Friday, 11 January 2013
Energi Terbarukan Kian Didambakan
Keriuhan negara-negara maju maupun berkembang serta banyaknya riset yang dilakukan oleh para ahli mengenai energi terbarukan semakin menggeliat. Tak pelak ini bakal menjadi momentum tumbuhnya bisnis energi di sektor energi terbarukan. Walaupun demikian, tidak serta merta pertumbuhan dalam bisnis sektor energi terbarukan meroket begitu saja. Sebagai energi yang terbilang “masih muda”, sudah tentu membutuhkan proses untuk menjadi idola di masa depan.
Prosentase ketergantungan penggunaan minyak bumi di dunia memang masih mendominasi. Jika menilik fakta yang menyebutkan bahwa 1 triliun barel minyak dan gas dihabiskan pertama kali dalam waktu 140 tahun, tapi untuk 1 triliun selanjutnya hanya menghabiskan 30 tahun, lantas bagaimana bila analisis yang dikemukakan oleh The Institute Analysis of Global Security (IAGS) tepat? Mungkin secara dini energi terbarukan mesti dikembangkan.
Berdasarkan catatan dari IAGS tersebut, konsumsi minyak dunia akan meningkat sekitar 60%. Transportasi akan menjadi sektor konsumen minyak paling cepat berkembang. Pada tahun 2025, jumlah mobil akan meningkat menjadi lebih dari 1,25 miliar dari sekitar 700 juta saat ini. Artinya konsumsi global minyak bumi diproyeksikan semakin melambung. Hal inilah yang menjadikan energi terbarukan kian didambakan di berbagai penjuru dunia.
Bertolak dari itu, terlihat di tahun lalu, menurut data dari Bloomberg New Energy Finance, investasi global dalam energi yang terbarukan dan bahan bakar meningkat 17% atau USD257 miliar pada tahun 2011, sementara di tahun sebelumnya USD219 miliar. Di samping itu, negara berkembang mempunyai 35% dari total investasi, dibandingkan dengan 65% untuk negara maju.
Sebagai contoh pertumbuhan investasi tenaga surya di Amerika yang kini mulai menjamur. Menurut laporan terbaru dari Asosiasi Industri Energi Matahari atau dikenal dengan SEIA, pasar photovoltaik energi surya di AS sudah terinstal sekitar 1.992MW di kuartal ketiga tahun ini. Artinya sudah melebihi dari jumlah di 2011 sekitar 1.885MW.
Secara kumulatif, sekarang ada 5,9 GW PV, yang mengubah sinar matahari langsung menjadi listrik, yang beroperasi di AS dari lebih dari 271.000 instalasi. Tidak hanya itu saja, tenaga surya yang sudah terinstal tersebut lalu dikombinasikan dengan Concentrated Solar Power (CSP) atau tenaga surya terkonsentrasi, yang mengubah panas matahari untuk listrik, ada lebih dari 6,4 GW kapasitas terpasang listrik tenaga surya di AS, cukup untuk kekuatan lebih dari satu juta rumah tangga di Amerika Serikat. SEIA pun berharap total pertumbuhan di 2012 mampu di atas 70 persen atau ada penambahan 3,2 GW. Jika itu terjadi, cukup untuk kekuatan lebih dari setengah juta rumah di AS.
Bagaimana dengan teknologinya? Teknologi akan terus menyesuaikan perkembangan bisnis dari energi terbarukan. Saat ini sudah banyak penelitian yang dilakukan oleh pihak luar baik terkait nilai keekonomiannya, keberlanjutannya, maupun implementasinya. Lihat saja penelitian tentang bahan baku biofuel yang terus dilakukan oleh para periset handal. Walaupun penelitian ini masih dalam skala laboratorium, tapi tidak mustahil jika itu menjadi besar.
Seperti halnya, peneliti Amerika Serikat berhasil mengubah lumut menjadi minyak mentah dengan cara menumbuhkan lumut dalam tabung kaca. Kemudian dipanaskan pada suhu yang tinggi. Lewat cara ini hanya memerlukan waktu kurang dari 60 detik untuk menguraikan semua komponen lumut . Sebuah cara yang berbeda dan tidak memerlukan waktu yang lama. Sebab biasanya perusahaan yang mengembangkan lumut untuk dijadikan biofuel melakukan dengan cara yang berbeda dan mungkin waktu yang dibutuhkan lama.
Prediksi di Indonesia
Di Indonesia sendiri, seperti yang diketahui bahwa energi terbarukan masuk dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Dalam hal ini berarti investasi dalam rangka pengembangan energi terbarukan di Indonesia pun menjadi point bagi tercapainya MP3EI. Maka dari itu, pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi untuk mengembangkan energi baru terbarukan di Indonesia mencapai Rp134,6 triliun hingga 15 tahun ke depan.
Kendatipun seperti itu, bisnis energi terbarukan di Indonesia masih terbilang sepi walaupun iklim energi terbarukan sudah lama dirasakan kebutuhannya dalam bauran energi nasional. Tapi setelah terbitnya feed in tariff yang baru, diharapkan dapat memacu perkembangan di sektor energi terbarukan. Seperti halnya feed in tariff untuk panas bumi, di Sumatera akan diberlakukan 10 sen dolar Amerika per KwH, di Sulawesi Tengah 12 sen dolar Amerika per KwH, Sulawesi Utara 13 sen dolar Amerika, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur sebesar 14 sen dolar Amerika per KwH. Untuk Indonesia Timur lebih tinggi lagi mencapai 18 sen dolar Amerika per KwH. Selain panas bumi, pemerintah sedang mencanangkan feed in tariff untuk sumber energi terbarukan yang lain.
Selain itu pula, dikabarkan bahwa perusahaan sekelas First Solar telah bekerjasama dengan PT Pembangkitan Jawa Bali Services (PJB Services) untuk membangun power plant tenaga surya berkapsitas 100MW. Sayangnya, tidak disebutkan di wilayah mana mereka akan membangun tenaga surya itu. Walaupun demikian, setidaknya dengan pencanangan feed in tariff terbaru dan investor masuk, memungkinkan bisnis ini akan tumbuh dan berkembang. Dan tentunya harapan baru di 2013, energi terbarukan bisa berkembang di negeri ini.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment