Monday, 5 March 2012

Menyaksikan Langsung Pentas Sang Seruling Laut


Tak menyesal sekali pun di dalam hati kami, perjalanan yang jauh dan penuh tantangan ketika dibayar dengan melihat salah satu alam Indonesia yang sungguh indah ini. Sejauh mata memandang keindahan karang yang bolong dan pohon-pohon yang hijau sejenak menjadi penawar rasa penat bagi siapapun bila ingin mencoba datang ke sini. Termasuk Anda. Suara deburan ombak yang diakhiri dengan nyaringnya bunyi seruling laut, membuat suasana semakin berdecap kagum. Tempat yang menawarkan pesona keindahan alam ini belum banyak disentuh para pelancong. Inilah kota Pacitan, Jawa Timur. Kota yang terkenal dengan Kota Seribu Satu Goa.

Perjalanan kami dimulai dari Kota Solo menggunakan sepeda motor. Selama di perjalanan menuju Pacitan, Saya dan tim disuguhi pemandangan yang elok khas pegunungan, track perjalanan yang berkelok-kelok, dan udara segar. Tak bisa dipungkiri gairah ingin mengabadikan moment tersebut tidak bisa dibendung. Sesekali kami berhenti untuk mengambil gambar keindahan alam pegunungan itu. Di dalam pikiran kami masing-masing tersimpan banyak bayangan keindahan alam lagi yang lebih dahsyat ketika kami sampai di tempat tujuan.

Hmmm.. semangat itu terbawa juga untuk lekas memacu kendaraan roda dua yang kami tunggangi melesat kencang namun tetap penuh kehati-hatian. Setelah dua jam perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah salah seorang tim kami di Pacitan. Kedatangan Saya dan tim disambut ramah oleh keluarga yang menerima. Keakraban bersama keluarga itupun kembali timbul ketika disuguhkan makanan kecil khas kota tersebut dan segelas kopi untuk menghangatkan tubuh kami. Perbincangan ngalor ngidul bersama keluarga tentang keindahan alam kota ini membuat tim kembali pensaran dengan objek wisata yang ada di kota ini.

Malam pun telah larut, perjalanan menuju obyek wisata yang akan dituju terpaksa harus ditunda sampai esok pagi. Kami pun bersiap untuk bermimpi indah apa yang akan dilihat besok. Kicauan burung-burung dan embun pagi di setiap daun yang berjejer memperlihatkan kehebatan Sang Pencipta dalam membuat alarm alam petanda pagi datang. Efek sinar matahari menembus dan menggantikan suasana yang dingin menjadi hangat. KehebatanNya dalam memutarbalikan kehidupan sungguh luar biasa.

Kami pun bergegas bangun, mempersiapkan diri untuk perjalanan menantang selanjutnya. Sekitar pukul tujuh waktu setempat, meluncurlah kami ke destinasi utama, pantai Karang Bolong. Pohon-pohon besar, jalan berkelok, dan aktivitas warga saat pagi, menjadikan pemandangan selama perjalanan. Di tengah perjalanan, hujan lebat, memaksa untuk berhenti di sebuah warung. Kopi dan singkong rebus pun menjadi pilihan Saya dan tim ketika berteduh di tempat itu. Tawa dan canda selama berteduh pun tak luput dari kami sehingga hujan lebat tidak terasa berganti panasnya sinar matahari. Tanda itu, menandakan alam mempersilakan kami untuk bergegas melanjutkan perjalanan. Let’s go!

Tak ubahnya pemandangan yang terus menyajikan kebesaran Tuhan atas ciptaanNya, semakin manusia harus menyadari semua itu. Kendala tidak cukup sampai di situ saja, ban motor salah satu tim kami mengalami kebocoran. Mau tidak mau kami harus mencari tempat tambal ban. Sekitar dua kilometer kami baru menemukan bengkel. Waktu sampai tujuan pun terpaksa ditarik dari schedule awal. Perjalanan kami pun kembali dilanjutkan. Tim pun tidak menyadari bahwa track untuk menuju tempat tujuan, masih berbalut tanah tanpa aspal. Sehingga hal ini menjadi kendala kami lagi. Pasalnya, track yang basah dan licin membuat tim harus berhati-hati agar tidak terpeleset saat menaklukan medan tersebut. Sepanjang lima kilometer kami harus berhati-hati. Akhirnya, perjuangan yang penuh liku usai sudah.

Melihat pantai yang penuh karang dari ketinggian, memancarkan rona sinar kebahagian Saya dan tim setelah menaklukan berbagai tantangan. Rasa kagum atas salah satu hasil masterpiece Tuhan tak berkesudahan dilakukan oleh kami. Kami pun lekas bergegas turun menuju pantai. Walau belum terlalu banyak orang yang tahu pantai ini, banyak warung yang didirikan di pinggir pantai. Kami pun memesan es kelapa yang masih berbalut buah kelapa segar sambil menikmati indahnya pantai ini. 

Sayang sekali, kami tidak bisa lebih jauh berekplorasi karena ombak terlalu besar dan air laut yang pasang. Menurut warga setempat, bila air tidak pasang, kita bisa menuju tempat seruling laut itu. Kami pun menunggu waktu lain untuk dapat mengabadikan seruling laut itu. Apakah Anda tertarik untuk datang? Silakan. Semoga beruntung dapat mengabadikan seruling laut itu lewat kamera yang Anda pegang.**

No comments:

Post a Comment