Perjalanan kami dimulai dari Kota Solo menggunakan sepeda motor. Selama di
perjalanan menuju Pacitan, Saya dan tim disuguhi pemandangan yang elok khas pegunungan,
track perjalanan yang berkelok-kelok, dan udara segar. Tak bisa dipungkiri
gairah ingin mengabadikan moment tersebut tidak bisa dibendung. Sesekali kami
berhenti untuk mengambil gambar keindahan alam pegunungan itu. Di dalam pikiran
kami masing-masing tersimpan banyak bayangan keindahan alam lagi yang lebih
dahsyat ketika kami sampai di tempat tujuan.
Hmmm.. semangat itu terbawa juga untuk lekas memacu kendaraan roda dua yang
kami tunggangi melesat kencang namun tetap penuh kehati-hatian. Setelah dua jam
perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah salah seorang tim kami di Pacitan. Kedatangan
Saya dan tim disambut ramah oleh keluarga yang menerima. Keakraban bersama
keluarga itupun kembali timbul ketika disuguhkan makanan kecil khas kota
tersebut dan segelas kopi untuk menghangatkan tubuh kami. Perbincangan ngalor ngidul bersama keluarga tentang
keindahan alam kota ini membuat tim kembali pensaran dengan objek wisata yang
ada di kota ini.
Kami pun bergegas bangun, mempersiapkan diri untuk perjalanan menantang
selanjutnya. Sekitar pukul tujuh waktu setempat, meluncurlah kami ke destinasi
utama, pantai Karang Bolong. Pohon-pohon besar, jalan berkelok, dan aktivitas
warga saat pagi, menjadikan pemandangan selama perjalanan. Di tengah
perjalanan, hujan lebat, memaksa untuk berhenti di sebuah warung. Kopi dan
singkong rebus pun menjadi pilihan Saya dan tim ketika berteduh di tempat itu. Tawa
dan canda selama berteduh pun tak luput dari kami sehingga hujan lebat tidak
terasa berganti panasnya sinar matahari. Tanda itu, menandakan alam
mempersilakan kami untuk bergegas melanjutkan perjalanan. Let’s go!
Tak ubahnya pemandangan yang terus menyajikan kebesaran Tuhan atas
ciptaanNya, semakin manusia harus menyadari semua itu. Kendala tidak cukup
sampai di situ saja, ban motor salah satu tim kami mengalami kebocoran. Mau
tidak mau kami harus mencari tempat tambal ban. Sekitar dua kilometer kami baru
menemukan bengkel. Waktu sampai tujuan pun terpaksa ditarik dari schedule awal. Perjalanan kami pun
kembali dilanjutkan. Tim pun tidak menyadari bahwa track untuk menuju tempat
tujuan, masih berbalut tanah tanpa aspal. Sehingga hal ini menjadi kendala kami
lagi. Pasalnya, track yang basah dan licin membuat tim harus berhati-hati agar
tidak terpeleset saat menaklukan medan tersebut. Sepanjang lima kilometer kami
harus berhati-hati. Akhirnya, perjuangan yang penuh liku usai sudah.
Melihat pantai yang penuh karang dari ketinggian, memancarkan rona sinar
kebahagian Saya dan tim setelah menaklukan berbagai tantangan. Rasa kagum atas
salah satu hasil masterpiece Tuhan tak berkesudahan dilakukan oleh kami. Kami
pun lekas bergegas turun menuju pantai. Walau belum terlalu banyak orang yang
tahu pantai ini, banyak warung yang didirikan di pinggir pantai. Kami pun
memesan es kelapa yang masih berbalut buah kelapa segar sambil menikmati
indahnya pantai ini.
Sayang sekali, kami tidak bisa lebih jauh berekplorasi
karena ombak terlalu besar dan air laut yang pasang. Menurut warga setempat,
bila air tidak pasang, kita bisa menuju tempat seruling laut itu. Kami pun
menunggu waktu lain untuk dapat mengabadikan seruling laut itu. Apakah Anda
tertarik untuk datang? Silakan. Semoga beruntung dapat mengabadikan seruling
laut itu lewat kamera yang Anda pegang.**
No comments:
Post a Comment