Sunday, 29 September 2013

Memetakan Kembali Jagoan Merek Tanah Air

Sebagai negara yang terus tumbuh ekonominya, Indonesia menjadi pasar yang potensial sehingga kini telah banyak bermunculan merek-merek yang meramaikan jagad pasar negeri ini. Tak pelak, persaingan merebut hati konsumen untuk menggunakan produk atau jasanya kian kompetitif. Indonesia Best Brand Award (IBBA) kembali memetakan jawara merek di bidangnya.

Wajar, jika dalam persaingan, ada yang menang sebagai leader di bidangnya dan ada yang kurang beruntung dalam pencapaian marketnya bahkan ada pula yang belum sempat merasakan masa kejayaan. Tentulah kejadian-kejadian itu, menunjukan bahwa setiap merek harus bisa survive di pasaran. Kendatipun demikian, tidak lantas kemudian merek-merek yang unggul hanya berdiam diri dan menikmati masa jayanya, justru di posisi tersebut harus tetap waspada dengan melakukan inovasi-inovasi baru sesuai dengan kebutuhan para konsumen. Ya, artinya merek-merek itu harus bertarung mati-matian guna mempertahankan dan bahkan menancapkan secara kuat eksistensinya di pasar yang makin mapan. Sudah barang tentu, diperlukan racikan strategi yang mampu mengukuhkan merek seperti kekuatan channel, pricing strategy, strategi promosi, serta harus berjalan secara simultan dan terintegrasi.

Wednesday, 18 September 2013

Google Ciptakan Perusahaan Kesehatan

Teknologi memang tidak bisa dibatasi, inovasi bakal terus “digoyang” seiring kebutuhan yang akan membantu manusia. Mungkin saja khayalan Google bakal terwujud dan Anda pun akan merasakan betapa berharganya pengembangan teknologi ini. Ya, Google, rakasasa internet dunia ini dikabarkan akan mendirikan sebuah perusahaan baru yang bergerak di sektor kesehatan, Calico adalah nama perusahaan baru itu. Perusahaan baru ini akan dijalankan terpisah dari Google. Reuters menulis (18/09), perusahaan besutan Google ini akan bekerjasama dengan Apple Inc dan Genentech Chairman Art Levinson untuk mengembangkan teknologi yang berhubungan dengan penuaan.

Sunday, 25 August 2013

Pembelajaran untuk Diri Sendiri

Ada beberapa esensi menarik yang harus dipahami dan menjadi pelajaran untuk saya sendiri sekaligus pembaca. Sehingga saya meminta ijin dengan mencatumkan nama penulis serta sumber yang didapat. Berikut adalah tulisan dari Syafiq Basri Assegaff ini sengaja saya copy-paste tanpa mengutak-atik isi dari artikel.

Friday, 16 August 2013

Digital Advertising Buah Bibir Era Digital

Tidak bisa ditepis fakta bahwa arus informasi teknologi secara global terus berkembang. Digital advertising adalah bagian dari perkembangan dunia ICT yang kini menjadi buah bibir para praktisi industri periklanan, pengiklan, dan publisher. 

Mashable pernah memberitakan tentang pertumbuhan digital advertising secara global di Januari lalu. Data tersebut ditulisnya dari riset yang dilakukan oleh eMarketer yang menyebutkan bahwa belanja iklan digital skala global mencapai US$100 miliar di 2012. Bahkan proyeksi tahun ini akan tumbuh lagi mencapai sekitar US$118 miliar. Sementara berdasarkan data riset dari Google, NAA, dan PIB mengenai perbandingan pendapatan iklan yang didapatkan Google dan media cetak di Amerika Serikat sangat mengejutkan.

Pendapatan iklan yang diterima Google dari tahun ke tahun hampir menyamai dengan media konvensional.
Mereka pun melihat keunggulan yang dimiliki media baru ini yang bukan saja mampu menciptakan awareness bagi sebuah brand, melainkan dapat berinteraksi dengan konsumen dengan berbagai cara.  Menurut Group Digital Strategist dari Artek Group, Amin Azman, salah satu kekuatan iklan digital adalah mampu menjamah lebih spesifik target audience yang disasar dan mampu meningkatkan ‘engagement’  lebih lama.

