Industri kreatif di bidang perangkat lunak pendidikan di Indonesia
untuk memenuhi kebutuhan pendidikan di dalam negeri ataupun luar negeri, cukup
menjanjikan. Di samping itu pula, selain memiliki motivasi untuk meningkatkan pendidikan khususnya di
Indonesia agar lebih baik, hal ini membuat beberapa orang melihat potensi usaha
dalam bidang ini. Khususnya dalam software edukasi. Di Indonesia, sudah ada perusahaan pengembang
software edukasi ini. PT. Akal Interaktif, PT. Bamboomedia Cipta Persada, dan
PT. Pesona Edukasi.
Adanya perusahaan-perusahaan pengembang software edukasi di atas,
patut untuk diapresiasikan dan pantas untuk mencoba hasil kreasi mereka.
Pasalnya, rata-rata perusahaan mereka pernah menyabet beberapa penghargaan.
Artinya software edukasi yang dibuat oleh mereka patut untuk diperhitungkan.
Seperti halnya PT. Akal Interaktif, beberapa inovasi yang dilakukan Akal Interaktif pada karyanya telah
menempatkan mereka pada dua penghargaan di 2006, yakni 2nd winner for Educational
Software Developer pada E-learning award yang diadakan Pustekom-Diknas,
Majalah Swa dan Swanetwork serta penghargaan Recognition untuk kategori Education
and Training pada lomba Karya Cipta Piranti Lunak yang diselenggarakan
APICTA (Asia Pasific ICT Alliances) Indonesia.
Selain itu, berbicara bisnis, berdasarkan dari data riset Paguyuban Software Edukasi Indonesia (PPSEI) mengemukakan bahwa masih terbukanya pasar Indonesia dikarenakan masih belum adanya negara-negara besar produsen software edukasi. Dengan kata lain, tidak ada dominasi dari negeri tertentu di atas bidang ini.
Daya saing produk local industry ini dengan produk asing di kancah
local maupun international masih tergolong mudah. Indonesia yang memiliki
250.000 sekolah dengan jumlah murid 50 juta anak dari SD hingga SMA merupakan
peluang yang sangat bagus untuk mengembangkan bisnis ini.
Menurut Hari Santosa Sungkari selaku pengamat industry software
edukasi sekaligus sekretaris umum MIKTI (Masyarakat Industri Kreatif TIK
Indonesia), pertumbuhan industry software edukasi di tanah air sudah menuju ke
arah sisi positif. Apa yang dicapai para
developer software edukasi lokal merupakan hasil dari kerja keras untuk tetap
fokus pada bisnis ini.
Tantangan dan Hambatan
Tantangan yang dihadapi adalah kurangnnya apresiasi dari
penggunaan lokal. Umumnya user Indonesia masih import minded padahal
sesungguhnya apa yang sudah dimiliki oleh bangsa ini sudah cukup baik dan
terbukti. Cara berpikir inilah yang menjadi sesatnya produk Indonesia di mata
masyarakatnya sendiri. Inilah yang menjadi tantangan pertama yang dihadapi oleh
bangsa Indonesia.
Kemudian keberpihakan pemerintah juga masih sedikit, meskipun
dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2010-2014 disebutkan bahwa
salah satu prioritas pemerintah adalah klaster industry kreatif, di mana
animasi dan software adalah bagian di dalamnya.
Namun di sisi lain, perlu diketahui bahwa masih banyak guru yang
belum terbiasa dengan menggunakan computer. Banyak di antara mereka yang
menganggap sistem belajar tradisional yang mereka lakukan sudah bagus. Sehingga
penggunaan software ini tidak begitu dibutuhkan.
Selain itu pula, hambatan yang terjadi adalah tidak adanya lembaga
pembiayaan yang saat ini dapat memberikan funding bagi para wirausaha di bidang
industri software dan industri edukasi.
Melihat di beberapa negara, ekonomi kreatif
sangat berpengaruh cukup signifikan. Menurut data, di Inggris merupakan pelopor
pengembangan ekonomi kreatif, industri ini tumbuh rata-rata 9 persen per tahun,
jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi negara itu yang 2 persen-3 persen.
Sehingga ekonomi kreatif di Inggris menyumbangkan pendapatan nasional mencapai
8,2 persen atau US$ 12,6 miliar, dan merupakan sumber kedua terbesar setelah
sektor finansial. Hal ini melampaui dari pendapatan dari industri manufaktur
serta minyak dan gas bumi.
Di korea selatan, industri kreatif sejak 2005
menyumbangkan pendapatannya lebih besar daripada industri manufaktur. Sementara
di Singapura ekonomi kreatif memberikan 5 persen terhadap Produk Domestik Bruto
(PDB) dengan nilai US$ 5,2 miliar.
Published by Kilau Magazine
Published by Kilau Magazine
mas,,, majalah kilau yg muat ini masih ada gak?? :)
ReplyDelete