Friday, 16 August 2013

Ketika Listrik Menjadi Pintar

Setelah berkembangnya energi terbarukan di dunia, saat ini tantangan besar dalam dunia kelistrikan adalah membangun sebuah jaringan listrik yang mampu mendistribusikan energi lebih akurat sesuai dengan permintaan atau dikenal dengan smart grid. Maka dari itu, untuk mencapai hasil yang maksimal, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) pun diterapkan. 

Para ilmuwan di dunia kini mulai mengembangkan teknologi smart grid atau smart electrification, suatu jaringan listrik yang secara cerdas mengintegrasikan mulai dari pembangkit hingga sampai ke konsumen pengguna dengan aman dan efisien. Menurut Badan Energi Amerika Serikat, smart grid merupakan kelas teknologi yang digunakan untuk sistem pengantar listrik di abad 21, menggunakan pengendali berbasis komputer dan mesin. Teknologi ini menghubungkan pembangkit-pembangkit dari berbagai macam kepada konsumen baik rumah atau bisnis. Teknologi berbasis komunikasi dua arah ini sudah dipakai di industri lain, namun baru menjelang abad 21 ini diterapkan di industri perlistrikan.


Tak hanya itu saja keunggulan dari smart grid ini, melainkan memungkinkan pemilik rumah dapat berbisnis dengan menjual listrik ke grid secara ekonomis mungkin. Banyak di negara-negara maju yang sedang mengembangkan hal serupa seperti halnya Eropa, bahkan sudah diimplementasikan. Di Januari lalu, Jerman tambahkan dana untuk kembangkan jaringan listrik dari energi terbarukan. Pendanaan itu dikucurkan oleh Departemen Ekonomi, Lingkungan, Pendidikan dan Penelitian sebesar 150 juta euro.

Dari enam proyek percontohan itu, menemukan bahwa teknologi smart grid ini menemukan adanya potensi penghematan sekitar 10% pada tagihan energi rumah tangga dan 20% di wilayah industri. Walaupun demikian bukan berarti negara berkembang belum siap menerapkan listrik pintar ini. Negara-negara berkembang seperti India, Brasil, dan Korea Selatan pun sedang mengembangkan smartgrid ini.
Jika melirik pertumbuhan smart grid di dunia, Bloomberg.com pernah memberitakan bahwa investasi smart grid akan memiliki tingkat pertumbuhan hingga 10pc untuk lima tahun ke depan. Bloomberg memprediksikan bahwa nilai pasar akan berlipat ganda mencapai hingga US$25.2 trilun per tahun pada tahun 2018.

Bila melihat data dari General Electric (GE) di tiga tahun yang lalu, menyebutkan China memegang kendali sebagai jawara investasi smart grid. Hal ini seiring dengan pertumbuhan energi terbarukan di negeri itu. Menurut data yang disajikan itu menunjukan bahwa China menggelontorkan dananya untuk listrik pintar ini sekitar US$7.32 triliun. Posisi kedua disusul oleh Amerika Serikat yang tak tanggung-tanggung kuncurkan dana segar US$7.09 triliun. Kemudian di peringkat ketiga diduduki oleh Jepang dengan berinvestasi di smart grid sekitar US$849 miliar. Ini membuktikan bahwa keberadaan smart grid memang semakin mendesak untuk diimplementasikan.

Negeri Ini Masih Uji Coba
Berkembangnya smart grid ini di dunia, bukan berarti Indonesia hanya berdiam diri saja tanpa ikut melakukan penelitian yang menjadi kebutuhan dalam distribusi listrik saat ini. Bisa dibilang Indonesia sudah menerapkan hal itu tapi masih dalam skala uji coba. Teknologi ini pertama kali diterapkan di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur di pertengahan tahun lalu. Tak pelak penerapan uji coba itu disambut positif oleh Menteri Riset dan Teknologi Indonesia, Gusti Muhammad Hatta.

“Mengingat energy yang berasal dari fosil (BBM) akan habis, sudah saatnya Indonesia mengembangkan energi terbarukan seperti menggunakan tenaga surya / matahari, air dan angin. Oleh karena itu saya sangat mendukung pembuatan demo Plant Smart Micro Grid," katanya yang dilansir dari media.

