Enam bulan lagi aku akan menghadapi UANAS di bangku SMP, SMP Negeri 14 Kota Tegal sekolahku. Tahun berganti tahun, tak terasa sudah kelas 3 SMP. Padahal, perasaanku mengatakan baru kemaren aku kelas 1 SMP. Yahhh... begitulah waktu berputar dengan cepat.
Malam itu, aku mau bermain dengan temanku, Dias (Sipe) namanya. Dia anak SMP Negeri 1 Kota Tegal. Biasalah anak umur segitu masih sering pergi maen, dan gak ada bedanya dengan sekarang. Hehehe... ngomong-ngmong soal UANAS, dulu aku gak peduli, tetap aja maen, dan megang buku aja gak pernah.
Aku: “Yas... Yas... Yas...?”
Dias: “Apa, Zan?”
Aku: “Maen yuk?”
Dias: “Tunggu bentar, nunggu ibuku nonton sinetron dulu”
Aku: “Apa hubungannya sinetron sama maen?” (sambil mengerutkan dahiku)
Dias: “Kayak gak tahu aja, kalo aku kepergok mau maen, ya gak bolehlah!” (Tegas dia)
Aku: “Ow... terus apa hubungannya?” (tetep gak ngerti)
Dias: “Biar ibuku lagi asyik-asyiknya nonton sinetron, trus aku keluar rumah...(badung banget yak) pokoknya kamu tunggu di depan masjid”
Aku: Oke!
Setelah 10 menit, akhirnya keluarlah dia dari kandangnya dengan memakai sepeda warna silver dan akhirnya kita pergi maen. Hanya ada satu tujuan saat itu, ke rumah teman kami di Mejasem. Di rumah teman kami itulah basecampnya, karena tuan rumahnya anak SMP 1, jadi hanya aku anak yang bukan satu sekolah dengan mereka. Yang namanya maen, pasti lama. Saat itu jam dinding sudah menunjukan pukul 23.15 WIB, sudah saatnya mengakhiri canda tawa dan giliran aku yang mengayuh sepeda.
Karena sudah malam, aku kayuh sepeda silver itu dengan penuh kekuatan. Entah kenapa malam itu, perasaan bergejolak tak enak pun datang. Saat aku belok kiri dengan kecepatan penuh, layaknya Valentino Rosi adu kecepatan di tikungan pertama dengan Lorenzo. Tiba-tiba saja, sepeda yang kukendarai terjatuh, Braakkkk!.
Yang kulihat di sekilingku cuma kerikil dan sepeda yang terjatuh pas di pergelangan kakiku. Dengan perlahan aku bangun, tapi tak kusangka kakiku merasa ada yang aneh, ya sakit, sakit sekali yang kurasa dan aku terjatuh lagi.
Dengan seketika, Dias membantuku dan segera memanggil becak untuk membawaku pulang. Rasa sakit itu semakin menggerogoti kakiku, sedikit bergerak pun sakit. Setelah sampai rumah, ayahku melihat keadaanku yang sedang merintih kesakitan, beliau pun langsung membawaku pergi ke rumah sakit. Singkat cerita, aku langsung dimasukan ke ruang rontgen, setelah dijepret pake sinar X. Keliatan hasilnya, ternyata di atas pergelangan kakiku, retak. Dan aku harus gips (yang balutannya putih itu, kayak disemen putih lah).
No comments:
Post a Comment