Hari itu wajah Retno terlihat sumringah. Entah gerangan apa yang membuatnya nampak bahagia. “Hari ini saya sedang bahagia, Mas,” katanya sambil tersenyum. “Akhirnya, ada yang melirik juga,” lanjutnya kemudian. Wanita muda berparas ayu itu adalah seorang entrepreneur yang sedang memperjuangkan bisnisnya untuk mendapatkan dana segar dari acara yang diikutinya. Selepas meluapkan kegembiraannya, gadis asal Jawa Timur itu terlihat sibuk mengangkat telepon genggamnya dengan rona penuh kebahagiaan. “Butik kita, dapat dana segar sekaligus coaching!,” ungkapnya senang kepada orang yang berada di ujung seberang sana. Kembali ia mendekat dan menceritakan tentang bisnis yang sedang digelutinya pasca menutup pembicaraan dengan orang yang berada di seberang sana. “Butik yang saya kerjakan itu selalu ada inovasi baru yang kreatif dan customize sehingga mungkin para venture capital tertarik dengan bisnis ini,” paparnya merendah. Dengan melakukan hal yang berbeda dan kreatif, katanya, akan memberikan nilai tambah bagi sebuah produk.
Ya, memang tidak bisa dimungkiri jika dunia kini tengah memasuki pada tren ekonomi kreatif. Tren yang dikenal dengan nama The Fourth Wave ini lebih menitikberatkan pada kreativitas dan ide-ide untuk mengubah ilmu pengetahuan serta informasi menjadi bentuk yang bernilai tinggi. Jauh sebelum ekonomi kreatif booming saat ini, prediksi akan datangnya tren ini telah banyak ditulis oleh John Howkins, Richard Florida, dan John Hartley. John Howkins, umpamanya. Melalui buku karangannya; The Creative Economy: How People Make Money from Ideas, ia menjelaskan secara sederhana tentang prinsip ekonomi kreatif yang sejatinya hanyalah kebiasaan untuk berpikir kreatif yang mampu berkontribusi menjadi nilai tambah bagi sebuah produk. “Teorinya” itu terbukti saat tahun 1997, di mana Amerika Serikat mampu mengantongi USD414 miliar dari hak paten atas kekayaan intelektualnya sehingga menjadikan negara ini sebagai negara pengekspor nomor wahid di dunia.
'Teori' itu nampaknya mulai diadopsi menjadi sebuah praktik oleh bangsa-bangsa lain yang tak ingin limbung dihajar keterpurukan ekonomi. Tak perlu negeri-negeri di Eropa yang terang-terangan mengakui mujarabnya ekonomi kreatif, namun kini di Asia pun mulai bergema. Mengeksplorasikan ide-ide kreatif baik berupa barang, budaya, bahkan teknologi. Korea Selatan (Korsel) misalnya, apa itu? Tentulah kalau bukan K-Pop, drama Korea, film Korea, dan lain sebagainya. Benar saja, lewat aksi itu, Korsel diperhitungkan dalam kancah ekonomi kreatif dunia. Era itu, mereka sebut dengan future of economy yang berbasis pada Information and Communication Technology (ICT) dan ekonomi kreatif.
Melalui komitmen itulah kini Korsel bak puteri cantik jelita yang tersenyum manis melihat geliat hasil kreatifitas anak bangsanya mendunia. Meskipun demikian, tidak semudah membalikkan telapak tangan agar ekonomi kreatif tumbuh menjadi industri kreatif yang besar. Tentunya, di awal implementasinya itu Korsel pun berdarah-darah, butuh perjuangan, investasi, peningkatan ilmu pengetahuan teknologi, dan komitmen pemerintahnya. Pada awal mula kepemimpinan Park Geun-Hye, ia berkomitmen untuk menata tiga bidang ekonomi kreatif, di antaranya; industri perangkat lunak, pemerintahan yang lebih terhubung dan terbuka, serta membantu startup.
Begitu juga dengan China. Melalui kreativitas dalam penguasaan dan penciptaan teknologi, negeri pimpinan Xi Jinping terus melakukan lompatan ekonomi dan memproduksi banyak sekali produk teknologi. Negeri tercinta kita ini, pun menjadi sasaran market mereka. Ironisnya, dahulu secara lantang kita pantang terhadap produk China, menganggap inovasinya tak bermutu. Namun nahas, kini justru kita malu-malu kucing, menggandrungi produk mereka. Bukan begitu?
