Tak bisa ditampik, munculnya persepsi bahkan fakta yang menyebutkan bahwa penguasaan merek-merek lokal di tingkat dunia merepresentasikan kekuatan dari sebuah negara atas hasil karya anak bangsa sendiri. Ya, hal itu tentu saja memberikan kesepakatan banyak pakar untuk mengatakan hal serupa. Lihatlah merek-merek lokal asal Indonesia seperti Polygon, Peter Says Denim, Lea Jeans, dan masih banyak lagi yang kini mendulang sukses di kancah Internasional sebagai brand yang banyak dikonsumsi dan dipuji orang. Kendatipun demikian, pamor merek-merek tersebut bukan sekadar nama tanpa arti atau bahkan hanya label yang mengikat produk. Melainkan ada beragam sentuhan dari berbagai serangkaian proses sehingga memiliki arti dalam sebuah produk baik dari mata rantai ekonomi yang panjang bahkan dimensi sosial yang luas.
Dalam konteks pemasaran, sudah tidak bisa tepis lagi jika merek memiliki kekuatan yang sangat fundamental guna menarik para konsumen bidikannya. Seperti tidak bisa dipisahkan bahwa merek telah melebur bersama rangkaian konsep manajemen bisnis dan manajemen marketing sehingga ketika kedua konsep tersebut tidak dieksekusi secara efektif, maka hal itu berimbas pada merek yang akan melemah. Alhasil, dengan memiliki merek yang kuat, secara otomatis perusahaan terkait memiliki pangsa pasar yang tinggi disebabkan oleh reputasinya. Tentu, dengan efek yang kuat itu, membuat sekelumit kesulitan bagi para pendatang baru untuk memasuki pasar. Kesempatan inilah yang tak boleh disia-siakan guna meningkatkan upaya pemasaran perusahaan untuk mendapatkan pangsa yang lebih besar dan membangun pertahanan terhadap pesaing.
Jika dibandingkan dengan era-era sebelum masifnya media dan efek dari terpaan media yang luar biasa saat ini, kegiatan branding bisa jadi memang belum begitu urgent seperti saat ini. Masih banyak cara selain mengandalkan pamor merek yang “menggetarkan” telinga konsumen, seperti pemasar bisa sukses hanya dengan mengandalkan strategi distribusi yang bagus, memberi diskon harga ke konsumen, dan memberikan gimmick ke para penyalur dengan hadiah-hadian atau memberi margin lebih tinggi. Pada masa itu masih mungkin punya brand besar hanya dengan strategi itu. Tapi kini paradigma itu telah mati, terkubur rapat-rapat. Maklum, kini tarikan dari konsumen jauh lebih kuat dari dorongan distribusi dan penyalur.
Namun zaman kini telah berubah, melalui merek yang memiliki power full dengan sendirinya awareness masyarakat akan terbangun mengenai merek itu tanpa melihat maraknya brand yang dirilis sepanjang tahun. Sudah hal yang wajar, beberapa benefit yang didapatkan ketika sebuah brand sudah menancap tepat di benak konsumen, yaitu mampu memperkokoh tingkat loyalitas pelanggan dan mudah untuk mengedukasi pasar bilamana memiliki produk teranyar, advokasi, serta kepuasaan. Memang, di tengah iklim bisnis yang makin kompetitif seperti sekarang, memiliki brand yang kuat merupakan keunggulan yang akan sangat menguntungkan. Lihat saja di pasar, di setiap ceruk industri jumlah pemainnya makin bertambah dari tahun ke tahun. Rata-rata pemainnya juga lebih cerdik dalam menggarap pasar dibandingkan era-era sebelumnya. Ini belum mempertimbangkan penetrasi pemain-pemain asing yang juga merambah sektor-sektor bisnis potensial. Tanpa memilik brand kuat, sebagai pebisnis kita tak punya pembeda dari pemain lain. Maka hal itulah yang perlu diperhatikan guna memberikan kesan berbeda dari produk lain. Namun saat ini rentetan produk-produk yang berjejer di pusat perbelanjaan juga tak lepas dari berbagai merek asli Indonesia. Hal ini menandakan bahwa sesungguhnya merek-merek asli Indonesia mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri walaupun gempuran merek asing semakin menggurita.
