Sudah menjadi rahasia umum ketika Indonesia hanya mengandalkan sumber daya alam yang semakin lama semakin tergerus. Sementara kemampuan industri untuk menciptakan inovasi-inovasi baru terkait teknologi dirasa sangat minim.
Berbagai pandangan tentang inovasi rasanya masih dianggap tak terlalu penting, toh hasil dari inovasi negeri ini tak terlalu membanggakan. Lebih baik membeli dari luar kemudian diimplementasikan di dalam negeri atau bahkan teknologi yang sudah ada dipoles sana-sini.
Meskipun keadaannya seperti di atas, peran inovasi teknologi sesungguhnya memberi arti bagi pertumbuhan bangsa terutama ekonomi. Cara pandang orang yang terkesan meremehkan inovasi teknologi bangsa sendiri berimbas kepada daya saing yang lemah jika dibandingkan dengan negara tetangga dekat.
Terbukti menurut Global Index Innovation (GII) 2013 memperlihatkan data yang sangat miris tentang peringkat Indonesia yang tertinggal jauh dari negeri tetangga. Laporan GII 2013 menyebutkan Indonesia menduduki peringkat 85 dari 142 negara. Tertinggal jauh dari Singapura yang menempati posisi ke 8 dan Malaysia di peringkat 32.
Thailand bahkan menempati peringkat 57 dan Brunei Darusalam di peringkat 74. Namun, dalam laporan terbarunya ini, peringkat Indonesia sudah terbilang sebenarnya sudah membaik dibandingkan tahun lalu yang menempati peringkat 100 dari 141 negara. Pun demikian terjadi dalam laporan World Economic Forum (WEF) 2012 terlihat peringkat Indonesia menurun drastis dari peringkat 45 menjadi peringkat 50.
Nampaknya penurunan daya saing negeri ini diindikasi dari rendahnya kesiapan teknologi dan inovasi yang belum diperhatikan serius oleh pemerintah. Lihat saja, berdasarkan data tersebut khususnya dalam soal kesiapan teknologi, Indonesia mesti tertunduk malu.
Bagaimana tidak, dari 142 negara yang disurvei, Indonesia hanya mampu berada di peringkat 94. Tak usah di level dunia saja, di sektor regional pun Indonesia mesti angkat tangan dengan tetangga sebelah yakni Malaysia yang berada di posisi 44, Vietnam di urutan 79, Filipina 83, dan 84 untuk Thailand.
Produk Sia-sia
Meskipun itu, tidak lantas kemudian negeri ini dikatakan tidak produktif menciptakan inovasi. Justru memang banyak sekali inovasi-inovasi yang telah diciptakan. Misalnya I Gede Wenten, dosen kimia asal Institut Teknologi Bandung (ITB).
Wenten menemukan IGW Emergency Pump, yang merupakan teknologi pompa, lengkap dengan filter guna menyediakan air bersih dalam kondisi darurat yang dioperasikannya cukup menggunakan tangan.
Ditambah, alat ini memiliki tingkat selektivitas yang tinggi sehingga mampu menghilangkan kekeruhan, bakteri, alga, spora, sedimen, kuman, dan koloid. Inovasinya ini ia produksi secara massal. Bahkan di beberapa waktu lalu, Pemprov DKI pernah menggunakan inovasinya ini untuk membantu korban banjir menyediakan air bersih.
Namun, banyak pula inovasi yang hanya sekadar inovasi dan tak bisa bersinergi dengan industri. Berdasarkan data dari Business Innovation Center (BIC), ada sebanyak 600 hasil inovasi yang telah dipublikasikan menjadi sebuah buku, tetapi hanya 8 persen yang mampu memikat hati industri untuk dipinang.
Berkaca dari data BIC, memperlihatkan bahwa negeri ini pun mampu menciptakan inovasi, namun sayangnya 92 persen inovasi yang dikembangkan oleh peneliti hanya menjadi dokumentasi yang menyesakkan file-file di sudut ruangan. Kenapa? Karena memang ada sebuah paradigma yang berbeda antara industri dan inovator.
Tentulah industri memandang sebuah inovasi harus mampu memberikan kontribusi kepada pasar yang dituju serta memberikan keuntungan bagi masa depan. Sementara inovator menciptakan inovasi hanya sebatas academic excellence semata yang kurang memperhatikan kemauan pasar.
Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, mengatakan agar para peneliti harus berorientasi pada kebutuhan pengguna. Memang tidak munafik, jika kini antara peneliti, pemerintah, dan industri masih berjalan sendiri-sendiri tanpa mempedulikan terciptanya budaya inovasi teknologi dalam negeri. Maka pemerintah selaku regulator seharusnya mampu menjembatani persoalan klasik ini.
Namun persoalannya adalah pada lemahnya intermediasi antar Akademisi, Bisnis, dan Government (ABG) yang tak rutin sehingga seringkali hubungan yang telah terjalin kurang jelas.
Kurangnya insentif juga antara peneliti dan industri yang mengakibatkan kurangnya kolaborasi yang terjalin. Di sisi lain, jumlah proposal lembaga dan peneliti yang mendaftar untuk berpartisipasi dalam program Insentif Riset SINAS 2012-2014 menurun.
Untuk jumlah proposal yang masuk dari 2.309 proposal pada 2012 menjadi 1.559 proposal untuk 2014. Inilah tentunya yang menjadi tantangan pemerintah bagaimana budaya inovasi di negeri ini tercipta.
(Published on Citizendaily.net)
No comments:
Post a Comment