Detik-detik AFTA
Setahun lagi lonceng Asean Free Trade Area (AFTA) dibunyikan. Gempuran produk-produk ASEAN akan terjun bebas di setiap negara Asia dan berpotensi menggurita. AFTA ini adalah sebuah komitmen dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan yang dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN. Belum lagi ditiadakannya hambatan baik tarif maupun non tarif yang pastinya akan membuat produk luar negeri dengan mudahnya menginvansi negara-negara di Asia.
Berkaca dari itu, persiapan memang harus dimatangkan. Segala daya dan upaya dikumpulkan menjadi satu. Sebuah energi yang kuat yang mampu membentengi serbuan produk asing. If you don't transform, your'e stuck, begitu kata CEO Xerox, Ursula Burns. Bahkan, jika kesiapan itu sama sekali tidak ada, alamat sudah negeri itu bakal menjadi bulan-bulanan. Dan yang tersisa hanyalah kutukan-kutukan dari rakyatnya kepada kebijakan negaranya yang kurang inisiatif melahirkan solusi baru di tengah 'perang' produk antarnegara. Kejam memang AFTA ini, tapi tujuan hakikinya adalah seperti yang sudah disampaikan tadi. Bagaimana jika Indonesia tercinta ini belum siap? Menyedihkan, bukan?
Tapi, tenang saja. Negeri ini masih bisa bernafas dari gempuran barang impor yang terus merangsek meskipun energi untuk melesat pesat masih sangat dibutuhkan. Menjelang akhir tahun lalu, berdasarkan data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) omzet industri kreatif di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 600 triliun, tumbuh rata-rata 10 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 530 triliun. Tapi tentulah, ekonomi kreatif masih kalah hebat dengan jurus perut bumi yang masih dipandang seksi. Karena itulah Lex Reiffer seorang ekonom Amerika berdalil kendati ekonomi tanah air tumbuh hingga enam persen per tahun, namun pertumbuhan itu hanyalah semu. Sabdanya itu pun didasari oleh fakta bahwa negeri ini memang masih tergantung terhadap sumber daya alam yang kian menipis.
Kritikkannya itu, sudah sepantasnya menjadi acuan kita untuk mencari ladang pendapatan baru demi masa depan tanpa harus mengutuk ketetapan AFTA. Saatnya belajar menghadapi kapitalisme global secara cerdas. Satu-satunyacara adalah dengan mengembangkan ekonomi kreatif yang tetap melekatkan identitas negeri ini. Sudah barang tentu, dengan mengembangkan ekonomi kreatif artinya juga harus menumbuhkan jumlah wirausahawan, pastinya. PR terberat ini, tentulah tidak hanya dilakukan oleh salah satu pihak saja, melainkan semua harus bersinergi baik pemerintah, akademisi, dan pengusaha menjadi energi yang luar biasa untuk mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif. Hal ini mengingat total pengusaha Indonesia baru sekitar 1,6 persen dari total penduduk yang sekitar 240 juta orang. Sementara berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri, pertumbuhan tenaga kerja per tahun mencapai 2,91 juta orang. Namun, pertumbuhan lapangan pekerjaan hanya 1,6 juta orang. Inilah yang menyebabkan ketimpangan sosial yang terjadi sehingga menciptakan banyak pengangguran. Bila ekonomi kreatif terus tumbuh, niscaya mampu menyedot menyedot tenaga kerja mencapai 11,872 persen dari total lapangan kerja nasional.
Ekosistem Inkubator Bisnis
Tak mudah memang saat memperjuangkan bisnis kreatif disaat hantaman impor menggeliat. Persaingan semakin ketat sekali yang terkadang produk kreatif besutan negeri harus tersungkur dan mengibarkan bendera putih atas kekalahannya. Inilah yang menjadi fokus utama kita bersama untuk mengembangkan industri kreatif yang kuat dan berdaya saing global. Lantas, bagaimana caranya? Untuk meningkatkan tumbuhnya wirausaha baru di bidang ini, tentulah harus ada cara yang berbeda yakni dengan program inkubator di mana si calon entrepreneur dilatih untuk mengembangkan usahanya. Mulai dari branding, strategi pemasaran, manajemen, sekaligus riset inovasi agar usahanya terus berkelanjutan.