Ya, minimal negeri ini sejatinya tak perlu berkecil hati soal kemampuan dalam membangun brand lokal. Buktinya sudah banyak merek-merek asli Indonesia yang sangat sukses di pasar. Bukan saja ia sukses menjadi brand besar, namun juga mampu bersaing dengan pemain-pemain asing. Bahkan banyak merek-merek asli Indonesia yang mampu mencapai level jauh di atas kinerja merek-merek asing itu sendiri. Inilah yang sewajarnya menjadi kebanggan bagi kita sebagai bangsa Indonesia di mana berita positif semakin menyeruak tentang makin banyak merek-merek asli Indonesia (original brand) yang mampu berkembang dan menyeruak di pasar dari tahun ke tahun. Tanpa perlu gembar-gembor, di pasar memang cukup banyak merek asli Indonesia yang sukses menjadi pemain besar di industrinya, punya brand image bagus, memiliki market share signifikan, serta sukses menjadi merek populer di masyarakat. Merek-merek Indonesia seperti itu tentu saja layak dibanggakan karena sanggup melewati masa-masa sulit dalam siklus perkembangan merek hingga kemudian menjadi merek yang mapan dan bertahan lama.
Memang, di tengah iklim bisnis yang makin kompetitif seperti sekarang, memiliki brand yang kuat merupakan keunggulan yang akan sangat menguntungkan. Lihat saja di pasar, di setiap ceruk industri jumlah pemainnya makin bertambah dari tahun ke tahun. Rata-rata pemainnya juga lebih cerdik dalam menggarap pasar dibanding era-era sebelumnya. Ini belum mempertimbangkan penetrasi pemain-pemain asing yang juga merambah sektor-sektor bisnis potensial. Tanpa memilik brand kuat, sebagai pebisnis kita tak punya pembeda dari pemain lain.
Di Juli lalu, Majalah SWA tepatnya pada edisi 4-17 Juli 2013 pernah membahas secara lengkap mengenai produk-produk lokal yang berjaya di negeri sendiri bahkan dunia (Indonesia Original Brand) serta memberikan peringkat pada sebuah brand dengan beberapa penilaian dilihat dari angle loyalitas pelanggan, advokasi, dan kepuasan. Untuk pertama kalinya parameter atau variabel pengukuran ditambahkan. Selain melihat dari variabel yang sudah dilakukan, ada penambahan tingkat pengukuran yang diperhitungkan juga yaitu Local Brand Competitive Level (LBCL).
Melalui LBCL ini, dapat mengukur sejauh mana keyakinan responden terhadap merek lokal dibandingkan dengan merek asing, seberapa besar kemungkinan responden akan tetap menggunakan ataupun membeli merek lokal di masa mendatang, dan seberapa besar kemungkinan responden bersedia merekomendasikan sebuah merek lokal dibandingkan merek asing. Survei yang dilakukan ini mendapati Top 250 brands yang bertengger di jajaran merek lokal mulai dari sektor provider GSM, bubur bayi, bank, teh celup, kosmetik, oli motor, semen, sandal, pasta gigi, hingga genteng.
Seperti halnya GT Radial pada kategori ban mobil yang meraih nilai loyalitas lebih tinggi dibandingkan dengan variabel lainnya seperti tingkat kepuasan pelanggan, advocacy, dan LBCL meraih angka tertinggi. Dengan indikator tersebut, bisa dikatakan bahwa GT Radial mampu meninggalkan kompetitornya sedikit lebih tinggi. Memang tak bisa ditepis bahwa ban GT Radial ini yang disebut-sebut sebagai ban terbaik di Indonesia dan tentunya tidak asing lagi karena ban GT Radial merupakan ban yang paling banyak digunakan di Indonesia di tambah dengan harga yang sangat terjangkau sehingga memberikan nilai tersendiri bagi para pelanggan. Bahkan saat ini GT Radial telah memproduksi produk Champiro Eco, ban ramah lingkungan yang diklaim tidak berisik, hemat bahan bakar sehingga meminimalisir emisi CO2.
