“Menurut saya, tempat wisata di Indonesia jelas lebih baik daripada di Singapura dan Malaysia. Tapi saya harus bilang kalau kualitas akomodasi dan infrastruktur Indonesia lebih rendah,” ujar Clemens Scherrer, wisatawan asal Swiss yang dilansir dari media.
Alangkah kasiannya jika sebagian umat manusia di dunia masih tak mengenal Indonesia. Bukannya sombong, negeri ini memang indah dengan daya tarik alamnya yang memesona. Lihat saja, dari Sabang sampe Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote menyuguhkan pesona alam yang mampu memikat wisatawan untuk menjamah negeri ini. Dari tempat wisata yang telah kondang maupun yang belum terjamah orang banyak, seluruhnya menyimpan oase keindahan dan merepresentasikan negeri ini sebagai surga wisata. Dengan kekayaan sumber daya alam dan ragam budaya daerah di tambah dengan fasilitas yang sudah dimiliki di berbagai Daerah, Indonesia dipercaya akan menjadi salah satu negara tujuan Wisata Minat Khusus terbesar di dunia, dengan memiliki lebih dari 17.000 Pulau, dan garis pantai nomer 2 terpanjang di dunia. Dilintasi dengan garis khatulistiwa dan memilik hanya 2 musim, Indonesia relatif sepanjang tahun mendapat sinar matahari yang hangat sepanjang tahun, menjadikan Indonesia sebagai destinasi yang dapat di jual hampir sepanjang tahun.
Di lain pihak. tepat apa yang pernah diprediksikan oleh United Nations World Tourism Organization (UNWTO), pada tahun 2012 kawasan Asia Pasifik adalah kawasan yang memiliki pertumbuhan yang paling tinggi dari sisi pariwisata dengan peningkatan 7 persen pengunjung atau setara dengan kenaikan15 juta pengunjung internasional dibandingkan tahun 2011. Dan diperkirakan industri pariwisata di Asia Pasifik akan terus meningkat sebagai sektor yang paling ampuh bentengi krisis ekonomi. Bahkan, negara seperti China pun juga menjadikan industri pariwisata sebagai salah satu dari 5 pilar strategisnya dalam perencaan 12 tahun yang dicanangkan oleh Negeri Tirai Bambu itu.
Santer pesona wisata Indonesia bergaung hingga penjuru dunia. Bak gayung bersambut, ketenaran Indonesia terus dikumandangkan oleh pemerintah dan instansi swasta. Wajar, jika perlahan tapi pasti jumlah wisatawan mancanegara yang datang tumbuh dari tahun ke tahun. Di tahun 2013 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) fokus mempromosikan 16 destinasi wisata. Antara lain Gunung Kelimutu di Flores Nusa Tenggara Timur (NTT), Pulau Komodo di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Raja Ampat di Papua. Sementara tujuh produk wisata andalan yang dipromosikan meliputi kebudayaan dan peninggalan sejarah, wisata alam serta olahraga rekreasi. Ada pula pelayaran, kuliner dan belanja serta kesehatan. Tak terkecuali wisata MICE yang merupakan singkatan dari meeting, incentive, convention, and exhibition. Sementara di 2014, berdasarkan draft Renstra ini, pada 2014 Indonesia akan memiliki 15 destinasi wisata yang telah menerapkan tata kelola destinasi yang berkualitas (Destination Management Organization). Untuk pariwisata berbasis pedesaan, ditargetkan tahun 2014 akan ada 822 desa, naik dibandingkan 2011 yang hanya sejumlah 674 desa.
Saat ini, pemerintah menargetkan pada tahun 2013 jumlah penerimaan devisa dari wisatawan mancanegara (wisman) mencapai US$10,35 miliar. Target ini meningkat sekitar 14,11 persen jika dibandingkan dengan estimasi pada tahun ini yang hanya sekitar US$9.07 miliar. Pemerintah melalui Kemenparekraf yakin sektor pariwisata nasional diproyeksikan mampu menyumbang pendapatan sekitar US$28,85 miliar (Rp278 triliun) pada tahun 2013, naik 7,52 persen jika dibandingkan dari perkiraan perolehan pada tahun 2012 yang hanya berkisar Rp259,07 triliun. Sumbangan itu diperoleh dari pengeluaran wismandan wisatawan nusantara (wisnus) yang berkunjung dan berwisata di Indonesia. Sementara jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia hingga akhir tahun 2013 diperkirakan sebanyak 8.637.275 wisman, atau mengalami pertumbuhan sebesar 7,3 persen dibanding tahun 2012 sebanyak 8,04 juta wisman. Jumlah ini berdasarkan prediksi pertumbuhan kunjungan wisman pada November 2013 sebesar 5,52 persen maupun asumsi peningkatan kunjungan wisman pada Desember 2013 yang diperkirakan sama seperti Desember tahun lalu sebesar 0,53 persen.