Demo plant smart microgrid Sumba berada di Desa Billa Cenge, Sumba Barat Daya yang mengintegrasikan pembangkit surya berkapasitas 500 kWp ke dalam sistem jaringan 20kV milik PLN. Saat ini menurut Kepala Program Teknologi Smart Grid dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Andhika Prastawa mengutarakan bahwa di Indonesia untuk skala besar dari pembangkit belum ada.

“Setahu saya, di Indonesia untuk penerapan smart grid modern yang berasal untuk pembangkit itu belum ada. Jadi saat ini, sifatnya masih remote operation,” ungkapnya.

Ia pun melanjutkan, smart grid yang lebih modern lagi yaitu adanya indikator secara otomatis yang ditampilkan oleh komputer mengenai beban yang akan turun sebelum pada batas yang telah ditentukan. Jadi secara otomatis akan ada signal yang menandakan bahwa pembangkit mana yang harus dinaikan dayanya.

“Nah, itu sudah agak smart walaupun tidak terlalu automatic namun satu arah saja. Kita selalu hanya melihat ada beban dan bagaimana pembangkit itu bisa mengatasi. Kita belum bisa mengendalikan beban. Yang namanya smart ini harus dua pihak, jadi tidak sekedar dari sisi pembangkit tapi juga beban. Yang kemudian dari itu bisa melihat dan menghitung lebih ekonomis mana, apakah mematikan beban atau menambah pembangkitan pada saat terjadi krisis,” ujarnya.

Andhika menuturkan bahwa BPPT sedang melakukan studi kelayakan pada komersial blok seperti Sumarecon City, Podomoro, dan lain sebagainya untuk mencoba penggunaan smart grid ini. Jadi perusahan-perusahaan properti itu mempunyai satu komplek yang terdiri dari jenis beban yang kemudian ingin BPPT operasikan sebagai sub sistem kecil yang berpola smart grid.

“Dari itu kita bisa mengimplementasikan smart lighting dan mettering. Sehingga kami berharap ini nantinya bisa diimplementasikan secara efisien. Kita sedang melakukan studinya, harapan kami di tahun depan sudah bisa dilakukan,” tuturnya.

Meraba Bisnis Smart Grid
Pada dasarnya peluang untuk  berbisnis di smart grid ini juga terbuka, namun semua itu tergantung dari PLN. Sebab sebagaimana diketahui distribusi listrik seutuhnya diatur dan dilakukan oleh PLN. Tentu saja berbeda jika dibandingkan di luar negeri seperti Amerika. Menurut Presiden Director PT GE Technology Indonesia, Setio Soemartono mengatakan saat ini memang bisnis smart grid hanya bisa diimplementasikan untuk skala kecil seperti di daerah-daerah industri.

“Kawasan-kawasan industri itu kan punya pembangkit sendiri dan distribusinya juga mereka sendiri, teknologi seperti apapun bisa digunakan dan itu menurut saya sangat ideal. Tapi kalau jaringan umum, saya pikir bukan ke situ ya arahnya, tapi seperti yang saya kemukakan tadi. Smart grid juga tetapi untuk monitoring dan kontroling,” katanya.

Ia melanjutkan bahwa upaya untuk mengimplementasikan smart grid di jaringan umum saat ini model bisnisnya belum ada yang sesuai terkecuali sewa. Namun Ia pun tak yakin jika dengan model bisnis sewa akan berjalan dengan baik. Sebagai perusahaan yang bergerak di kelistrikan juga, GE pun sangat tertarik untuk bermain di sektor smart grid ini.

“Ya kita sangat tertarik untuk bermain di sektor smart grid di Indonesia, Indonesia memiliki potensi yang besar mengenai hal ini. Kalau kita sebagai teknologi provider kita siap, karena kita sudah memiliki teknologinya. Tapi jika sebagai investor ya masih ada kendala yang seperti tadi, di mana kita mau bermain di bisnis ini,” ungkapnya.

Ketika ditanyakan besaran investasi yang perlu digunakan, ia menuturkan bahwa tidak bisa diambil rata-rata untuk mengembangkan smart grid ini. Yang jelas menurutnya, ada beberapa faktor yang menentukan besaran investasi untuk smart grid ini, di antaranya secanggih apa sistem itu dibuat dan seberapa besar jaringan itu dibuat. Setidaknya dengan gambaran tersebut para investor yang akan mengkucurkan dananya mampu memprediksikan sebesar apa investasinya.

No comments:

Post a Comment