Tuesday, 18 March 2014

Keinginan Itu Hanya Sekadar Maket

Entah kabar buruk atau kabar gembira bagi Anda. Namun, berita ini bagi saya cukup tidak mengenakan. Baru-baru ini Knight Frank – sebuah lembaga konsultan dan riset properti dunia – merilis perkembangan harga rumah dalam The Global House Price Index 2013. Dalam laporannya itu, negeri tercinta ini menduduki nomor tujuh dari 56 negara. Bagaimana menurut Anda? Pantas saja banyak orang yang berbondong-bondong berinvestasi di ranah properti.  Menurut data yang dirilisnya itu, merangkak naiknya harga rumah Indonesia mencapai 11,5 persen sepanjang tahun lalu.

"Tahun 2013 bagi pasar negara berkembang memang sedang mengalami kesulitan namun nampaknya mereka lolos dari masa sulit itu dan berhasil membuat rekor kenaikan harga rumah yang kuat. Turki, Brasil, Indonesia dan Kolombia berada di 10 teratas pertumbuhan harga rumah tahunan, masing-masing pasarnya mencatatkan angka pertumbuhan dua digit," ujar siaran resmi dari survei tersebut seperti dikutip dari worldpropertychannel.

Sementara Dubai menjadi kawasan yang harga rumahnya paling tinggi di dunia. Bagaimana tidak, negeri yang masuk dalam jajaran UAE ini mencatatkan lompatan kenaikan harga rumah sepanjang 2013 sebesar 34,8 persen. Berbeda dengan Ukraina, negeri yang terkena imbas kondisi politik itu, menyebabkan harga rumah turun drastis hingga 25,9 persen. Sedangkan di posisi kedua ditempati oleh China dengan pertumbuhan sebesar 28 persen, dan di posisi ketiga diisi oleh Taiwan sebesar 15 persen. Dilanjut oleh Estonia dengan 14,5 persen dan Turki diposisi kelima dengan 13,8 persen.

Semakin Jauh untuk Memiliki Rumah
Tentulah melihat rilis dari Knight Frank menjadi kita berpikir keras dan mungkin bagi saya hanya bisa menghela nafas panjang yang cuma memiliki pendapatan pas-pasan. Kenaikan harga rumah yang menggila ini sudah terlalu jauh melampaui kekuatan finansial per kapita penduduk negeri ini. Beberapa pakar mengatakan,”Ini adalah gejala gelembung harga properti di Indonesia”, benarkah demikian? Kalau memang demikian, dikhawatirkan akan terjadi gagal bayar yang mengakibatkan macetnya kredit perumahan. Bukan begitu?

Badan Pusat Statistik (BPS) pernah mengeluarkan data tentang nominal pendapatan per kapita Indonesia 2013. Menurut data itu, ada perkembangan 8,88 persen dibandingkan tahun lalu. Angka itu kini mencapai Rp 36,5 juta atau naik sebesar Rp 3 juta ketimbang pendapatan per kapita tahun sebelumnya sebesar Rp 33,5 juta. Sementara Bank Indonesia pernah melakukan sebuah riset tentang harga rumah di Indonesia yang dilakukan di 14 kota, mulai dari Jakarta sampai Manado. Dalam riset yang dilakukannya pada kuartal ketiga tahun lalu, harga rumah idaman diperkirakan meningkat 14,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut merupakan yang tertinggi sejak survei tersebut dilakukan.

Melihat hal itu, setidaknya ada gambaran bahwa pertumbuhan harga properti memang menyalip tingkat kenaikan pendapatan penduduk Indonesia. Padahal pada tahun-tahun sebelumnya, berdasarkan informasi dari Katadata, kenaikan harga properti selalu di bawah pertumbuhan pendapatan per kapita. Jika kondisi ini terus berlangsung, tentu dikhawatirkan harga rumah akan semakin tidak terjangkau.

Tak Ada Asap Tanpa Api
Kejadian melejitnya harga rumah baru ditengarai karena permintaan masyarakat yang begitu tinggi. Dalam hasil survei Bank Indonesia tentang Pilihan Investasi Masyarakat Indonesia pada bulan Juni 2013 di mana dalam rentang waktu setahun terakhir menunjukan bahwa 42,5 persen responden memilih untuk berinvestasi/membeli properti dibandingkan emas, saham/reksadana dan deposito. Untuk investasi emas 27,6 persen responden memilih, saham/reksadana 14,6 persen, serta deposito 26,8 persen. Bahkan, permintaan properti satu tahun ke depan diperkirakan juga tetap kuat. Sedangkan, yang berminat untuk berinvestasi di properti pada satu tahun ke depan, sebanyak 64 persen responden.

Responden melihat bahwa ada semacam prospek yang lebih menggiurkan untuk berinvestasi di ranah properti ini, selain mudah di jual, tentunya kenaikan harga pun mendukung untuk mereka melakukan pergeseran investasi. Pergeseran portfolio investasi ini memang telah dilakukan pada 2011 silam. Hal tersebut diakui oleh Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Difi Johansyah beberapa waktu. “Pada 2010, masyarakat umumnya lebih memilih aset keuangan, namun sejak 2011 beralih ke aset properti. Hal itu mengkonfirmasi beberapa debitur yang menggunakan strategi leverage (rasio utang) bank untuk investasi," katanya yang dilansir dari Katadata di Oktober tahun lalu.

Berdasarkan dari survei itu, sayangnya Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) maupun Kredit Apartemen (KPA) yang dilakukan oleh masyarakat di awal pertama kali tidak dijadikan sebagai tempat tinggal bagi mereka, melainkan untuk portfolio investasi. Selain itu, menurut Direkur Utama PT Kreasi Pesona Mandiri – pengembang rumah kecil di Bandung - Diana Gustiana efek melambungnya harga bahan bangunan menjadi penyebabnya juga. Ditambah dengan kenaikan upah pekerja yang mulai berlaku awal tahun ini, serta kenaikan bahan bakar minyak (BBM) subsidi.

“Harga bahan bangunan melejit 15% dari awal tahun ini. Kami sulit menaikkan harga karena pemerintah sudah mematok rumah subsidi maksimal Rp 88 juta per unit," katanya yang dikutip dari Kontan, (7/11/2013). Semoga saja ada mukjizat untuk orang seperti saya ini mampu membeli rumah bukan hanya mampu membuat maket saja. Amin..

No comments:

Post a Comment