Jam sudah menunjukan arah 13.30 WIB, bel sekolah pun berbunyi, tanda mengakhiri kegiatan belajar mengajar di SMA Negeri 2 Tegal, hari itu. Matematika lah mata pelajaran terakhir di kelasku. Kala itu aku masih kelas 1 SMA, tepatnya kelas 1.2.
Pak Slamet: “Ok, anak-anak. Karena bel sudah berbunyi kita sudahi dulu mata pelajaran ini. Bagi yang mau beli LKS, uangnya bisa dikumpulkan dulu di bendahara kelas.”
Murid-murid: “Baik, Pak”
Pak Slamet: “Selamat siang, anak-anak”
Murid-murid: “Selamat siang, Pak”
Akhirnya, selesai sudah mata pelajaran yang paling gak kusenangi. Satu setengah jam dengan matematika sudah berlalu.
Seperti biasanya, aku dan dua temanku, Fadli dan Ijun nongkrong di poskamling sambil menunggu kedatangan mobil jemputan bernomor polisi warna kuning. Satu lagi SMS-an, yang satunya bengong, dan aku hanya menikmati asap rokok yang kuhisap, itulah kegiatan lain dari menunggu mobil tersebut. Sudah hampir 1 jam kami menunggu, belum datang juga.
Fadli: “Ah, iya ah... tumben lama bener Om nya”
Ijun: “Om siapa, Jos (panggilan lain Fadli)? Dijemput Om mu, ya?”
Fadli: “Iya, Om. Om supir angkot. Hehehe...”
Aku: “hahahahahaahaha...” (ketawaku sampai batuk, gara-gara asap rokok yang kuhisap)
Ijun: “hehehe..” (ketawa dengan didukung mata sipitnya, karena memang dia orang chinese. hehehehe...).
Tiba-tiba saja, ada seorang anak cewek memakai seragam SMA dan bersepeda motor memanggil aku dari kejauhan. Lalu aku menemuinya.
Aku: “Eh... Iin. Kenapa? Tumben kemari?”
Iin: “Iya, aku mau jemput Aan”
Iin ini adalah saudara kembar dari Aan, Iin sekolah di SMA negeri 4 dan Aan satu sekolah bersamaku. Mereka juga satu kampung denganku.
Aku: “yah... udah dari tadi dia pulang, kelamaan sih kamu”
Selang beberapa menit kami ngobrol-ngobrol, datanglah kedua temenku itu menghampiri aku. Tiba-tiba saja, Fadli memutus obrolan kami dengan pedenya.
Fadli: “An, jangan mau boncengin Ozan, mendingan boncengin aku” (Ungkap dia dengan pedenya).
Aku: “Yeee.. kamu pikir dia siapa sih? Dia Iin, saudara kembarnya Aan! Sok tahu!hahahahahahaha....” (sambil tertawa melihat mukanya yang memerah malu).
Iin yang gak tahu cuman bengong dan senyum doank.
No comments:
Post a Comment