Thursday, 10 January 2013

Semangat Itu Datang dari Mimpi


“Mudah-mudahan bisa tercapai”//”Ahhh.. mana mungkin”. Pernyataan satu tahun lalu dari beberapa kawan dan saudara saat saya masih bekerja serabutan. Hal biasa dalam kehidupan pasti ada pro dan kontra ketika beberapa mimpi yang ingin dicapai. Bagi saya ini adalah tantangan, tantangan ketika mimpi itu ditantang untuk diwujudkan. Pernyataan pro dan kontra mimpi itu, saya kemas menjadi satu. Menjadi sebuah semangat yang selalu memacu saya untuk mereguk mimpi-mimpi itu.

Setahun lamanya, saya mencoba dan terus mencoba mengikuti passion yang dimiliki. Munafik jika tidak pernah merasakan kegagalan, mungkin kesombongan yang akan datang ketika kegagalan tak pernah mampir dalam hidup seseorang. Lantas bagaimana dengan saya? Saya pun merasakannya. Kegagalan itu bukan hanya beberapa, melainkan kerap menikmati kegagalan. Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak.


Lalu menyerah dan frustasi? Sempat juga dihantui rasa itu. Mau bunuh diri? Untungnya tidak terbesit pikiran semacam itu secuilpun. Saya pun tak mau terjerat dalam situasi yang tak mengenakan terus menerus. Kekhawatiran yang nantinya meredupkan mimpi yang sedang dibangun. “Lekas bangun dan hadapi tantangan itu, bukan malah menjadi pecundang”, hanya kata itu yang terpatri dalam pikiran saya. Sebuah keinginan yang simpel bekerja di sebuah industri komunikasi, baik media massa maupun advertising agency. Pas bulan ke 12 di mana masa “expired” itu sudah mendekat, “bau” sarjana baru sudah mulai menguap, tinggal cercaan yang mungkin dalam benak saya akan saya dapatkan. Saya pasrah.

Akhirnya, mukjizat itu datang. Buah kesabaran, doa, dan usaha yang telah dilakukan. Mimpi itu semakin mendekat, kesempatan untuk belajar menjadi professional di depan mata. Tak lupa bibir ini mengucap “Alhamdulillah” dan hati ini penuh rasa syukur.  Sekiranya tidak berlebihan jika saya mengatakan seperti sinetron Si Doel Anak Sekolahan, menunggu lama untuk mendapatkan pekerjaan sesuai gairah. Majalah Teknopreneur, mempersilakan saya untuk bergabung menjadi Editorial Tim. Sebuah majalah yang membahas seputar bisnis teknologi. Tempat “sekolah” yang baru, menggali ilmu, mencoba menginspirasi orang lewat tulisan.

April 2012, saya datang ke Ibu Kota. Saya bukan orang yang pandai, cerdas, bahkan brilian. Saya datang untuk belajar, untuk berguru, demi cita-cita, dan demi masa depan. Semangat adalah nyawa kedua yang saya bawa sampai saat ini. Mungkin saking cintanya kepada semangat ini, saya akan marah pada diri sendiri ketika seseorang ingin mematahkan semangat ini. Itulah cobaan. Namun, saya berterima kasih kepada mimpi atas semangat ini. Saya masih punya mimpi-mimpi lain dan akan selalu dicoba seperti setahun yang lalu.

Jakarta, 3 Januari 2013/01.06WIB

No comments:

Post a Comment