Kebetulan dulu saat SMA kelas tiga saya mengambil program konsentrasi Bahasa. Awal mula kenapa pilih jurusan itu, saya kurang paham sendiri. Itu semua terjadi secara tiba-tiba. Ketika sebuah kertas dihadapkan yang berisi minat konsentrasi program, tangan saya menulis kelas Bahasa. Sebelumnya tidak terpikirkan oleh saya untuk mengambil itu (jurusan Bahasa-Red.). Ada sebagian teman saya kecewa dan mencibir keputusan itu.
Hal yang menjadi kesedihan saya ketika masuk di jurusan itu adalah saat mereka menganggap bahwa kelas bahasa, kelas yang notabene kelas ‘penggembira’ alias program ecek-ecek. Berbeda dengan jurusan lainnya seperti IPA dan IPS yang mungkin masih bergengsi. Bagi saya, justru kami (kelas bahasa-Red) yang berbeda dengan yang lain. Terbukti saat upacara hari senin dan saat itu adalah upacara terakhir karena UAS akan segera dilangsungkan, salah satu teman saya maju dan berpidato menggunakan Bahasa Jepang.
Ada lagi ketika angkatan kakak kelas saya di utus oleh Dubes RI untuk Jepang guna melakukan study banding ke Negara Sakura itu. Jadi intinya adalah bukan masalah stereotype bahwa kelas Bahasa merupakan sekumpulan orang-orang yang ‘bodoh’ melainkan semua tergantung dari diri sendiri. Masalah prestise?? None your business.
Semakin dekat dan semakin lama, ternyata saya jatuh cinta dengan bahasa. Bahasa di mata saya adalah unik. Unik sekali. Kenapa? Sudah barang tentu bahasa tidak luput dari kata-kata yang semua mempunyai makna. Setiap kata mempunyai banyak makna. Semua tergantung dari konteks pengetahuan kita memahami makna sebuah kata.
Seperti yang di ungkapkan oleh Budiman Hakim dalam bukunya Sex After Dugem (Misteri dalam Sebuah Kata) bahwa pada konteks tertentu, setiap kata dapat dipaksa berkhianat dari makna yang ada. Dan juga ilmuwan sekaliber John Fiske mengutarakan tentang hal yang sama, bahwa isi teks yang berisi kata-kata bahkan gambar itu semua adalah the generation of meaning. Maksudnya adalah makna terbentuk dari sebuah kata ataupun kalimat tergantung dari pemahaman sang pembaca.
Sebagai contoh, ketika ada seseorang yang sering bolak-balik Jakarta-Singapore mengatakan bahwa jarak antara keduanya itu dekat. Padahal kemungkinan jarak sebenarnya adalah 1000km. Dan ketika seorang tukang parkir memberikan informasi kepada supir yang jarak aslinya kemungkinan dua jengkal dikatakan jauh. Inilah makna yang berkhianat dari makna sesungguhnya.
Kembali ke pokok masalah. Show must go on, keputusan tetap keputusan. Jalani dan rasakan sensasinya ketika menjalaninya. Bukan dengan berat hati, tapi dengan enteng hati saya jalani keputusan itu. Karena semua sudah saya pikirkan dengan matang-matang ketika coretan kertas itu terisi sebuah kata Bahasa.**
No comments:
Post a Comment