Wednesday, 11 April 2012

Industri Software Edukasi di Indonesia

Industri kreatif di bidang perangkat lunak pendidikan di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pendidikan di dalam negeri ataupun luar negeri, cukup menjanjikan. Di samping itu pula, selain memiliki motivasi  untuk meningkatkan pendidikan khususnya di Indonesia agar lebih baik, hal ini membuat beberapa orang melihat potensi usaha dalam bidang ini. Khususnya dalam software edukasi.  Di Indonesia, sudah ada perusahaan pengembang software edukasi ini. PT. Akal Interaktif, PT. Bamboomedia Cipta Persada, dan PT. Pesona Edukasi.

Adanya perusahaan-perusahaan pengembang software edukasi di atas, patut untuk diapresiasikan dan pantas untuk mencoba hasil kreasi mereka. Pasalnya, rata-rata perusahaan mereka pernah menyabet beberapa penghargaan. Artinya software edukasi yang dibuat oleh mereka patut untuk diperhitungkan.

Seperti halnya PT. Akal Interaktif, beberapa inovasi yang dilakukan Akal Interaktif pada karyanya telah menempatkan mereka pada dua penghargaan di 2006, yakni 2nd winner for Educational Software Developer pada E-learning award yang diadakan Pustekom-Diknas, Majalah Swa dan Swanetwork serta penghargaan Recognition untuk kategori Education and Training pada lomba Karya Cipta Piranti Lunak yang diselenggarakan APICTA (Asia Pasific ICT Alliances) Indonesia.

Selain itu, berbicara bisnis, berdasarkan dari data riset Paguyuban Software Edukasi Indonesia (PPSEI) mengemukakan bahwa masih terbukanya pasar Indonesia dikarenakan masih belum adanya negara-negara besar produsen software edukasi. Dengan kata lain, tidak ada dominasi dari negeri tertentu di atas bidang ini.

Daya saing produk local industry ini dengan produk asing di kancah local maupun international masih tergolong mudah. Indonesia yang memiliki 250.000 sekolah dengan jumlah murid 50 juta anak dari SD hingga SMA merupakan peluang yang sangat bagus untuk mengembangkan bisnis ini.

Menurut Hari Santosa Sungkari selaku pengamat industry software edukasi sekaligus sekretaris umum MIKTI (Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia), pertumbuhan industry software edukasi di tanah air sudah menuju ke arah sisi positif.  Apa yang dicapai para developer software edukasi lokal merupakan hasil dari kerja keras untuk tetap fokus pada bisnis ini.

Tantangan dan Hambatan

Tantangan yang dihadapi adalah kurangnnya apresiasi dari penggunaan lokal. Umumnya user Indonesia masih import minded padahal sesungguhnya apa yang sudah dimiliki oleh bangsa ini sudah cukup baik dan terbukti. Cara berpikir inilah yang menjadi sesatnya produk Indonesia di mata masyarakatnya sendiri. Inilah yang menjadi tantangan pertama yang dihadapi oleh bangsa Indonesia.

Kemudian keberpihakan pemerintah juga masih sedikit, meskipun dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2010-2014 disebutkan bahwa salah satu prioritas pemerintah adalah klaster industry kreatif, di mana animasi dan software adalah bagian di dalamnya.

Namun di sisi lain, perlu diketahui bahwa masih banyak guru yang belum terbiasa dengan menggunakan computer. Banyak di antara mereka yang menganggap sistem belajar tradisional yang mereka lakukan sudah bagus. Sehingga penggunaan software ini tidak begitu dibutuhkan.

Selain itu pula, hambatan yang terjadi adalah tidak adanya lembaga pembiayaan yang saat ini dapat memberikan funding bagi para wirausaha di bidang industri software dan industri edukasi. 

Melihat di beberapa negara, ekonomi kreatif sangat berpengaruh cukup signifikan. Menurut data, di Inggris merupakan pelopor pengembangan ekonomi kreatif, industri ini tumbuh rata-rata 9 persen per tahun, jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi negara itu yang 2 persen-3 persen. Sehingga ekonomi kreatif di Inggris menyumbangkan pendapatan nasional mencapai 8,2 persen atau US$ 12,6 miliar, dan merupakan sumber kedua terbesar setelah sektor finansial. Hal ini melampaui dari pendapatan dari industri manufaktur serta minyak dan gas bumi.

Di korea selatan, industri kreatif sejak 2005 menyumbangkan pendapatannya lebih besar daripada industri manufaktur. Sementara di Singapura ekonomi kreatif memberikan 5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan nilai US$ 5,2 miliar.


Published by Kilau Magazine




1 comment:

  1. mas,,, majalah kilau yg muat ini masih ada gak?? :)

    ReplyDelete