Kebutuhan pangan di dalam suatu negara merupakan hal yang mutlak harus dipenuhi. Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat terutama pada negara berkembang menjadikan penerapan berbagai teknologi dan inovasi pertanian menjadi suatu keharusan, agar produksi dapat menunjang permintaan pangan yang tinggi.
Peningkatan produktivitas pertanian menjadi target kegiatan pertanian di berbagai negara. Karena dengan inovasi mampu menciptakan keunggulan dan mencukupi kebutuhan pangan sebuah negara. Berkaca dari kejadian-kejadian beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa keadaan ketahanan pangan nasional masih terbilang rapuh. Apalagi ditambah dengan implementasi perdagangan bebas antar kawasan (seperti ACFTA dan IAFTA), ketahanan pangan nasional menghadapi tantangan yang lebih kompleks. ”Daya saing” merupakan kata kunci untuk menghadapi persaingan di bidang produk pangan.
Selain itu juga faktor cuaca memang menjadi permasalahan yang sangat kuat dalam mempengaruhi produksi dan juga persediaan pangan global. Tidak bisa dipungkiri negara-negara produsen pangan utama seperti Amerika Serikat, Rusia, Brasil, Argentina, dan beberapa negara Asia seperti Indonesia dan Thailand telah secara bersamaan dilanda cuaca yang tidak menguntungkan pada tahun ini. Berawal dari tingginya curah hujan yang melanda Thailand yang menyebabkan produksi beras di negara tersebut mengalami gangguan.
Monday, 29 October 2012
Tuesday, 2 October 2012
Bisnis Iklan Online Google Melejit
Berdasarkan sebuah riset , Google akan memimpin semua kategori untuk iklan online termasuk pencarian dan mobile. Diprediksikan oleh perusahaan eMarketer Google akan mendapatkan pendapatan sekitar USD2,31 miliar atau setara dengan 15,4 persen dari pasar di 2012. Artinya perusahaan besutan Larry dan Sergey ini menjadi pemimpin pasar untuk iklan online.
Karena itu tidak bisa dibantah lagi bahwa Google akan menyalip Facebook dalam iklan tampilan online, setelah jaringan sosial itu mencopot pemimpin lama Yahoo! pada tahun lalu, kata eMarketer. Hal ini berarti Google sekarang memegang pangsa lebih besar dari perusahaan lain di setiap pasar iklan pada mesin pencarian, display, dan mobile AS.
Laporan itu menyebutkan bahwa Google pendapatan iklan Google akan melejit hingga 38 persen dari tampilan iklan online tahun ini. Sementara perusahaan Mark Zuckenberg ini, menurut konsultan, akan mendapatkan USD2,16 miliar dalam pendapatan iklan display tahun ini, naik 24,4 persen dari tahun lalu. Pangsa Facebook akan menjadi 14,4 persen.
Sedangkan Yahoo! diprediksikan pangsa pasarnya akan jatuh 9,3 persen tahun ini dari 11 persen tahun lalu dan 14 persen pada 2010. Sebab, dilihat dari pendapatannya hampir datar untuk iklan display. Perkiraan eMarketer mengatakan, secara keseluruhan pasar iklan display AS akan tumbuh 21,5 persen menjadi 14,98 miliar dolar AS dari 12,33 miliar dolar AS pada 2011, dibantu oleh pertumbuhan mobile; dan meningkatkan pertumbuhan belanja iklan video digital, terutama pada YouTube yang dimiliki Google.
Karena itu tidak bisa dibantah lagi bahwa Google akan menyalip Facebook dalam iklan tampilan online, setelah jaringan sosial itu mencopot pemimpin lama Yahoo! pada tahun lalu, kata eMarketer. Hal ini berarti Google sekarang memegang pangsa lebih besar dari perusahaan lain di setiap pasar iklan pada mesin pencarian, display, dan mobile AS.