Usaha pemerintah ini sepatutnya diapresiasi oleh banyak pihak. Meskipun demikian, tentulah bukan pemerintah yang berjalan sendiri, kerjasama berbagai pihak pun berkontribusi di antaranya dengan kementerian lain, pemerintah daerah, serta stakeholder terkait untuk memperbaiki aspek infrastruktur, konektivitas dan pelayanan. Sebab, tiga aspek ini berperan penting untuk meningkatkan kedatangan dan pergerakan wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Melihat hal itu, untuk mendukung terwujudnya misi pemerintah pusat sekaligus memperkenalkan pesona wisata Indonesia lebih mendalam, kontribusi pemerintah daerah sepatutnya sangat dibutuhkan guna menyosialisasikan daerah-daerah wisatanya.
Ada Emas di Balik Pesona yang Tersembunyi
Meskipun destinasi wisata terhampar tidak lantas semua pesona yang ada di negeri mampu terjamah wisatawan, miris. Ya, inilah keadaan sesungguhnya. Pesona itu masih 'terkubur'. Aksesibilitas menjadi salah satu point di mana masih menjadi kendala utama dalam menumbuhkembangkan destinasi wisata Indonesia. Tentu persoalan ini menyebabkan relatif rendahnya daya saing kepariwisataan nasional. Pun demikian mengenai belum optimalnya bandara, frekuensi penerbangan, dan kapasitas tempat duduk di beberapa destinasi dan pelabuhan laut dari dan ke destinasi-destinasi potensial masih menjadi kendala berkembangnya destinasi wisata di Indonesia.
Segmentasi pasar juga sangat diperlukan pada bidang pariwisata, seperti tour yang kini sedang berkembang yakni high-end tour. Bukan hanya kuantitas wisatawan saja yang perlu ditingkatkan tetapi diperlukan juga kualitas sedari wisatawan itu sendiri juga perlu ditingkatkan. Seperti pada contohnya, meskipun jumlah wisatawan di Indonesia sendiri lebih sedikit dari negara tetangga yakni Malaysia namun jumlah pengeluaran wisatawan di Indonesia dapat mencapai $1300 dibandingkan jumlah pengeluaran wisatawan asing di malaysia yang hanya berjumlah $400. Segmentasi pasar untuk bidang pariwisata akan mempermudah Indonesia untuk menarik wisatawan high-end.
Meskipun demikian, bagi pelaku bisnis, kendala infrastruktur menghambat minat mereka untuk mengembangkan daerah wisata di luar wisata mainstream. Padahal ketika bicara soal industri pariwisata, ada banyak komponen bisnis di dalamnya. Antara lain bisnis hotel, restoran dan penyedia jasa transportasi. Ada pula bisnis agen perjalanan, industri kecil menengah (IKM) yang banyak memproduksi aneka cindera mata hingga bisnis pertunjukan tradisional.
Maka tidak bisa ditepis jika hal infrastruktur telah siap untuk menembus pesona wisata yang belum terjamah negeri ini, tidak hanya wisatawan yang datang saja melainkan potensi bisnis segera terbuka lebar. Mengapa tidak? Berdasarkan data dari BPS, rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara per kunjungan menurut negara tempat tinggal pada 2012 (US$) yakni 1.133,81 tumbuh lumayan signifikan dibandingkan di tiga tahun yang lalu sekitar 995,93 di 2009, 2010 tumbuh 1 085,75, dan 2011 melejit pada 1 118,26. Sementara, rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara per kunjungan menurut negara tempat tinggal saat tahun 2012 (US$) yaitu 1. 133,81.
Namun, perlu diketahui juga selain kendala infrastruktur, baik para pelancong maupun pelaku bisnis mengaku wisata Indonesia terkendala dari sisi sistem informasi. Khusus bagi sektor perhotelan, ada kendala tambahan berupa kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas. Lantaran minim informasi ini, para pelaku bisnis lantas melakukan promosi secara mandiri karena tak ada atau tak sering mendapat tawaran kerjasama promosi baik dari Kemenparekraf atau dari pemerintah daerah. Tigerair Mandala memilih mempromosikan Surabaya, Medan, Bunaken, dan Bromo. Sasaran promosi adalah para wisatawan di Singapura, Hong Kong, dan China, sesuai dengan rute perjalanan maskapai ini. Diharapkan dengan adanya usaha-usaha yang telah atau akan dilakukan mampu mendompleng wisata bisnis Indonesia yang tentunya akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi di sektor wisata.
No comments:
Post a Comment