Arah kebijakan baru Indonesia akan dimulai tahun ini hingga lima tahun mendatang. Tak sedikit yang menduga-duga, akan dibawa kemana negeri ini pada 2014-2019? Beragam ekpektasi kemudian bermunculan, termasuk kebijakan baru di ranah ekonomi.
Dalam diskusi "Menyongsong Peta Baru Kebijakan Ekonomi Indonesia" di Jakarta (7/04/2014) lalu, Menteri Keuangan, Chatib Basri optimistis jika pemerintahan baru mendatang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional hingga 6,1 persen, jika kebijakan yang dilakukan tepat dan meningkatkan pembangunan infrastruktur.
Tahun 2014 memang tahun yang penuh tantangan bagi perekonomian Indonesia. Menurut Komite Ekonomi Nasional (KEN) dalam bukunya berjudul "Prospek Ekonomi Indonesia 2014", ada tiga siklus dalam posisi menurun pada saat yang bersamaan. Ketiganya yaitu siklus komoditas, siklus kredit/prospek likuiditas 2014, dan siklus politik.
Kombinasi ketiga siklus inilah yang menjadi penghambat utama pertumbuhan ekonomi dan ancaman terhadap stabilitas ekonomi pada tahun 2014. Namun jika pemimpin baru Indonesia piawai dalam melakukan strategi dan memperkuat fondasi ekonomi, niscaya ekonomi nasional akan menguat di kwartal IV.
Salah satunya, mengencangkan produksi di sisi hulu agar negeri ini tidak harus mengimpor barang terlalu banyak ketika ekonomi tumbuh dengan cepat.
Tekan Pertumbuhan
Berdasarkan ramalan Asian Development Bank (ADB), pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menurun hingga 5,7 persen di tahun ini sebelum melejit menjadi 6 persen di 2015.
Perlambatan ekonomi negeri ini tentulah bukan tanpa sebab. Menurut pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, David Sumual, beragam persoalan muncul lantaran beberapa faktor yang memicu hal itu.
Pertama adalah faktor ekspor-impor yang disinyalir masih sedikit berkontribusi terhadap perekonomian. Aturan pemerintah terhadap pelarangan ekspor mineral yang dikuatkan dalam Undang-Undang Mineral dan Batu Bara (Minerba) Nomor 4 Tahun 2014 dan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2014, diklaim menghambat pertumbuhan ekonomi. Di sisi impor, Cina sebagai “sahabat” dagang utama juga sedang melambat ekonominya pada kisaran 7 persen sampai 7,5 persen.
Persoalan yang kedua adalah perlambatan investasi yang diperkirakan bergerak hanya di bawah 5 persen. Perlambatan itu ditengarai, lantaran para investor tidak mau mengambil risiko investasinya di saat situasi politik yang belum stabil akibat pemilihan umum.
Ketiga, kontribusi pengeluaran pemilu juga terbatas. Jumlah partai politik yang menjadi peserta pesta rakyat minim. Keempat, belanja pemerintah diperkirakan rendah lantaran menteri sudah tidak fokus pada tanggung jawabnya.
Tidak hanya persoalan dari dalam negeri saja yang bakal memusingkan calon pemimpin baru bangsa ini. Ketidakpastian ekonomi global pada 2014 masih menjadi momok yang mengerikan.
Meskipun perekonomian global memang diharapkan akan sedikit lebih baik di tahun 2014, namun jangan lupa bahwa Amerika Serikat (AS) masih kuat, masih mampu menimbulkan efek yang besar dengan berdampak pada perekonomian global, melalui kebijakan tapering maupun isu batas utang dan anggaran yang belum tuntas.
Eropa pun belum akan tumbuh dengan terlalu kuat, sementara Cina dan India masih akan tumbuh dengan laju yang relatif lambat. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) nampaknya mesti berhati-hati dalam memutuskan kebijakan menanggulangi defisit ini.
Memperlambat pertumbuhan ekonomi mungkin alternatif pilihan yang baik. Walau begitu, pemerintah jangan pula terlena dalam mengerem pertumbuhan ekonomi, hingga tertekan terlalu dalam. Tentunya hal itu akan dapat menjerumuskan ekonomi ke dalam perlambatan pertumbuhan yang parah, bahkan ke dalam masa resesi.
Memang persoalan ini tidak mudah. Namun siapa pun presidennya, harus melakukannya dengan sesegera mungkin demi menghindari perlambatan ekonomi yang terlalu dalam. Jika tak dilakukan dengan cepat maka peningkatan pengangguran dan kemiskinan akan terjadi yang pada akhirnya tentulah mengganggu stabilitas perekonomian secara menyeluruh.
(Citizendaily.net)
No comments:
Post a Comment