Laporan itu menyebutkan bahwa Google pendapatan iklan Google akan melejit hingga 38 persen dari tampilan iklan online tahun ini. Sementara perusahaan Mark Zuckenberg ini, menurut konsultan, akan mendapatkan USD2,16 miliar dalam pendapatan iklan display tahun ini, naik 24,4 persen dari tahun lalu. Pangsa Facebook akan menjadi 14,4 persen.
Sedangkan Yahoo! diprediksikan pangsa pasarnya akan jatuh 9,3 persen tahun ini dari 11 persen tahun lalu dan 14 persen pada 2010. Sebab, dilihat dari pendapatannya hampir datar untuk iklan display. Perkiraan eMarketer mengatakan, secara keseluruhan pasar iklan display AS akan tumbuh 21,5 persen menjadi 14,98 miliar dolar AS dari 12,33 miliar dolar AS pada 2011, dibantu oleh pertumbuhan mobile; dan meningkatkan pertumbuhan belanja iklan video digital, terutama pada YouTube yang dimiliki Google.
Pengguna Aplikasi Instagram Meningkat Sepuluh Kali Lipat
Banyaknya pengguna perangkat mobile, berimbas pula pada aplikasi jejaring sosial foto Instagram. Aplikasi ini dikabarkan mengalami peningkatan trafik yang signifikan dari para pengguna mobile. Sampai-sampai situs mikroblog Twitter mampu dikalahkan jumlah trafik dari Instagram ini.
Hal tersebut berdasarkan pada sebuah penelitian di bulan Agustus yang dilakukan ComScore. Data dari comScore menunjukkan bahwa jumlah pengguna aktif harian Instagram telah meningkat hampir sepuluh kali lipat dalam periode enam bulan terakhir, terhitung sejak bulan Maret, ketika itu tercatat ada 886.000 pengunjung aktif perharinya. Pengguna Twitter yang mengakses dari perangkat mobile juga telah meningkat, tetapi peningkatannya lebih lambat.
Kurang lebih kini Instagram memiliki 7,3 juta pengguna aktif per hari yang mengakses dari perangkat mobile. Sementara Twitter, memiliki 6,9 juta pengguna aktif per hari dari perangkat mobile.Tak cukup sampai trafik penggunaannya saja, bahkan hingga waktu yang dibutuhkan pun diriset oleh mereka. Dari risetnya, dapat disimpulkan rata-rata pengguna Instagram menghabiskan waktu berselancar di aplikasi ini selama 257 menit dari perangkat mobile pada Agustus lalu. Dibandingkan dengan pengguna Twitter, rata-rata menghabiskan waktu selama 170 menit dari perangkat mobile.
Seperti diketahui, Twitter telah menyediakan aplikasi resmi untuk perangkat mobile bersistem operasi Android, iOS, BlackBerry, Windows Phone, dan Nokia S40. Sementara Instagram, saat ini hanya tersedia untuk perangkat Android dan iOS. Ia dikabarkan akan datang ke Windows Phone. Di sisi lain, angka-angka terbaru dari comScore jelas menunjukkan bahwa Instagram telah menemukan cara untuk membuat dirinya semakin menguasai pasar aplikasi mobile.
Hal tersebut berdasarkan pada sebuah penelitian di bulan Agustus yang dilakukan ComScore. Data dari comScore menunjukkan bahwa jumlah pengguna aktif harian Instagram telah meningkat hampir sepuluh kali lipat dalam periode enam bulan terakhir, terhitung sejak bulan Maret, ketika itu tercatat ada 886.000 pengunjung aktif perharinya. Pengguna Twitter yang mengakses dari perangkat mobile juga telah meningkat, tetapi peningkatannya lebih lambat.
Kurang lebih kini Instagram memiliki 7,3 juta pengguna aktif per hari yang mengakses dari perangkat mobile. Sementara Twitter, memiliki 6,9 juta pengguna aktif per hari dari perangkat mobile.Tak cukup sampai trafik penggunaannya saja, bahkan hingga waktu yang dibutuhkan pun diriset oleh mereka. Dari risetnya, dapat disimpulkan rata-rata pengguna Instagram menghabiskan waktu berselancar di aplikasi ini selama 257 menit dari perangkat mobile pada Agustus lalu. Dibandingkan dengan pengguna Twitter, rata-rata menghabiskan waktu selama 170 menit dari perangkat mobile.