Sementara di sektor asuransi ada Jamsostek yang menjadi primadona para pekerja untuk mempercayakan jaminan kesehatannya. Bahkan dalam rangka menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan di 2014. Jamsostek tidak hanya selalu melindungi buruh dan pekerja pabrik, namun akan bertambah dari pekerja sektor lainnya. Sedangkan di sektor industri TV berbayar, Indovision menjadi jawara dalam kategorinya. Ya tentu saja, sudah 20 tahun Indovision mengudara di Indonesia, beragam program yang disajikan telah memikat hati para masyarakat Indonesia sehingga tak heran jika Indovision mampu meraih dominasi pangsa pasar pay TV di negeri ini. Indovision sebagai brand dalam negeri berhasil menjadi leader dalam sektor pay tv ini. Setelah Indovision, ada Uniland dalam kategori spring bed yang berhasil menjadi jawara di kategori tersebut. Di tengah ketatnya persiangan, merek Uniland mampu meraih pangsa pasar 5 – 10% secara nasional. Keunggulan Uniland dari segi produk adalah menggunakan per yang spesifikasinya sesuai dengan ketentuan dari asosiasi dan standar internasional. Tentunya orientasi PT Quantum Tosan Internasional meliputi industri furniture lokal dan ekspor, home industri, perumahan, wisma, rumah sakit, mess dan lainnya.
Tidak hanya merek-merek lokal yang menjadi jago di negeri sendiri, bahkan ada penilaian tentang brand-brand yang telah memiliki usia yang lama dan mampu bertahan di pasar sehingga ada beberapa dari merek tersebut menjadi market leader di sektor industrinya. Misalnya seperti Sirup Pohon Pinang yang telah berusia 31 – 35 tahun. Sirup Pohon Pinang merupakan sirup asal Medan yang telah berkembang dari perusahaan industri sirup dengan skala kecil menjadi skala nasional, hal ini terjadi karena adanya dukungan dan kepercayaan dari seluruh pelanggan dan adanya konsistensi dan komitmen manajemen PT MajuJaya PohonPinang dalam inovasi sistem dan manajemen, inovasi produk, inovasi tehnologi, inovasi saluran distribusi dan pelayanan serta pengembangan sumber daya manusia perusahaan secara berkesinambungan.
Untuk bank, BRI berhasil bertahan selama 118 tahun dan tetap konsisten pada pelayanan kepada masyarakat kecil, di antaranya dengan memberikan fasilitas kredit kepada golongan pengusaha kecil. Setelah BRI yang mendapatkan penghargaan Indonesia Living Legend Brands, ada Kopi Warung Tinggi yang juga telah bertahan hingga 135 tahun. Dari beberapa merek yang telah disebutkan, sudah barang tentu masih banyak merek-merek asli Indonesia lainnya yang punya prestasi fenomenal dan layak dibanggakan tapi tak mungkin disebut satu per satu di sini.
Di sisi lain, hal ini menandakan bahwa merek-merek asli Indonesia yang sukses dan mampu menasional rata-rata karena pengelolanya memang jeli dalam membaca arah perkembangan mereknya. Mereka mampu mengetahui kebutuhan konsumen dan mampu menyediakan produk yang sesuai. Mereka juga mampu memperhatikan karakteristik dan setting budaya yang unik dari target pasar alias konsumen Indonesia. Dan yang pasti, keberadaan mereka menjadi oase di tengah isu bahwa potret bisnis di Indonesia makin dikuasai oleh merek-merek asing.
