Kali ini, aku sudah kembali ke rumah. Hanya tidur dan makan yang aku lakukan saat kaki kiriku tak berdaya. Bosan rasanya, karena terbiasa dengan aktivitas pergi main dan sekarang hanya berkutat di kamar tidur. Selang beberapa hari, banyak teman-temanku yang berkunjung menjengukku. Ini adalah hiburan yang bisa kurasakan serta sejenak menghilangkan rasa stres. Canda tawa pun menghiasi gubukku yang ramai dikunjungi teman. Moment ini aku luangkan untuk menandatangani gips yang menempel pada kaki kiriku.
Aku: “Mumpung lagi rame, aku pengen kalian tanda tangani gips ku ini” (sambil tersenyum)
Teman-teman: “Keren!” (serentak, kayak mau perang aja.hehehe)
Satu per satu, tanda tangan mereka melekat di gipsku.
Aku: “Ini baru keren!” (ungkapku sambil tertawa kecil)
Karena sudah malam, mereka pun satu per satu pulang. Dan kini aku sendiri lagi. Rasa bosan datang lagi. Tapi, tiba-tiba suara ketokan pintu berbunyi, dalam hatiku berkata siapa lagi yang datang. Dibukakan lah pintu oleh ibuku, dan ternyata teman dekatku Dias. Lalu, ibuku memanggilku.
Dias: “Zan, gimana udah mendingan?”
Aku: “lumayan Yas, gimana kamu ada luka?”
Dias: “Cuma lecet-lecet”
Aku: “Oh.. syukur deh. Baru aja teman-teman pada maen dan mereka tanda tangan di gipsku”
Dias: “Wah... aku ikutan tanda tangan juga donk”
Aku: “Oke deh..”
Karena Dias itu, teman sekampungku maka dia pulang agak larut malam. Saat itu, masih liburan panjang.
Hari pertama masuk sekolah pun tlah tiba, rasa malu dengan keadaan ini juga menderaku. Dengan dukungan kedua orang tua ku, akhirnya aku memberanikan diri untuk berangkat sekolah. Kelasku di lantai dua, ini yang membuatku olah raga pagi-pagi saat berangkat sekolah. Tiap anak tangga aku naiki dengan bantuan kaki kanan dan ayahku sebagai penopangnya. 2,5 bulan aku lakuin hal tersebut kala mau ke kelas.
Di sisi lain, Triswanto, Reksa Adi Sanjaya, Dwi Indra, dan Yulianto adalah teman-temanku yang selalu setia membantu saat menuruni tangga untuk ke toilet ataupun pulang. Mereka sangat baik sekali, 2,5 bulan juga mereka membantuku, menunggu ayahku untuk menjemput yang biasanya telat 1 jam. Hehehe... Bagi teman-teman kelasku yang baik, aku ucapkan terima kasih. Di mana pun kalian berada sekarang, aku selalu mendoakan kalian.
Karena kerjaanku di rumah hanya makan, tidur,dan sekolah, akhirnya aku mencoba belajar dengan giat untuk menghadapi UANAS. Soal demi soal yang biasanya aku udah give up buat pelajari, saat itu entah kenapa rasanya aku bisa menelannya.
Dua bulan sebelum ujian nasional tiba, gips yang melekat pada kaki kiriku akhirnya dilepas juga. Rasa senang akan bisa berjalan lagi, tumbuh berkembang. Terapi demi terapi aku lakukan, al hasil aku sudah bisa berjalan lagi tanpa penyangga besi yang selalu aku bawa setiap kemana pun aku pergi. Waktu itu, karena rasa senang bisa berjalan lagi, aku nekad jalan kaki bareng teman-teman kampungku untuk melihat parade band. Jarak tempat acara itu dari rumahku mungkin ada 1,5 kilometer. Pulang-pulang setelah menonton acara parade band tersebut, langsung aku dimarahain oleh ibuku.
Ibu: “Udah tahu baru sembuh, pergi main lagi!” (hardik ibuku)
Aku hanya terdiam mendengar omelan ibuku.
Saat UANAS pun tiba, persiapan yang sudah matang waktu kakiku di gips membantuku juga dalam proses belajar. Jadi gak terlalu ngoyo saat UANAS datang. Satu bulan pasca UANAS, akhirnya pengumanan kelululasan pun di laporkan. Rasa dag-dig-dug pun mulai menyelimuti aku. Masalahnya waktu itu udah di tetapkan batas minimal nilai untuk kelulusan, kalo gak salah batas nilai minimal lulus itu, 3,00. Selesainya orang tua temenku mengambil surat kelulusan, giliran namaku yang dipanggil oleh wali kelas.
Wali Kelas: “Fauzan Jamaludin?”
Ayahku: “Ya”
Entah saat itu apa yang dibicarakan lagi antara orang tuaku dan wali kelasku. Usai sedikit obrolan yang gak tahu bahas apaan, akhirnya ayahku keluar dari ruang kelas dan tiba-tiba memeluku.
Ayah: “Alhamdulillah... kamu lulus,nak.”
Ucapan ayahku itu, sungguh membuatku riang gembira dan saat itu juga kami pulang untuk mengabarkan pada ibuku.
Pengalamanku ini, aku bisa petik hikmahnya. Mungkin kalo gak ada kejadian kecelakaan itu yang udah bikin retak kakiku, aku gak bakal lulus kali. Terima kasih ya Allah, ternyata di balik rasa sakit itu ada tujuan tertentu.
No comments:
Post a Comment