Seperti diketahui, Twitter telah menyediakan aplikasi resmi untuk perangkat mobile bersistem operasi Android, iOS, BlackBerry, Windows Phone, dan Nokia S40. Sementara Instagram, saat ini hanya tersedia untuk perangkat Android dan iOS. Ia dikabarkan akan datang ke Windows Phone. Di sisi lain, angka-angka terbaru dari comScore jelas menunjukkan bahwa Instagram telah menemukan cara untuk membuat dirinya semakin menguasai pasar aplikasi mobile.
Thursday, 12 July 2012
E Commerce: Banyak Peluang, Banyak Tantangan
Seperti yang dilaporkan marketing.com, dalam hal belanja online dan minat beli, survei kembali menunjukkan bahwa perbedaan tersebut terus menyempit di kawasan Asia/Pasifik antara negara-negara yang telah “maju” dan negara-negara yang tengah berkembang. Seperti hasil survey ditemukan bahwa Thailand berada di posisi pertama sebagai negara dengan angka belanja online tertinggi (80%). Thailand dan Cina (93%), diikuti oleh Korea (84%), Malaysia (79%). Vietnam juga menunjukkan minat berbelanja online yang cukup tinggi (87%) meskipun persentase penggunaan internet untuk berbelanja online di negara ini cukup rendah (61%).
Secara keseluruhan, peningkatan terbesar dalam hal berbelanja online terjadi di Thailand (13%), Australia (+10%), Indonesia (+15%), Selandia Baru (+9), dan Filipina (+15). Sedangkan penurunan tercatat pada India (-14%), Singapura (-10%), dan Korea (-17%), meskipun negara-negara yang mengalami penurunan tersebut masih memiliki minat yang cukup tinggi untuk melakukan pembelian secara online (84%).
Mayoritas (71%) responden mengatakan mereka lebih memilih menggunakan laptop untuk berbelanja, namun saat ini penggunaan telepon seluler sebagai perangkat untuk berbelanja mengalami peningkatan sangat drastis di kalangan pembeli di negara-negara berkembang di Asia. Beberapa negara di Asia seperti Thailand (59%), Cina (37%), Vietnam (32%), dan India (32%), menunjukkan indeks yang lebih tinggi dibanding dengan di negara-negara maju.
Bagaimana dengan Indonesia?
Pertumbuhan internet yang cukup baik di Indonesia perlahan turut mengerek budaya belanja online di Indonesia. Pertumbuhan usaha perdagangan secara online atau e-commerce terus meningkat. Beberapa pemain e-commerce berani menargetkan pertumbuhan pendapatan di atas 20% hingga 150%. Berdasarkan data belanja dari Online MasterCard yang dilansir dari marketing.com, belanja online Indonesia meningkat 15%. Perbedaan dalam aktivitas belanja online antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang di kawasan Asia/Pasifik terus menyempit seiring meningkatnya antusiasme untuk melakukan belanja secara mobile di negara-negara Asia Tenggara. Demikian terungkap dari hasil survei yang dilakukan oleh MasterCard, MasterCard Worldwide Online Shopping Survey. Sementara itu, pada indeks kecenderungan untuk melakukan belanja online dalam enam bulan ke depan, Indonesia mengalami peningkatan 10% dibandingkan tahun sebelumnya dengan (77%).
Lebih lanjut, menyertai kenaikan 15% pengakses internet di Indonesia guna keperluan berbelanja online, terlihat pula peningkatan yang signifikan atas transaksi online yang terjadi dalam tiga bulan terakhir. Jumlah persentase responden yang mengakses internet untuk berbelanja online mencapai 57%, meningkat dari 42% pada tahun sebelumnya. Dan sejumlah 77% responden Indonesia melakukan setidaknya satu kali pembelian online dalam tiga bulan terakhir saat survei dilakukan—naik dari angka 56% di tahun sebelumnya.
