Wednesday, 18 April 2012

Mempertahankan Eksistensi Merek melalui Media Sosial

Fenomena media sosial yang menjamur saat ini semakin marak dua tahun belakangan ini. Hal ini ditandai dengan popularitas Facebook yang telah melampaui Google di tahun 2010. Banyak pengamat yang menilai fenomena ini merupakan titik awal tren penggunaan media sosial sebagai sarana berkomunikasi. Cakupan yang luas dan sifat interaktif yang dimiliki oleh media sosial menarik perhatian sejumlah kalangan pebisnis, konsumen, dan pemasang iklan untuk mencoba terlibat di dalamnya. Dahulu media sosial semacam ini digunakan sebatas alat komunikasi antarpribadi maupun kelompok untuk saling berkomunikasi satu dengan yang lain. Namun saat ini fungsi media sosial beralih menjadi alat mujarab untuk melakukan kegiatan promosi.

Pada tahun 2011 peran media sosial sebagai pemeran utama pemasaran, mampu menggoyangkan pasar investasi global.  Banyak dari kalangan pebisnis yang optimis untuk bermain di ranah media sosial. Bahkan studi dari Klynveld Peat Marwick Goerdeler (KPMG) sebuah jaringan global perusahaan professional penyedia jasa layanan audit yang dilansir dari tempo.com menemukan bahwa sebanyak 70 persen perusahaan bisnis kini telah terintegrasi dengan media sosial. Hal ini menandakan bahwa media sosial sangat membantu mereka dalam melakukan promosi.

Sebagaimana juga hasil survey yang dilakukan oleh Global Web Index (GWI) terbaru yang menyatakan adanya perilaku yang berbeda dari pengguna situs jejaring sosial dunia. Hampir sepertiga dari penggunanya kini memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan merek yang mereka miliki (seputarindonesia.com). Segala informasi tentang produk biasanya akan di-uploud ke situs jejaring sosial yang mereka punya.

Di negara berkembang seperti di Indonesia, fenomena pemanfaatan media sosial oleh kalangan bisnis sudah tampak. Dimulai dari merek yang dimiliki perusahaan korporat, usaha kecil dan menengah, hingga usaha kelas kaki lima, telah banyak yang mempunyai akun di media sosial, misalnya Twitter dan Facebook.

Kekuatan Viral Marketing
Marilah kita perhatikan ketika ada berita hangat tentang orang-orang sekitar kita maupun orang-orang yang ternama. Bayangkan apa yang akan terjadi? Sudah dipastikan berita itu akan menyebar cepat ke semua orang dari mulut ke mulut yang tahu tentang individu tersebut tanpa ada instruksi. Setiap berita yang disebarkan kepada orang terdekatnya bersifat sukarela.

Representasi filosofi di atas menjadikan ruang bagi sebuah produk untuk melakukan promosi bilamana diperlakukan sama halnya berita hangat yang sedang diperbincangkan. Khususnya di media sosial. Hal tersebut tentu dapat menjadikan jembatan komunikasi dua arah antara produsen dengan konsumen. Dengan konsep ini pula, konsumen akan cepat mengenal produk dan perusahaan.  Dan efek yang timbul lebih lanjut terjadi ketika konsumen ingin tahu lebih banyak tentang produk perusahaan bahkan bisa saja menjadi pengguna.

Jika dilihat dari aspek biaya, cost untuk melakukan promosi akan lebih banyak dipangkas. Di samping itu pula, ketika viral marketing telah berjalan, maka sudah barang tentu fans media sosial yang dikelola akan sendirinya menjadi agen pemasaran bagi produk yang bersangkutan itu. Dapat diartikan bahwa dengan cara inilah anggaran untuk melakukan pemasaran dapat ditekan secara signifikan.

Namun perlu diperhatikan pula bahwa dampak dari beralihnya fungsi media digital saat ini membuat perilaku konsumen berubah. Prinsip media digital yang terbuka, cepat, egaliter, dan bahkan vulgar, telah merasuki cara berpikir konsumen terhadap suatu produk. Artinya, konsumen sekarang makin kritis. Untuk itu dibutuhkan perilaku khusus apabila ingin mempromosikan sebuah produk kepada customer melalui media sosial. Dan tentunya keberanian tingkat tinggi. Mengingat bahwa konsumen sekarang makin kritis, mereka akan menggunakan kanal media digital itu sebagai ruang komplein terhadap produk yang bersangkutan.

Hal ini membuktikan bahwa media sosial tidak hanya dijadikan sebagai alat komunikasi promosi saja untuk menjangkau konsumen, melainkan dimanfaatkan untuk membangun dan memperkuat merek, termasuk citra perusahaan. Maka dari itu, dibutuhkan orang-orang yang expert dalam bidang viral marketing. Bagaimana orang tersebut handal dalam membuat isu-isu penting dan berbobot untuk dapat menarik perhatian yang tentunya positif serta berimbas kepada eksistensi merek tersebut.

Kisah Sukses
Sebagai contoh di Indonesia, es krim Magnum dan kripik Maicih. Sebuah merek kripik pedas asli Bandung. Kedua merek tersebut cerdas dalam mengelola konten media sosialnya. Sehingga para penggemarnya berlomba-lomba mencari informasi terkait tentang merek tersebut. Dari perbincangan lewat dunia maya, berimbas  meluas dan akhirnya menjadi trending topic di media sosial seperti Twitter. Tentu keadaan seperti ini semakin memperkuat merk masing-masing di benak konsumen dan otomatis meningkatkan omzet penjualan di pasaran. Kondisi semacam ini tentu tidak terjadi begitu saja, melainkan dengan perencanaan yang matang serta dengan strategi kampanye yang tepat untuk dapat menciptakan efek baik di mata konsumen.

Begitu juga pengguna sosial media sebagai strategi marketing  yang digunakan oleh merek-merek luar negeri. Seperti halnya cara cerdas memperlakukan media sosial yang dilakukan oleh Lady Gaga. Penyanyi kelahiran New York yang selalu bekostum nyentrik saat konsernya ini, tidak tanggung-tanggung diganjar oleh Majalah Forbes sebagai selebriti paling berpengaruh di dunia baru-baru ini. Dia pun menggusur kedudukan Oprah Winfrey “Sang Ratu Talkshow Dunia” yang sudah didudukinya selama 4 tahun berturut-turut. Rahasianya adalah Gaga cerdik dan memahami sifat khas media sosial baik Facebook maupun Twitter. Keakraban dengan para fansnya pun sangat Ia perhatikan sehingga Gaga menjadi Ratu Media Sosial dengan 10 juta followers Twitter berdampingan dengan 32 juta fans Facebook.

Selain itu juga, kedai kopi internasional sekelas Starbuck. Walaupun kedai kopi ini telah mempunyai website sendiri yang menyajikan berbagai informasi sangat lengkap dan menarik, namun mereka masih ingin menjangkau para konsumennya dan menginformasikan informasi dengan menggunakan media sosial. Karena kecerdasannya menggunakan media sosial, hasil survey menunjukan bahwa Starbuck telah berhasil memikat hati konsumennya melebihi penyanyi pop Lady Gaga sebesar 100 juta penggemar di jejaring sosialnya.**

Published by Kilau Magazine

No comments:

Post a Comment