Friday, 16 August 2013

Digital Advertising Buah Bibir Era Digital

Tidak bisa ditepis fakta bahwa arus informasi teknologi secara global terus berkembang. Digital advertising adalah bagian dari perkembangan dunia ICT yang kini menjadi buah bibir para praktisi industri periklanan, pengiklan, dan publisher. 

Mashable pernah memberitakan tentang pertumbuhan digital advertising secara global di Januari lalu. Data tersebut ditulisnya dari riset yang dilakukan oleh eMarketer yang menyebutkan bahwa belanja iklan digital skala global mencapai US$100 miliar di 2012. Bahkan proyeksi tahun ini akan tumbuh lagi mencapai sekitar US$118 miliar. Sementara berdasarkan data riset dari Google, NAA, dan PIB mengenai perbandingan pendapatan iklan yang didapatkan Google dan media cetak di Amerika Serikat sangat mengejutkan.

Pendapatan iklan yang diterima Google dari tahun ke tahun hampir menyamai dengan media konvensional.
Mereka pun melihat keunggulan yang dimiliki media baru ini yang bukan saja mampu menciptakan awareness bagi sebuah brand, melainkan dapat berinteraksi dengan konsumen dengan berbagai cara.  Menurut Group Digital Strategist dari Artek Group, Amin Azman, salah satu kekuatan iklan digital adalah mampu menjamah lebih spesifik target audience yang disasar dan mampu meningkatkan ‘engagement’  lebih lama.


“Kalau bicara sasaran target audience yang lebih spesifik atau untuk meningkatkan efisiensi budget kita pada target tertentu, kita harus pakai kombinasi dengan digital. Karena dengan digital advertising, sasaran target audience yang dituju lebih mengena,” jelasnya.

“Menular” Sampai Indonesia
Tumbuhnya digital advertising dari tahun ke tahun secara global menular sampai tanah air, sehingga hal tersebut menciptakan ladang berbisnis bagi para pengusaha. Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I), Harris Thajeb menjelaskan bahwa digital advertising adalah peluang bisnis bagi industri periklanan.

“Banyak klien dari kami, meminta untuk melakukan mix media campaign juga dimasukan ke dalam ranah digital,” ungkapnya saat di wawancarai Teknopreneur via telepon.

Jika menilik belanja iklan di negeri ini pada September tahun lalu berkisar hingga mencapai mencapai Rp70 triliun. Dari nominal itu, lebih dari 60% kue itu dialokasikan untuk TV, 30% media cetak, dan sisanya, termasuk digital, masuk dalam kategori lain-lain. Walau persentasenya masih kecil, pemasaran iklan menggunakan medium digital terus mencatatkan grafik menanjak. Menurut Amin, trend terkini  di Indonesia digital advertising rata-rata akan menyerap 8% -15% dari total biaya belanja iklan. Hal ini menjadi sangat penting mengingat penetrasi konsumen Indonesia ke platform digital saja sudah lebih dari 20% dibandingkan total populasi orang Indonesia.    

Membuminya digital advertising ini juga tak lepas dari  bergesernya kebiasaan masyarakat Indonesia yang kini cenderung mencari informasi menggunakan internet. Terpisah, Direktur Ideosource, Andi S. Budiman menuturkan pertumbuhan dari tahun ke tahun digital advertising sangat signifikan. Ia memperkirakan pertumbuhannya 30% sampai 40% per tahun.

Menurutnya hal ini terjadi karena total dari pengguna internet di Indonesia yang berkisar 60 juta menciptakan sebuah mainstream adoption terhadap media. Jadi bukan tidak mungkin lagi nantinya perusahaan harus meningkatkan kampanye digital.

Model Bisnis dan Tantangan
Peluang yang masih terbuka lebar dengan plaftform digital yang sangat bervariasi , berimbas pula pada pola berbisnisnya. Menurut Amin Azman, model bisnis dalam digital advertising banyak ragamnya, mulai dari Cost per Duration (CPD), Cost per Mille (CPM), Cost per Click (CPC), atau Cost per Action (CPA). Penggunaan model bisnis tersebut juga tergantung dari kebutuhan pengiklan.

“Jadi semua tergantung kepada kebutuhan dari si kliennya dulu. Karena semua model bisnis digital advertising itu punya kelebihan dan kekurangannya,” imbuhnya.

Melihat dari itu, bukan berarti industri digital advertising ini tidak menemui tantangan yang berarti. Tantangan yang mendasar dalam digital advertising menurutnya adalah SDM. Saat ini masih bisa dikatakan terbatasnya SDM yang berpengalaman serta mengetahui seluk beluk dari media baru ini.

Tidak ada patokan sejauh apa ideal untuk SDM di industri digital advertising ini. Yang terpenting menurutnya, ada kemauan yang keras serta konsisten untuk menekuni bidang ini. Pasalnya, dari tahun ke tahun memang  jumlah SDM yang menggeluti dunia digital advertising di Indonesia bertambah, namun yang benar-benar mengetahui seluk beluk digital advertising jumlahnya masih terbatas.

Tantangan berikutnya adalah masalah privasi konsumen. Peran pemerintah pun juga menjadi salah satu faktor yang penting, sebab berbicara industri ini sudah pasti bersinggungan dengan privasi seseorang. Dia melanjutkan, perlu adanya dukungan dari pemerintah untuk ikut mengembangkan serta menjaga  industri dan ekosistem digital advertising  ini,  agar  para pelaku di ekosistem digital advertising di Indonesia dapat  berkembang  dan bersaing dengan perusahaan global yang mendominasi industri digital advertising di Indonesia.

1 comment:

  1. Memang seharusnya begitu, Digital Advertising saat ini sangat diperlukan untuk mempromosikan usaha/bisnis kita dengan kehebatan teknologi internet.
    Nice artikel sob.

    Kunjungi My Blog untuk mengetahui seputar Digital Avertising dan Digital Marketing: Zulton Digital

    ReplyDelete