Wednesday, 11 July 2012

Energi Terbarukan Menggemparkan Dunia

Mau tidak mau seluruh negara harus mencari jalan keluar dari efek menipisnya cadangan minyak dari perut bumi dan mengatasi persoalan lingkungan yang kini semakin memprihatinkan. Hanya ada dua pilihan bagi mereka, bertahan atau mati atas persoalan ini.

Sumber energi tidak terbarukan suatu saat nanti akan segera habis, tidak terkecuali bagi Indonesia yang masih mempunyai sumber energi tidak terbarukan untuk beberapa tahun lagi, khususnya untuk minyak bumi dan batubara. Energi adalah faktor penting bagi pembangunan sehingga keamanan energi merupakan masalah penting untuk mengamankan pembangunan. Kata kuncinya adalah efisiensi energi dan energi terbarukan.

Di samping itu, ketersediaan energi sangat penting peranannya dalam menjamin kelangsungan perekonomian dunia. Terganggunya pasokan energi ke suatu negara tertentu akan segera berdampak pada perekonomian global. Apalagi jika masalah tersebut terjadi di negara industri besar, maju dan berpengaruh. Saat ini, disamping menghadapi efek pemanasan global atau perubahan iklim sebagai akibat dari pemakaian energi fosil atau energi tidak terbarukan, dunia juga serius membahas permasalahan semakin terbatasnya sumber energi tersebut.


Sumber energi terbarukan menjadi topik utama di dunia. Negara-negara maju mulai bersaing menjadi yang terdepan dalam menjaga kualitas lingkungan di negerinya. Berbagai sumber energi terbarukan dilihat, dipelajari, dan dieksploitasi secara serius. Inisiatif stromeinspeisunggesetz adalah istilah yang terkenal dari Jerman dan National Energy Act dan Public Utility Regulatory Policies Act  adalah dua UU dari Amerika Serikat. Kedua negara adidaya ini menjadi acuan bagi negara-negara lain dalam upaya mendorong pertumbuhan pemanfaatan sumber energi terbarukan.

Pada dasarnya konsep energi baru terbarukan sudah diperkenalkan pada tahun 1970-an. Energi baru terbarukan adalah energi yang dihasilkan dari sumber alam seperti angin, matahari, panas bumi, biomassa maupun air yang dihasilkan dari sumber energi alamiah dan tidak akan habis jika dikelola dengan baik. Saat ini berdasarkan data dari REN 21 menunjukan baik Eropa maupun Asia berlomba-lomba menanamkan investasi untuk energi terbarukan dan saat ini jumlah pengembangan energi terbarukan didominasi oleh China.

Apalagi PBB melalui Ban Ki-mon Sekertaris Jendral PBB, menetapkan tahun ini sebagai tahun internasional energi terbarukan untuk semua negara. Targetnya pada 2030, semua orang di dunia sudah menggunakan energi dari sumber-sumber terbarukan. Penetepan target ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mengoptimalkan akses terhadap energi berkelanjutan, efisiensi energi, serta penggunaan energi terbarukan. Isu energi berkelanjutan ini kian mengemuka di ranah global, terlebih lagi dengan menculnya kemrosotan ekonomi dan masalah perubahan iklim.

Energi berkelanjutan sendiri didefinisikan sebagai pemanfaataan sumber-sumber energi yang mampu memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengesampingkan kebutuhan generasi mendatang. Saat ini, sebagian besar suplai energi didapat dari sumber energi fosil yang tidak berkelanjutan. Pemanfaatan energi berkelanjutan sudah selayaknya menjadi alternatif yang lazim dipertimbangkan bagi Indonesia.

Berlomba-Lomba Menjadi Nomor Wahid
Lihatlah China saat ini negara yang berjuluk Tirai Bambu menjadi negara pengembang energi angin yang terdepan di negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Itali, India, dan Jepang. Dengan memanfaatkan energi angin yang tersedia, China mampu menghasilkan listrik sekitar 18.000MW dengan 24 turbin angin. Setiap turbin angin diperkirakan menghasilkan energi listrik sebesar 2 MW. Hal itu menandakan negeri yang berpenduduk 1.298.847.624 jiwa menaruh perhatian besar dalam pengembangan energi terbarukan. Bahkan, pembangunan turbin-turbin energi angin meningkat jumlahnya di daratan negeri itu. Dari data diketahui bahwa 25 persen bantuan pemerintah digunakan untuk pembangunan turbin tenaga angin berkapasitas 197 GW.

