Sunday, 25 August 2013

Pembelajaran untuk Diri Sendiri

Ada beberapa esensi menarik yang harus dipahami dan menjadi pelajaran untuk saya sendiri sekaligus pembaca. Sehingga saya meminta ijin dengan mencatumkan nama penulis serta sumber yang didapat. Berikut adalah tulisan dari Syafiq Basri Assegaff ini sengaja saya copy-paste tanpa mengutak-atik isi dari artikel.

Friday, 16 August 2013

Digital Advertising Buah Bibir Era Digital

Tidak bisa ditepis fakta bahwa arus informasi teknologi secara global terus berkembang. Digital advertising adalah bagian dari perkembangan dunia ICT yang kini menjadi buah bibir para praktisi industri periklanan, pengiklan, dan publisher. 

Mashable pernah memberitakan tentang pertumbuhan digital advertising secara global di Januari lalu. Data tersebut ditulisnya dari riset yang dilakukan oleh eMarketer yang menyebutkan bahwa belanja iklan digital skala global mencapai US$100 miliar di 2012. Bahkan proyeksi tahun ini akan tumbuh lagi mencapai sekitar US$118 miliar. Sementara berdasarkan data riset dari Google, NAA, dan PIB mengenai perbandingan pendapatan iklan yang didapatkan Google dan media cetak di Amerika Serikat sangat mengejutkan.

Pendapatan iklan yang diterima Google dari tahun ke tahun hampir menyamai dengan media konvensional.
Mereka pun melihat keunggulan yang dimiliki media baru ini yang bukan saja mampu menciptakan awareness bagi sebuah brand, melainkan dapat berinteraksi dengan konsumen dengan berbagai cara.  Menurut Group Digital Strategist dari Artek Group, Amin Azman, salah satu kekuatan iklan digital adalah mampu menjamah lebih spesifik target audience yang disasar dan mampu meningkatkan ‘engagement’  lebih lama.

Panasnya Belum Mencapai Titik Didih

Menilik kondisi geografis di Indonesia, potensi pemanfaatan untuk energi terbarukan sungguh luar biasa. Dari sekian sektor energi non fosil ini, salah satunya yang menjadi buah bibir saat ini adalah panas bumi. Siapa yang tak menggelengkan kepala manakala cadangan energi panas bumi di seluruh dunia 40% nya ada di negeri ini, tepatnya 29.000MW atau setara dengan 3GW. 

Melihat prosentase cadangan panas bumi ini yang dimiliki Indonesia, pemerintah pun lantas tak tinggal diam. Tahun lalu, pemerintah lewat Menteri ESDM, Jero Wacik mengeluarkan aturan feed in tariff terbaru pada Peraturan Menteri (Permen) nomor 22 tahun 2012. Hal ini terkait keinginan Jero di 2014 nanti sudah banyak listrik yang bersumber dari panas bumi.

"Sebanyak 40 persen geothermal dunia ada di Indonesia, dan sekarang sudah diekploitasi 6 persen. Saya mengharapkan di 2014 angkanya bertambah,” tegasnya dari media lokal.

Dengan ditetapkannya harga baru ini, pemerintah mengharapkan adanya gairah para investor untuk turut berkontribusi menumbuhkan angka pada ekplorasi energi ini nantinya. Sekitar November lalu, PLN telah melakukan perjanjian untuk meningkatkan rasio energy mix melalui pembangunan pembangkit energi baru dan terbarukan dengan PT Supreme Energy Rantau Dedap. Nantinya, diharapkan PLTP Rantau Dedap 2x110MW ini akan dapat menghasilkan 1734,5GWh per tahun. Unit 1 direncanakan akan beroperasi secara komersial pada Januari 2017 dan beroperasi penuh (Unit 1 & 2) pada Maret 2017.

Ketika Listrik Menjadi Pintar

Setelah berkembangnya energi terbarukan di dunia, saat ini tantangan besar dalam dunia kelistrikan adalah membangun sebuah jaringan listrik yang mampu mendistribusikan energi lebih akurat sesuai dengan permintaan atau dikenal dengan smart grid. Maka dari itu, untuk mencapai hasil yang maksimal, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) pun diterapkan. 

Para ilmuwan di dunia kini mulai mengembangkan teknologi smart grid atau smart electrification, suatu jaringan listrik yang secara cerdas mengintegrasikan mulai dari pembangkit hingga sampai ke konsumen pengguna dengan aman dan efisien. Menurut Badan Energi Amerika Serikat, smart grid merupakan kelas teknologi yang digunakan untuk sistem pengantar listrik di abad 21, menggunakan pengendali berbasis komputer dan mesin. Teknologi ini menghubungkan pembangkit-pembangkit dari berbagai macam kepada konsumen baik rumah atau bisnis. Teknologi berbasis komunikasi dua arah ini sudah dipakai di industri lain, namun baru menjelang abad 21 ini diterapkan di industri perlistrikan.