Brand-brand Lokal Mulai Menguasai Pasar
Tingginya tingkat konsumsi rumah tangga atau swasta di Indonesia harus dilihat sebagai momentum untuk menggenjot ekonomi domestik. Salah satunya dengan membuat dan membangun industri bermerek lokal agar pasar konsumsi yang lebar tidak hanya diisi pemain global. Pertumbuhan ekonomi yang salah satunya didorong oleh konsumsi harus dimanfaatkan pengusaha dengan membangun industri bermerek lokal.
Dalam hal ini, baik aspek produksi maupun konsumsi perlu mendapat perhatian seimbang sehingga akan lebih banyak bermunculannya brand-brand lokal asli Indonesia yang sukses menjadi pemain besar di industrinya. Selain itu mempunyai pangsa pasar signifikan, dan dikenal secara luas oleh masyakat dengan citra yang bagus, adalah dambaan setiap merek dan kinerja merek-merek lokal yang tak kalah bagus dan patut diacungi jempol.
Merek lokal seperti Nikicio dan Aye! Denim merupakan beberapa contoh dari merek fashion lokal yang sudah terkenal hingga ke luar Indonesia. Desain dan kualitas pakaian mereka mendapat respons positif dari masyarakat luar Indonesia. Selain produk fashion, terdapat juga sepeda dengan merek Polygon. Polygon berdiri tahun 1989, produsen sepeda Insera Sena (IS) di Sidoarjo sudah mengekspor sepeda tanpa merk ke lima benua. Kemudian di 1997, Polygon sudah masuk di Indonesia dan menjadi leader dalam sektornya.
Di sektor minyak goreng, ada Bimoli. loyalitas para pengguna Bimoli unggul dari kompetitornya. Tak mengherankan jika produk besutan Group Indofood menjadi jaminan mutu bagi konsumen. Di sisi lain, Bimoli memiliki instalasi pabrik berteknologi canggih modern dan higienis. Dari perkebunan sawit yang luas, bahan-bahan alami diolah menjadi minyak goreng berkualitas. Kemudian melalui jaringan distribusi yang luas dan efisien, Bimoli disalurkan melalui berbagai pasar tradisional, toko-toko, toserba, hiper-market hingga akhirnya tiba di dapur dan meja konsumen. Selain itu ada Pronas. Produk olahan daging dari PT Canning Indonesian Product ini memiliki tingkat kesadaran merek oleh konsumennya pun sangat tinggi. Sehingga tak heran Pronas juga banyak digandrungi oleh masyarakat sebagai salah satu makanan siap saji.
Lain cerita dengan Eiger. Eiger merupakan brand asal Bandung ini berdiri sejak tahun 1990 dan fokus pada penyediaan perlengkapan adventure. Untuk menjangkau pasar global, Eiger tetap memakai merk sendiri supaya tumbuh brand awareness di kalangan konsumen global. Melalui riset pasar tas yang dilakukan, Eiger memposisikan diri di kelas menengah yang lebih mementingkan kualitas dan harga ketimbang merk sebagai target pasar. Eiger telah merambah ke Singapura, Malaysia, Brunei dan juga Jerman sebagai pintu masuk menuju pasar Eropa.
Selain itu ada Essenza yang merupakan brand ubin porselen yang dirintis Intikeramik dan berdiri sejak tahun 1991. Kiat membangun brand association yang tepat bagi Essenza sebagai produk berkualitas tinggi dengan tagline “No Tile Like It” tampaknya membuahkan hasil. Hingga saat ini, Essenza adalah brand dengan kapasitas produksi terbesar di Indonesia, dan sudah diekspor ke 25 negara yang salah satunya adalah Italia. Itulah beberapa brand-brand lokal negeri ini yang memiliki prosentase pasar yang dominan sehingga tidak bisa di tepis keberadaan merek lokal mampu memperlihatkan kehebatannya di negeri sendiri.
No comments:
Post a Comment