ngegenggem formulir pendaftaran. Eh sapa tahu bukan miliknya. Sok banget ya saya.hahahaha….).
“Alhamdulillah saya baru aja test dan diterima di Fakultas Psikologi, mas”, jelasnya.
“Wah.. wah… wah… selamat yah”, ucap saya sambil bersalaman dengannya.

Selepas itu dia pamit kepada saya untuk pulang. Ternyata dia juga sedang menunggu temannya yang sedang test. Dari kejauhan saya liatin dia, dia lagi ngerayain euforianya bareng temennya itu. Satu lagi potret passion orang dengan keterbatasan fisik yang ingin pintar dan maju. Saya merinding ketika ia senang sekali bisa diterima kuliah di sini. Di sisi lain, tepat juga anak itu mengambil fakultas psikologi bila dikaitkan dengan keadaannya tersebut. Membangun kepercayaan diri dari diri sendiri. Luar biasa!

Setelah perkuliahan aktif, kebetulan gedung perkuliahan saya dan dia berdekatan. Jadi saya sering sekali menjumpai dia dengan kursi rodanya. Terkadang dia bersama dengan temannya yang membantu mendorong kursi rodanya itu. Tak jarang juga ia sendiri. Terengah-engah karena kecapekan menjalankan kursi rodanya sendiri. Jika dia lelah, dia pasti berhenti tepat di bawah rindangnya pohon yang ada di kampus kami.

Saya sungguh sedih sekali ketika melihat ia sedang kesusahan dengan kursi rodanya. Jika waktu memungkinkan untuk membantunya, terkadang saya beserta teman-teman lain turut membantunya. Pelajaran untuk kita semua, khususnya saya sendiri agar tidak mengeluh dan terus berusaha untuk menggapai cita-cita yang diinginkan walaupun proses itu berat. Apalagi dengan keadaan fisik kita yang berbeda jauh dengannya. Dan saya pun hanya bisa berharap, may Alloh blesses him.**


No comments:

Post a Comment