Thursday, 26 June 2014

Ecotourism Harus Libatkan Peran Masyarakat

Ecotourism merupakan media untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat, tentang bentuk eksploitasi sumber daya alam yang sedang marak saat ini, baik di tambang, perkebunan, dan usaha ekploitatif lainnya. Namun ada aturan main dalam mengembangkan ecotourism, yang mesti melibatkan masyarakat daerah tersebut di dalamnya.


Pasalnya di bisnis wisata, banyak memberikan privasi kepada turis dengan menjamurnya fasilitas wisata yang tertutup. Demikian Direktur Eksekutif Walhi, Abetnego Tarigan, yang menduga ada privatisasi kawasan. Bahkan secara ekstrim, tidak memperbolehkan masyarakat`sekitar masuk ke area wisata.

“Kami masih harus memverifikasi dahulu. Di Lampung ada kawasan hutan lindung yang dikelola sangat private dan high level. Masyarakat di luar pekerja dilarang masuk,” ungkap Abetnego kepada Citizen Daily.

“Kita bisa melihat bagaimana banyak pantai di Indonesia menjadi ruang private yang dikuasai pebisnis swasta. Sementara itu potensi masyarakat menjadi pekerja bahkan penonton serta menikmati indahnya alam hanya bisa diakses dan dinikmati oleh turis-turis di lokasi wisata yang dikelola oleh pebisnis besar seperti itu.”

Mulai berkembangnya ecotourism yang dikelola oleh unit manajemen sendiri saat ini, lanjutnya, sangat minim pelibatan masyarakat. "Hanya memang sudah ada di berbagai tempat, dan itu pun termasuk yang dikembangkan oleh anggota Walhi sendiri tepatnya di Belitung,” tukasnya.

Back to Nature

Tapi harus diakui bahwa pebisnis juga memberikan keuntungan kepada daerah tersebut. Lingkungan yang semakin terjaga adalah salah satu keuntungannya. Tinggal bagaimana pemerintah, pebisnis, dan masyarakat setempat bersinergi untuk menumbuhkembangkan ecotourism yang humanis.

Karena berdasarkan data United Nation World Tourism Organization tahun 2004, pertumbuhan tren ecotourism berkembang lebih cepat tiga kali lipat dibandingkan wisata pada umumnya. Dari data tersebut, bisa dianalisis bahwa pemasukkan untuk negara di sektor pariwisata lebih banyak lantaran ecotourism.

Inilah tren yang terbilang anyar, yang disambut baik oleh seluruh orang di dunia. Pasalnya, kegiatan wisata ini disebut-sebut sebagai alternatif solusi yang mempertemukan jalinan antara pariwisata dan aspek lingkungan. Ini tentu sejalan dengan isu perubahan iklim yang mengharuskan masyarakat di dunia kembali ke titah alam atau back to nature.

Misalnya saja di Peru. Berdasarkan data dari Proyekto PRA tahun 2000, diperkirakan 10,3% dari wisatawan yang mengunjungi Peru memilih untuk berwisata ecotourism. Lalu bagaimana di Indonesia?

Di negeri ini memang belum ada data yang spesifik mengenai kontribusi ecotourism terhadap devisa negara. Hanya ada data kontribusi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif terhadap perekonomian negeri ini. Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menyumbang devisa sebesar US$ 21,95 miliar atau berkontribusi sebesar 11,04% pada total devisa negara.

Menggali Bahari

Namun menurut Direktur Forum Studi Pariwisata, Firman Syah, ada peningkatan kontribusi ecotourism ke devisa negara. Dia masuk ke sektor pariwisata dari tahun ke tahun, antara 10% hingga 11% dibandingkan tahun lalu.

“Sebetulnya, kita sudah memiliki potensi. Seluruh aset tersebut dimiliki masing-masing daerah, yang tinggal bagaimana caranya untuk dikembangkan. Saat ini di Indonesia sedang marak sekali ecotourism yang berbasis wisata bahari,” katanya. Adapun daerah yang sering dikunjungi di antaranya Lombok, Yogyakarta, dan Minangkabau.

Bahkan, baru-baru ini dua grup perusahaan nasional, yakni Sampoerna dan Santika, tengah menjajaki investasi perhotelan di Raja Ampat, Papua Barat. Kedua perusahaan itu masih melakukan studi kelayakan (feasibility study) di kawasan tersebut, termasuk mencari lokasi dan menghitung kebutuhan investasi.

Firman menambahkan bahwa ecotourism ini tentu sangat menjadi nilai tambah untuk mempromosikan negeri ini lebih baik lagi.

“Yang terpenting, apapun pelaksanaannya, warga sekitar harus diikutsertakan supaya menjadi pintu pembuka lapangan pekerjaan baru. Beragam keahlian dapat dituangkan di sini oleh masyarakat, sehingga tidak ada kecemburuan sosial,” tutupnya.

(Published on CitizenDaily.net)

No comments:

Post a Comment