Cina memiliki tujuan untuk mencapai 100 GW pada tahun 2015 dan memenuhi seluruh kebutuhan energi mereka dengan energi angin saja pada tahun 2030. China memiliki banyak rencana untuk meningkatkan produksi energi anginnya. Salah satu alasan utama China berinvestasi pada ladang angin adalah karena struktur geografis, ketersediaan tenaga kerja, dan juga kebutuhan energi China yang sangat besar. Garis pantai China sangat panjang, karenanya China menghasilkan banyak energi dari angin. China juga berinvestasi pada turbin kecil, yang dipasang di gedung-gedung tinggi dan tiang lampu.

Berbeda dengan Skotlandia, negara pengguna quilt ini menjadi jawara dunia dalam pengembangan energi arus laut. Sekitar tahun 2011 pemerintah Skotlandia menyetujui proposal Scottish Power Renewables untuk membangun pembangkit listrik tenaga arus laut di sekitar Caol Ila atau Sound of Islay. Perusahaan yang masih merupakan bagian dari Iberdrola Renovables perusahaan yang sudah berkecimpung dalam bidang pembangkitan listrik energi terbarukan, khususnya di perairan laut direncanakan akan membangun pembangkit listrik dengan kapasitas terpasang 10 MW dan cukup untuk melistrik 5.000 rumah di sekitarnya.
Negara-negara maju seperti Jepang dan Korea, saat ini juga mulai beralih memanfaatkan energi yang bersumber dari laut untuk mencukupi kebutuhan energi mereka. Jepang sendiri tengah melakukan uji coba pemanfaatan sumber energi laut untuk Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL).

Untuk energi surya, Jerman saat ini menjadi penghasil tenaga matahari nomor wahid di dunia. Pasalnya negara itu berhasil membukukan rekor produksi listrik 27 gigawatt (GW) dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Kapasitas itu setara dengan 20 pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Padahal intensitas cahaya matahari yang diterimanya tidak seperti di Indonesia. Menurut Soedjono Respati Dewan Ahli dari Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), mengungkapakan bahwa di bulan Mei lalu Jerman merayakan total potensi energi surya yang didapatkannya.
“Jerman di bulan Mei tahun ini merayakan intensitas pencahayan sinar matahari yang bagus, seluruh energi surya yang ada di sana menghasilkan energi yang sangat luar biasa. Di samping itu Jerman ingin menunjukan bahwa dengan energi matahari merupakan salah satu solusi”, jelasnya.

Sementara berbicara energi panas bumi, saat ini masih dipegang oleh Amerika Serikat dengan kapasitas terinstal sekitar 2544 MW. Sementara Indonesia masuk di jajaran tiga besar dengan jumlah 1196 MW. Dan Selandia Baru memegang peranan penting di tingkat teknologi serta pengembangan. Selandia Baru mempunyai kapasitas panas bumi sekarang sekitar 750 MW dan akan segera mencapai 1.000 MW.

Kemudian China memimpin kembali untuk kapasitas hydropower yang terpasang, diperkirakan 25 GW akan ada kapasitas baru yang terpasang di tahun 2011. Jika ini terjadi maka peningkatkan kapasitas terpasang dunia hampir 2,7% atau sekitar 970 GW. Asia adalah wilayah paling aktif untuk proyek-proyek baru.  Selain China negara-negara lain disusul oleh Brazil, Amerika Serikat, Kanada, serta Rusia.

 
Dari sisi biomassa, saat ini menurut data dari REN21 menunjukan bahwa Amerika Serikat menduduki posisi teratas yang kemudian disusul oleh Brazil, Jerman, China, dan Swedia. Di Amerika Serikat hampir 90% biomassa berasal dari kayu sebagai bahan bakar. Teknologi konversi energi dalam bahan bakar kayu sudah banyak dikembangkan dan diterapkan secara ekonomis, baik dalam skala kecil (kapasitas yang cukup untuk kebutuhan listrik untuk suatu perkebunan) maupun ukuran sedang yang menghasilkan listrik untuk dijual dan dimasukan dalam jaringan (grid). Pembangkit uap/boiler maupun pembangkit listrik/turbin tersedia dalam berbagai ukuran ataupun kapasitas dan mampu sebagai teknologi bersih. Saat ini negara-negara maju sedang mengembangkan teknologi konversi biomassa yang lebih baru dan efisien.

Untuk bioethanol dan biodiesel, saat ini menurut data dari REN21 menunjukan bahwa Amerika Serikat masih menduduki posisi tertinggi sebagai negara yang memproduksikan biofuel dengan total 57,4 milyar liter. Kemudian di bawahnya di antara lain Brazil (bioethanol dan biodiesel), Jerman (biodiesel), Argentina (biodiesel), China (bioethanol),  Kanada (bioethanol), dan Prancis (biodiesel dan bioethanol). Dalam pengembangannya Amerika Serikat masih nomor wahid dan mampu membuat bahan bakar untuk pesawat terbang melalui biofuelnya.

Published by Teknopreneur Magazine

No comments:

Post a Comment