Panasnya Belum Mencapai Titik Didih

Menilik kondisi geografis di Indonesia, potensi pemanfaatan untuk energi terbarukan sungguh luar biasa. Dari sekian sektor energi non fosil ini, salah satunya yang menjadi buah bibir saat ini adalah panas bumi. Siapa yang tak menggelengkan kepala manakala cadangan energi panas bumi di seluruh dunia 40% nya ada di negeri ini, tepatnya 29.000MW atau setara dengan 3GW. 

Melihat prosentase cadangan panas bumi ini yang dimiliki Indonesia, pemerintah pun lantas tak tinggal diam. Tahun lalu, pemerintah lewat Menteri ESDM, Jero Wacik mengeluarkan aturan feed in tariff terbaru pada Peraturan Menteri (Permen) nomor 22 tahun 2012. Hal ini terkait keinginan Jero di 2014 nanti sudah banyak listrik yang bersumber dari panas bumi.

"Sebanyak 40 persen geothermal dunia ada di Indonesia, dan sekarang sudah diekploitasi 6 persen. Saya mengharapkan di 2014 angkanya bertambah,” tegasnya dari media lokal.

Dengan ditetapkannya harga baru ini, pemerintah mengharapkan adanya gairah para investor untuk turut berkontribusi menumbuhkan angka pada ekplorasi energi ini nantinya. Sekitar November lalu, PLN telah melakukan perjanjian untuk meningkatkan rasio energy mix melalui pembangunan pembangkit energi baru dan terbarukan dengan PT Supreme Energy Rantau Dedap. Nantinya, diharapkan PLTP Rantau Dedap 2x110MW ini akan dapat menghasilkan 1734,5GWh per tahun. Unit 1 direncanakan akan beroperasi secara komersial pada Januari 2017 dan beroperasi penuh (Unit 1 & 2) pada Maret 2017.

Ketika Listrik Menjadi Pintar

Setelah berkembangnya energi terbarukan di dunia, saat ini tantangan besar dalam dunia kelistrikan adalah membangun sebuah jaringan listrik yang mampu mendistribusikan energi lebih akurat sesuai dengan permintaan atau dikenal dengan smart grid. Maka dari itu, untuk mencapai hasil yang maksimal, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) pun diterapkan. 

Para ilmuwan di dunia kini mulai mengembangkan teknologi smart grid atau smart electrification, suatu jaringan listrik yang secara cerdas mengintegrasikan mulai dari pembangkit hingga sampai ke konsumen pengguna dengan aman dan efisien. Menurut Badan Energi Amerika Serikat, smart grid merupakan kelas teknologi yang digunakan untuk sistem pengantar listrik di abad 21, menggunakan pengendali berbasis komputer dan mesin. Teknologi ini menghubungkan pembangkit-pembangkit dari berbagai macam kepada konsumen baik rumah atau bisnis. Teknologi berbasis komunikasi dua arah ini sudah dipakai di industri lain, namun baru menjelang abad 21 ini diterapkan di industri perlistrikan.

Aneka Macam Bisnis Sistem Manajemen Pendidikan

Sektor pendidikan pun tak jauh dari kata teknologi. Dengan teknologi seperti sistem manajemen yang terintegrasi mampu ciptakan kemudahan bagi institusi pendidikan, siswa, dan orangtua.

Melihat dari salah satu tujuan Millenium Development Goals (MDGs) adalah penggunaan Teknologi Informasi (TI) dalam dunia pendidikan. Maka kontribusi dalam penggunaan perangkat teknologi pun akan semakin dipacu untuk tercapainya tujuan MDGs. Menurut Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Ilmu Komputer (APTIKOM), Eko Indrajit menjelaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu industri
yang banyak dipengaruhi oleh perkembangan IT.

“Berdasarkan riset, pendidikan sebagian besar dipengaruhi oleh IT. Ada sejumlah alasan kenapa hal IT menjadi demikian di dunia pendidikan,”ujarnya ketika di temui Teknopreneur di kediamannya.

Ia melanjutkan, alasan itu di antaranya adalah fenomena digitalisasi yang mana sekarang menjadi tren di hampir seluruh dunia. Kedua, kecepatan teknologi yang terus berkembang sehingga memaksa peran teknologi pun menjadi demand bagi dunia pendidikan. Ketiga, efek teknologi yang mampu menembus ruang dan waktu. Dan yang keempat adalah karena keterbatasan memori manusia yang tidak selalu dapat menghafal semua materi yang diberikan. Dengan adanya fenomena itu maka tidak bisa dipungkiri lagi bahwa keberadaan IT sangat dibutuhkan.