Sunday, 13 January 2013

Pencarian Startegi Marketing yang Mujarab

Dalam bisnis manapun marketing selalu dibutuhkan baik bisnis skala kecil ataupun besar. Tidak menepis kebenaran bahwa marketing memang menjadi tulang punggung untuk sebuah usaha. Tak terkecuali bagi teknopreneur.

Solusi produk yang bagus, belum ada pesaing, dan dapat mengakomodir kebutuhan dari pasar itu memang dambaan usaha bagi semua orang. Seperti pada umumnya, rencana bisnis kerapkali merinci hal-hal yang ingin dicapai oleh seorang teknopreneur. Tapi jangan pernah melupakan bagaimana strategi marketing yang akan dibangun. Ketelitian melihat kondisi pasar yang dituju merupakan salah satu point tersebut atau pun ingin menciptakan demand melalui produk yang disajikan.


Jika melihat kondisi saat ini, tidak bisa dipungkiri baik di Indonesia atau dunia bisnis ICT sedang berkembang. Tak pelak, pertumbuhan dari bisnis ICT pun melonjak. Para produsen berlomba-lomba untuk menjadi “pemenang” dalam hal merebut hati calon konsumen mereka. Berbagai macam strategi dalam pemasaran pun direncanakan sedetail mungkin. Mulai dari riset pasar hingga melakukan promosi.

Melihat dari masih banyaknya peluang yang bisa digarap, saat ini banyak bermunculan perusahaan startup yang ingin berprestasi juga. Tak ragu pun mereka berhadapan dengan “kakak tingkatnya” yang sudah berpengalaman. Terkadang justru perusahaan yang “berdarah segar” alias startup yang memperlihatkan keunggulannya dengan mendapatkan awards atau pendanaan dari venture capital. Ini juga bisa menjadikan brand building bagi perusahaan dan produk mereka.

Namun, kalangan startup digital Indonesia seringkali menemui persoalan, salah satunya adalah membangun produk. Berdasarkan data yang diperoleh, sebagian besar dari pendiri startup Indonesia sangat ragu untuk membangun produk karena banyaknya pertimbangan. Padahal, apabila gagasan telah diolah serta bisnis telah disusun, sepenuhnya startup mulai bisa membangun produk.

Begitu juga seperti yang diungkapkan oleh Pakar Marketing, Hermawan Kartajaya, dia menilai bahwa para startup harus mandiri dan bekerja keras dan tentunya wajib melakukan diferensiasi produk.

“Carilah diferensiasinya, jangan asal masuk digital. Digital itu juga marketing, marketing itu positioning, differentiation, branding (PDB). Dan harus mencari apa yang dibutuhkan oleh konsumen,” ujarnya.

Dia pun menambahkan bahwa dalam dunia digital yang seperti ini kompetisi akan terus berlangsung dan bahkan semakin banyaknya kompetitor yang akan bermunculan. Tapi menurutnya jika startup bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri itu akan lebih bagus.

“Alangkah bagusnya jika para startup bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Mungkin bisa seperti kaskus ataupun detik.com. Perlu diketahui juga ada 240 juta market yang berada di Indonesia. Jadi peluang untuk berbisnis pun terbuka lebar. Tapi perlu juga diingat, tanpa kreativitas pasar besar itu tidak jadi apa-apa. Karena kreativitas merupakan pembeda bagi yang lain,” terang pria kelahiran Surabaya.

Mencari Startegi yang Mujarab
Menurut Founder sekaligus CEO PT Sribu Digital Kreatif atau dikenal dengan sribu.com, Ryan Gondokusumo mengatakan bahwa cara dalam melakukan marketing di setiap usaha itu memang berbeda-beda, tapi sebaiknya harus mencoba semua cara baik secara tradisional atau modern.

“Jika dengan cara itu tidak berhasil, harus segera berpindah cara lain. Jadi tidak ada tiba-tiba ketika kita baru membangun bisnis, strategi marketing yang kita lakukan sudah tepat. Sudah pasti kita harus meraba-raba strategi apa yang harus dijalankan sesuai dengan bisnis yang dilakukan,” jelasnya.

Sebagai perusahaan yang startup juga, Marketing &Public Relation Nightspade, Hasna Tsaniya R, mengatakan di perusahaan game developer yang digawanginya pun masih meraba-raba bagaimana startegi marketing yang ideal.

“Sampai saat ini kita masih meraba-raba kalau dari sisi strategi marketing yang akan digunakan, jadi bisa dibilang belum ideal. Untuk game sebelumnya kami memang tidak melakukan usaha marketing sama sekali, cukup hanya kami publikasikan di social media,” ungkapnya.

Untuk menjalankan strategi marketing yang telah direncanakan, memang tidak jauh dari kata budget yang harus dikeluarkan. Pengalaman tersebut kembali dituturkan oleh Hasna, dia berpendapat bahwa biaya memang menjadi “tokoh utama” dalam eksekusi strategi marketing.

“Kendalanya sih lebih ke budget. Biaya marketing biasanya 10 kali lipat dari biaya development game itu sendiri. Untuk melakukan cross-promotion, media publication, hiring public relation company contohnya memerlukan dana sekitar USD10000 untuk publikasi press release, social media promotion, game review sites, dan blog selama 6 pekan. Karena hanya dengan membuat game yang bagus saja tetapi tidak ada usaha marketingnya juga sama saja, game tersebut akan tenggelam di ribuan aplikasi lainnya,” jelasnya.

Dia pun mengatakan solusi untuk keluar dari kesulitan itu adalah bekerjasama dengan publisher.
“Bekerjasama dengan publisher, itu solusinya. Mereka nanti yang akan mengatur marketingnya. Tentunya nanti ada skema profit sharing, namun itu adalah hal yang sesuai / pantas mengingat biaya marketing itu sangat besar,” tegasnya.

Namun yang perlu diwaspadai oleh startup, menurut Ryan, di tengah jalan terkadang dari mereka ketika sudah meyakini sebuah konsep dan strategi marketing yang akan dilakukannya berhasil dan kemudian tidak membuahkan hasil, rata-rata mental dari mereka menurun.

“Kebanyakan dari para startup yang saya lihat, ketika gagal dalam melakukan strategi marketing, mereka down,” terangnya.

Maka dari itu sudah sepantasnya jika siap menjadi teknopreneur, siap juga dengan berbagai tantangan yang akan terus datang. Dan tentunya terus berinovasi demi kelangsungan hidup perusahaan.


No comments:

Post a Comment