Di lain pihak, Bank Indonesia sudah mengeluarkan peraturan terkait E-commerce di Indonesia. Melalui peraturan Bank Indonesia dan Undang-Undang, aturan itu menaungi perdagangan secara online.Namun, meski potensi perdagangan melalui e-commerce sangat besar, di Indonesia masih mengalami kendala. Yaitu soal keamanan baik itu pencurian melalui peretas atau modus lainnya. Seperti contoh kasus, dalam beberapa dekade terakhir ini, terdapat banyak tindakan pemalsuan (forgery) terhadap surat-surat dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan bisnis. Karena tindakan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab inilah yang menjadikan iklim bisnis di Indonsia menjadi rusak.
Meskipun dalam KUHP telah dituliskan Bab khusus yaitu Bab XII yang menyatakan bahwa tindak pemalsuan surat dapat dijerat hukum, namun ketentuan-ketentuan tersebut masih bersifat sangat umum. Yang dimaksud dengan Surat-surat dan dokumen-dokumen yang dipalsukan tersebut dapat berupa electronic document yang dikirimkan atau yang disimpan di electronic files badan-badan atau institusi-institusi pemerintah, perusahaan, atau perorangan. Seharusnya Indonesia memiliki ketentuan-ketentuan pidana khusus yang berkenaan dengan pemalsuan surat atau dokumen dengan membeda-bedakan jenis surat atau dokumen pemalsuan, yang merupakan lex specialist di luar KUHP.
Perkembangan Hukum di Indonesia dalam mengatasi permasalahan e-commerce yang kian marak terjadi ini, dirasa masih sangatlah kurang, sehingga para pelaku yang tidak bertanggung jawab dalam hal penipuan pada permasalahan e-commerce yang dirasa begitu kompleks ini sulit teratasi. Lalu bagaimanakah seharusnya yang dapat dilakukan? Problematika ini bukan lagi kita harus tunjuk muka kepada birokrasi, namun bareng-bareng bekerjasama baik dengan pemerintah, aparat, dan para pelaku e commerce untuk memonitoring dan melakukan sesuatu bilamana kejadian itu terjadi. Serta tentunya adanya kesadaran dari diri sendiri dari para oknum yang “menghancurkan” kepercayaan para konsumen yang tidak berdosa.
Bisnis Advergames Tak Main-main
Berdasarkan data dari Parks Associates, pengeluaran dalam game iklan diperkirakan akan meningkat dari $370,000,000 menjadi $2 milyar (USD) 2012. Sementara itu sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa 42% orang yang bermain game online. Lima puluh persen orang yang bermain advergames melakukannya untuk rata-rata 25 menit. Sembilan puluh persen orang yang menerima tantangan advergaming dari seseorang yang mereka kenal yang akan memainkan advergame ini. Di lain pihak, DFC (Lembaga riset pasar) memprediksikan laba yang diterima perusahaan game dari berbagai jenis akan meningkat dari tahun 2011 sebesar USS$ 52 Milyar dan di tahun 2017 US$70 miliar. Advergames bukan hanya untuk anak-anak, baik. Dalam sebuah studi 2004 yang dilakukan oleh comScore MediaMetrix, 25% dari gamer pada PC berusia 35-44 tahun, 25% dari gamer bermain game online gratis berumur 25-34 tahun, dan 33% dari mereka yang bermain game premium 25 -34 tahun. Selain itu, pendapatan bervariasi antara kelompok usia. Mengingat bahwa advergames merupakan konsep periklanan baru yang menggunakan teknologi Internet untuk melaksanakan kampanye pemasaran viral. Kekuatan game tidak sekedar memberikan informasi atau pemahaman, namun memberikan kesan mendalam, interaktifitas, pengalaman.
Tidak seperti iklan televisi, iklan dan pemasaran dalam Advergames tidak dianggap sebagai penyusupan oleh para pemain. Gamer adalah sukarela interaktif, dan bahan promosi yang terkandung dalam Advergames dipandang sebagai hanya bagian dari permainan, ini membuat para gamer bagian dari tindakan pemasaran bukan sebagai pengamat. Selain itu, karena pemain dapat mengakses Advergames selama jam kerja melalui internet, segmen besar dari populasi dapat dicapai dalam waktu yang sebelumnya dianggap tak tersentuh oleh pengiklan.
