Thursday, 1 December 2011

Untuk Ayah

Duduk, memandangi sekitar adalah pekerjaannya
Pagi, siang, sore, bahkan sampai malam hari
Bukan! dia bukan seorang pengangguran yang dipenjara oleh waktu
Melainkan dia menunggu rejeki datang, orang yang membeli dagangannya
Dan kini dia harus terkantuk-kantuk karena menunggu pembeli


Dulu, keadaan tak seperti ini.
Mondar-mandir seperti ikan mungil nan lincah di aquarium kecil
Dan waktu itu pun datang. Waktu yang membuat Ia semakin termenung.
“Rejeki gak akan kemana”, ungkapnya.
Semakin terlihat jelas kesabaran dan kebijaksanaannya.

Aku tahu dia..
Aku paham betul dia..
Maafkan aku, aku belum bisa sedikit membahagiakanmu, Ayah…


No comments:

Post a Comment