Sunday, 25 August 2013

Pembelajaran untuk Diri Sendiri

Ada beberapa esensi menarik yang harus dipahami dan menjadi pelajaran untuk saya sendiri sekaligus pembaca. Sehingga saya meminta ijin dengan mencatumkan nama penulis serta sumber yang didapat. Berikut adalah tulisan dari Syafiq Basri Assegaff ini sengaja saya copy-paste tanpa mengutak-atik isi dari artikel.

Wartawan versus praktisi PR
Wartawan dan para praktisi PR memang sering memiliki hubungan ambivalen. Di antara keduanya ada saling-ketergantungan, tetapi mereka juga sering saling curiga satu dengan lainnya.
Mengapa demikian?

Para wartawan berpikir bahwa para praktisi PR berada di tempatnya untuk menghambat jalan para jurnalis kepada sumber berita yang ingin mereka temui. Praktisi PR sering dianggap hanya menceritakan ‘sebagian kebenaran’ saja, mereka sering melakukan ‘spin’ untuk kepentingan organisasi mereka sendiri.
Konsekuensinya, jika jurnalis hanya mengutip ucapan mereka dan menulis berita berdasarkan materi PR -- yang biasanya hanya mengandung sebagian kebenaran -- maka para jurnalis itu akan merasa direndahkan atau dibodohi.
Di sisi lain, para praktisi PR merasa bahwa para wartawan kadang mencurigai mereka. Tenaga PR -- yang merasa telah menyediakan informasi sepenuhnya -- ada kalanya kecewa ketika melihat hasil berita yang muncul telah dipelintir, atau merasa ‘keterbukaan’ mereka telah disalahgunakan.

Akibatnya, muncul keruwetan dan keengganan bekerjasama, sehingga keduanya tidak berhasil memberikan layanan terhadap profesi masing-masing dan publik mereka. Hal itu makin diperparah oleh adanya anggapan bahwa, media lebih suka menyebarkan berita negatif ketimbang mempublikasikan berita baik -- sehingga muncul pameo dalam dunia jurnalistik, ‘bad news is good news.’

Akibatnya praktisi PR kecewa karena jurnalis seperti tidak memahami bahwa praktisi PR telah melakukan pelayanan luar biasa kepada masyarakat, dengan cara membuka kanal komunikasi antara organisasi mereka dengan media.
Bagaimana pun, yang tidak kita inginkan adalah bila terjadi ‘PR-ization of the media’. Bila itu terjadi, tentu kita akan mempertanyakan independensi jurnalis, berhubung mereka makin tergantung pada sejumlah sumber yang berpihak atau partisan, sementara publik tidak menyadari situasi itu.

Kalau wartawan dibatasi kecakapannya untuk bertanya dan menganalisa, akibat ‘tekanan’ praktisi PR, kita akan melihat makin menurunnya mutu berita. Kita juga akan menyaksikan makin banyaknya berita setengah matang, ‘voyeuristic’ dan dangkal – sehingga terjadilah ‘the dumbing down of the media,’ semacam pembodohan oleh media.

Mesti diingat bahwa belakangan ini makin banyak berita muncul berkat kerja keras para praktisi PR. Menurut Anne Gregory dari Leeds Metropolitan University, diperkirakan 80% berita yang muncul di halaman bisnis suratkabar dan sekitar 50% berita umum (general news) lazimnya muncul berkat kerja orang-orang PR, baik secara langsung atau pun tidak langsung.

Konsekuensinya, wartawan yang malas akan senang untuk menerima ‘tulisan jadi’ (pre-written copy) yang disiapkan praktisi PR, tanpa sedikit pun mempertanyakannya, dan senang pada ‘segala yang mudah’, tanpa merasa harus melakukan pengecekan fakta sendiri, atau ‘check and re-check’ dari sumber berita yang berbeda.Bila ini terjadi, publik akan merugi, karena peran kritis media menjadi tumpul.

*) Syafiq Basri Assegaff: Konsultan Komunikasi, pengajar di Universitas Paramadina dan The London School of Public Relations, Jakarta.
http://web.inilah.com/read/detail/2004429/ronaldo-dan-wartawan

No comments:

Post a Comment