Aneka Macam Bisnis Sistem Manajemen Pendidikan

Sektor pendidikan pun tak jauh dari kata teknologi. Dengan teknologi seperti sistem manajemen yang terintegrasi mampu ciptakan kemudahan bagi institusi pendidikan, siswa, dan orangtua.

Melihat dari salah satu tujuan Millenium Development Goals (MDGs) adalah penggunaan Teknologi Informasi (TI) dalam dunia pendidikan. Maka kontribusi dalam penggunaan perangkat teknologi pun akan semakin dipacu untuk tercapainya tujuan MDGs. Menurut Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Ilmu Komputer (APTIKOM), Eko Indrajit menjelaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu industri
yang banyak dipengaruhi oleh perkembangan IT.

“Berdasarkan riset, pendidikan sebagian besar dipengaruhi oleh IT. Ada sejumlah alasan kenapa hal IT menjadi demikian di dunia pendidikan,”ujarnya ketika di temui Teknopreneur di kediamannya.

Ia melanjutkan, alasan itu di antaranya adalah fenomena digitalisasi yang mana sekarang menjadi tren di hampir seluruh dunia. Kedua, kecepatan teknologi yang terus berkembang sehingga memaksa peran teknologi pun menjadi demand bagi dunia pendidikan. Ketiga, efek teknologi yang mampu menembus ruang dan waktu. Dan yang keempat adalah karena keterbatasan memori manusia yang tidak selalu dapat menghafal semua materi yang diberikan. Dengan adanya fenomena itu maka tidak bisa dipungkiri lagi bahwa keberadaan IT sangat dibutuhkan.

Kedigdayaan Merek Asli Indonesia Mendominasi Pasar di Negeri Sendiri

Tak bisa ditampik, munculnya persepsi bahkan fakta yang menyebutkan bahwa penguasaan merek-merek lokal di tingkat dunia merepresentasikan kekuatan dari sebuah negara atas hasil karya anak bangsa sendiri. Ya, hal itu tentu saja memberikan kesepakatan banyak pakar untuk mengatakan hal serupa. Lihatlah merek-merek lokal asal Indonesia seperti Polygon, Peter Says Denim, Lea Jeans, dan masih banyak lagi yang kini mendulang sukses di kancah Internasional sebagai brand yang banyak dikonsumsi dan dipuji orang. Kendatipun demikian, pamor merek-merek tersebut bukan sekadar nama tanpa arti atau bahkan hanya label yang mengikat produk. Melainkan ada beragam sentuhan dari berbagai serangkaian proses sehingga memiliki arti dalam sebuah produk baik dari mata rantai ekonomi yang panjang bahkan dimensi sosial yang luas.

Dalam konteks pemasaran, sudah tidak bisa tepis lagi jika merek memiliki kekuatan yang sangat fundamental guna menarik para konsumen bidikannya. Seperti tidak bisa dipisahkan bahwa merek  telah melebur bersama rangkaian konsep manajemen bisnis dan manajemen marketing sehingga ketika kedua konsep tersebut tidak dieksekusi secara efektif, maka hal itu berimbas pada merek yang akan melemah. Alhasil, dengan memiliki merek yang kuat, secara otomatis perusahaan terkait memiliki pangsa pasar yang tinggi disebabkan oleh reputasinya. Tentu, dengan efek yang kuat itu, membuat sekelumit kesulitan bagi para pendatang baru untuk memasuki pasar. Kesempatan inilah yang tak boleh disia-siakan guna meningkatkan upaya pemasaran perusahaan untuk mendapatkan pangsa yang lebih besar dan membangun pertahanan terhadap pesaing.

Thursday, 1 August 2013

Digital Startup Harapan Indonesia di Masa Depan

Keriuhan dunia tentang pertumbuhan bisnis teknologi, mengakrabkan semua orang dengan nama-nama besar pendiri bisnis teknologi yang fantastis seperti Steve Jobs, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg. Mereka banyak menjadi inspirator banyak orang untuk terjun ke industri teknologi informasi dan komunikasi, salah satunya di Indonesia. Dahulu memang bisnis yang berbasiskan internet masih sangat jarang ditemui, penetrasi internet saat itu masih rendah sehingga imbas dari tumbuhnya bisnis itu pun belum terlihat.