Dalam sebuah laporan yang dikutip dari US Small Business Administration, menunjukkan bahwa 66 persen perusahaan masih stabil di dua tahun pertama, di dua tahun kedua atau empat tahun selanjutnya mulai berguguran, 44 persen perusahaan yang mampu bertahan di dua tahun kedua. Kemudian, di usia enam tahun atau dua tahun ketiga potensi kegagalan mencapai 60 persen. Maka wajarlah jika program inkubator bisnis diperlukan bagi para calon wirausahawan ataupun start-up. Ada sebuah fakta yang menarik lagi dari sebuah riset yang dilakukan di Amerika di beberapa tahun yang lalu tentang efek adanya program inkubator, yaitu 87 persen dari para wirausahawan baru yang melalui program ini dapat bertahan dan menjalankan bisnis dengan baik. Tak mau kalah, Eric Ries dalam bukunya The Lean Startup pun berujar tentang program inkubator, dapat mengontrol sekaligus lebih menjamin produk yang dikeluarkan oleh startup akan berhasil di pasar. Pernyataannya itu terlontar dengan anggapan bahwa mereka tentunya telah melalui trial and error yang berkali-kali sehingga nantinya bisa dipastikan dan berujung pada sebuah pertumbuhan.
Fasilitas inkubator bisnis ini pastinya akan mampu menumbuhkan iklim wirausaha di sebuah negara. Indonesia kini nampaknya sedang getol menggenjot wirausahawan baru melalui program inkubator. Setidaknya sudah ada beberapa pihak yang dengan setulus hati menumbuhkembangkan industri kreatif agar lebih digdaya melalui program-program inkubasi yang tentunya berpotensi melahirkan wirausahawan baru di negeri ini. Seperti halnya Wirausaha Muda Mandiri, Mandiri Young Technopreneur, Indigo Inkubator, INAICTA, dan lain-lain. Syukur-syukur dengan program ini mampu menjadikan sebuah ekosistem kewirausahaan di negeri ini.
Bahkan kira-kira di bulan April 2013 lalu, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah menyetujui adanya Peraturan Presiden (PerPres) No 27 tahun 2013 tentang Pengembangan Inkubator Wirausaha. Lengkaplah sudah jika pemerintah mendukung adanya program ini untuk mengembangkan wirausaha yang kreatif dan didukung dengan ilmu pengetahuan serta teknologi yang memadai. Pastinya jasa pemerintah, akademisi, dan pengusaha akan sangat membantu mendorong tumbuhnya wirausaha baru yang berkontribusi pada daya saing negeri ini.
Meskipun demikian, jumlah inkubator di negeri ini masih minim. Kalah telak bila dibandingkan dengan negara-negara Eropa maupun Asia. Berdasarkan data dari National Incubation Network Association (NINA), Amerika Serikat memiliki lebih dari 1300 inkubator bisnis, Cina lebih dari 600, Korea Selatan lebih dari 270, Jepang lebih dari 200, India lebih dari 110, Taiwan lebih dari 97, Malaysia lebih dari 106, Uzbekistan lebih dari 20 dan Eropa lebih dari 900 inkubator bisnis. Rasanya memang tidak ada patokan yang tepat berapa idealnya inkubator bisnis di sebuah negara, namun dengan banyaknya inkubator wirausaha keniscayaan ketangguhan industri kreatif negeri ini mampu diandalkan.
Maka dari itu, Retno pun berharap tidak hanya dirinya saja yang bisa beruntung mendapatkan dana segar dan tentunya business coaching, melainkan Retno-retno lain yang sedang berusaha memajukan usaha kreatifnya pun turut dibantu. “Saya berharap, teman-teman di luar sana yang sedang berjuang mengembangkan bisnis kreatif pun dibantu agar kami tumbuh bersama,” ujarnya penuh harap.
No comments:
Post a Comment