“Kapan ke jogja lagi?”, itulah sebuah kalimat tertera di sudut kanan tempat dokumen seseorang yang kulihat di hari Minggu (05/12) baru-baru ini, tepat di sayap barat Gedung Graha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada (UGM). Dulu, bolak-balik ke Solo-Jogja adalah hal yang terkadang dilakukan bersama kawan-kawan ketika masih berstatus mahasiswa.
Bebeda sekali atmosfir yang saya rasakan saat dulu dan sekarang. Seperti pepatah yang mengatakan, lain dulu lain sekarang. Kerinduan tentang suasana Kota Gudeg itu telah tertahan mentok sampai ujung hati. Bukan bermaksud lebay namun benar terasa.
Sekitar pukul 23.00 WIB (03/12) saya sampai. Sejauh mata memandang dari dalam kaca mobil untaian lampu yang tersusun apik berbentuk wayang dan bertuliskan “Jogja” dengan ciri khas tipografinya, menyambut kedatangan semua tamu baik domestik maupun mancanegara untuk bersiap merasakan kearifan lokal kota itu. Luar biasa indah sekali.
Terminal Jombor menjadi tempat saya harus turun dan bergegas menghubungi saudara dan kawan yang telah lebih dahulu di Jogja. Saat di perjalanan, memang banyak sekali saudara dan kawan yang dihubungi, bermaksud siapa yang bisa menjemput dan bersedia tempatnya untuk menjadi tempat bermalam beberapa hari ke depan. Merepotkan sekali saya ini.
Keesokan harinya, saya pun segera melakukan aktivitas yang menjadi tujuan datang ke Jogja. Dengan dimodalkan pinjaman sepeda motor oleh saudara, meluncurlah ke tempat yang dituju. Selama di jalan menuju ke sana, banyak sekali baliho yang menginformasikan sebuah acara tahunan. Ternyata kota ini sedang menggelar Sekaten. Tepat sekali saya datang.
Menurut saya, acara Sekaten ini adalah salah satu bentuk kearifan lokal kota Jogja. Sebab, eksplorasi terhadap kekayaan luhur budaya bangsa tersebut sangat perlu dilakukan sebagai indikator eksistensi budaya dan ciri khas daerah tersebut. Local Wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya (Sartini, 2004:111). Di sisi lain, hal itu dapat menjadi alat untuk menyedot animo para wisatawan untuk berkunjung ke kota itu.
Maka dari itu, niat sudah dikantongi ketika urusan usai, akan mengunjungi acara itu. Tapi apa daya, acara itu belum bisa saya kunjungi. Karena urusan belum rampung sepenuhnya dan ternyata hari itu adalah hari terakhir acara tersebut. Ya sudahlah. Waktu saya untuk di Kota Pelajar pun juga telah habis. Mau tidak mau, saya harus pulang. Melanjutkan hal lain yang akan dikerjakan ketika pulang. Lantas, kapan akan ke Jogja lagi? Saya tidak tahu. Yang jelas, kapan-kapan saya ingin ke sana lagi.**
No comments:
Post a Comment