Sementara itu data Survei Nielsen menunjukkan, belanja iklan lebih banyak didorong sektor pemerintahan dan organisasi politik Rp2,182 triliun, telekomunikasi dan jasa (Rp1,770 triliun), korporat (Rp1,432 triliun), perusahaan otomotif (Rp1,162 triliun), dan properti (Rp1,055 triliun). Pada tahun ini, media Online diperkirakan merebut kue iklan hingga Rp1 triliun, setelah pada 2006 hanya Rp66 miliar dan 2009 sebesar Rp220 miliar.
Hal ini menjadikan para praktisi periklanan melirik kekuatan game sebagai salah satu media dalam mengkampanyekan produk atau brand yang ditanganinya. Game sebagai media kampanye produk dikenal sebagai advergame, atau game periklanan. Tidak seperti media iklan lainnya dimana kita hanya melihat logo brand atau produk saja, pada advergame, brand menyatu dengan cerita, misi maupun aktifitas lain dalam game. Jadi sebuah peluang besar dan sangat terbuka bagi Anda yang berminat untuk menjadi pengembang advergames.
Wednesday, 11 July 2012
Energi Terbarukan Menggemparkan Dunia
Sumber energi tidak terbarukan suatu saat nanti akan segera habis, tidak terkecuali bagi Indonesia yang masih mempunyai sumber energi tidak terbarukan untuk beberapa tahun lagi, khususnya untuk minyak bumi dan batubara. Energi adalah faktor penting bagi pembangunan sehingga keamanan energi merupakan masalah penting untuk mengamankan pembangunan. Kata kuncinya adalah efisiensi energi dan energi terbarukan.
Di samping itu, ketersediaan energi sangat penting peranannya dalam menjamin kelangsungan perekonomian dunia. Terganggunya pasokan energi ke suatu negara tertentu akan segera berdampak pada perekonomian global. Apalagi jika masalah tersebut terjadi di negara industri besar, maju dan berpengaruh. Saat ini, disamping menghadapi efek pemanasan global atau perubahan iklim sebagai akibat dari pemakaian energi fosil atau energi tidak terbarukan, dunia juga serius membahas permasalahan semakin terbatasnya sumber energi tersebut.
Monday, 21 May 2012
Facebook Diambang Kebangkrutan?
Perkembangan teknologi di bidang informasi terus berkembang. Begitu juga dengan media sosial. Salah satunya adalah Facebook, rintisan Mark Zuckerberg. Kini, jejaring sosial yang telah berusia sekitar delapan tahun itu telah mencapai 500 juta pengguna. Namun masa depan Facebook terus dipertanyakan. Permasalahannya adalah media sosial rentan sekali ditinggalkan oleh penggunanya dan sudah banyak contohnya. Seperti halnya Friendster, MySpace, dan Bebo.
Berbagai macam cara telah dilakukan oleh Facebook untuk mempertahankan kejayaannya. Tetapi, usaha-usaha yang telah dilakukanya untuk masa mendatang sepertinya sulit untuk menolong Facebook agar tidak berbalik 180 derajat dari posisinya sekarang. Artinya, Facebook diprediksikan tidak akan bertahan lama walaupun adanya genjotan inovasi. Seperti halnya terobosan layanan email yang diluncurkan oleh Facebook yang diperkirakan tidak bertahan lama.
Hal ini diungkapkan oleh ahli digital konsumen, Jeffry Cole. Cole mengemukakan pendapatnya bahwa sekarang ini walaupun pengguna Facebook telah mencapai angka setengah milyar dari penggunanya di seluruh dunia, namun hal tersebut akan berakhir lima tahun ke depan. Pasalnya, situs pertemanan besutan dari Mark Zuckerberg ini dinilai hanya mengacu pada selera remaja yang notebene cenderung berubah-ubah.
Subscribe to:
Posts (Atom)