Monday, 13 December 2010

Petarung Waktu dari Kampung

Bercita-citalah yang tinggi, bermimpilah yang besar. Reguk madu ilmu sebanyak-banyaknya. Jelajahi Indonesiamu yang luas, jengkali Afrika yang eksotis, dan jelajahi Eropa yang megah. Semua itu bukan seberapa besar mimpi kita, tapi seberapa besar kita untuk mengejar mimpi itu”
(Sang Pemimpi)

Berawal dari pencarian referensi untuk skripsiku di perpustakaan kampus. Kedua mataku seketika terpaku pada penelitian orang tentang novel trilogi Laskar Pelangi. Bukan soal bagaimana penelitian yang ia lakukan. Namun, aku lebih menitikberatkan pada gambaran umum tentang pengarang dan novel-novel yang ia telurkan. Karena kebetulan Andrea Hirata saat itu bersekolah di SD Muhammadiyah Gantong, Belitung. Sama seperti aku juga, lulusan SD Muhammadiyah, cuman beda tempat aja. Hehehe...

Saat aku membaca gambaran umum tentang novelnya, serasa aku teringat kembali teman-teman SD ku. Kalo Andrea Hirata dalam novelnya boleh menyebut teman-temanya dengan ‘Laskar Pelangi’, maka aku memanggil kawan-kawan SD ku ‘Petarung Waktu dari Kampung’. Keren kan, Sob? Hehehe..


Monday, 29 November 2010

Masih Penasaran dengan Selamet Teka

Rutinitas bagi anak muda seperti aku yang baru pulang dari kota rantauan, selain bertemu kedua orangtua adalah berjumpa dengan kawan lama. Malam itu, aku lagi maen di rumah temenku. Wawan Darkum namanya. Obrolan yang gak tentu arah, ditemani dengan kopi manis, rokok, dan jajanan yang seadanya serta pemandangan di rumahnya yang bikin mata sepet, menjadi awal pertemuan dengan temen lamaku itu. Kenapa sepet? Ya, soalnya pemandangan yang disuguhkan di rumahnya cuman drum-drum yang berisikan solar buat kapal. Wajar, keluarga Popeye. Bapaknya mantan pelaut dan kakak laki-lakinya ngejual solar buat bahan bakar kapal. Hehehehe.. (just kidding, guys!)

Tapi tak apalah, yang penting adalah silaturahmi yang efeknya nanti bisa mempererat tali persaudaraan. Betul, kan?

Tiba-tiba bunyi SMS khas HP Nok Ria miliku berbunyi. Langsung kubuka dan ternyata SMS itu dari dosenku. Beliau menanyakan bahasa Tegalnya, “Selamat Datang di Kota Tegal”. Kata beliau, mau dibuat billboard-nya Suara Merdeka.
“Jan, bahasa Tegalnya SELAMAT DATANG DI KOTA TEGAL, gimana? Mau dibikin billboard buat Suara Merdeka” Begitulah isi pesan pendek dari dosenku.

Seketika itu, aku pun kebingungan. Karena yang jadi pertanyaan di kepalaku itu, ‘Selamat Datang’ dalam bahasa Tegal itu gimana? Akhirnya, aku mencoba untuk menanyakan hal ini ke temen ngobrolku Si Wawan.
“Wan, bahasa Tegalnya Selamat Datang, gimana? Tanyaku.
“Gimana ya? Ehmmm... Selamet Teka! Iya, kan?” Jawabnya dengan ketawa terpingkal-pingkal.
“Ah, ngawur.. beneran nih!  soalnya yang tanya ini dosenku, buat tulisan di billboard-nya Suara Merdeka” Tegasku.

Gila! Bukannya ngebantu, yang ada temenku itu masih ketawa kegelian gara-gara celetukannya sendiri.

Karena gak tahu bahasa Tegalnya gimana, aku pun bales sms dosenku dengan alibi kalimat ‘Selamat Datang’ dalam bahasa Tegal gak ada. Tapi, walaupun aku ngomong gak ada, tetep aku kasih solusi pake bahasa Jawa halus sama dosenku itu.
“Wah... kayaknya gak ada bahasa Tegalnya untuk Selamat Datang, Pak. Alternatif lainnya pake bahasa Jawa halus aja” Isi balesan SMS ke dosenku itu.
“Ow ya sudah... maturnuwun ya, Jan” Bales SMS dosenku lagi.
“Nggih, Pak.. sama-sama” Kembali aku bales SMS beliau.


Monday, 22 November 2010

Khilaf

Pernahkah berjumpa dengan kawan satu daerah, yang sok pake bahasa orang lain? Kalo aku mah sering banget nemuin orang yang kayak gitu. Tapi, bagi aku kali ini pengalaman yang unik. Hehehe...

Begini ceritanya, teman...

Aku asli orang Tegal. Sekarang ini, aku masih merampungkan tahap akhir studi di perguruan tinggi swasta di kota Solo. Saat itu, aku sedang berada di Stasiun Poncol, Semarang. Memang sudah menjadi tradisi mampir di Semarang, setiap aku pulang ke kampung halaman. Soalnya, kalo transit dulu di Semarang, biayanya gak terlalu mahal. (biasa, anak kost cari yang murah.. Hehehe...). Apalagi di Semarang, banyak temen-temenku yang kuliah di sana. Aku berharap bertemu sama temen kampung yang juga mau pulang bareng. Tiba-tiba saja, apa yang aku harap terjadi.

“Mas.. Mas Ozan...”

Weits! Ada yang manggil namaku tuh kayaknya, ungkapku dalam hati. Langsung aku mencari arah suara itu. Dan dia yang memanggil namaku pun menghampiri.

“Piye kabarmu saiki, Mas? Aku saiki kuliah neng Semarang, Ndes” jelasnya sambil mengeluarkan asap rokok dari mulutnya. (Ndes itu, semacam panggilan bro, coy, dab, dan para balakurawa lainnya. Hehehe.... Sebutan seperti itu biasa dipake di daerah Semarang)

Aku pun gak tau dia itu siapa. Sehingga aku cuma bisa diam dan memperhatikannya.
Karena aku bingung, dia pun mulai menyebutkan namanya.
“Aku Amir, Mas. Mosok lali tho mbek aku?” tanyanya.

Dengan penuh kebingungan, aku mencoba mengingat anak itu. Dan dia pun kembali menjelaskan.
 “Amir, adike Heri koncomu...” jelasnya lagi.

Thursday, 18 November 2010

Bukan Pitak, Bukan pula Botak

Aku masih inget dengan jelas, saat itu hari Senin tanggal 16 Agustus 2010. Bertepatan bulan Ramadhan. Terbersit di pikiranku pengen tampil beda dengan potongan rambut gundul. Ya... sembari menyambut datangnya bulan suci. Boleh, kan? Dan akhirnya, kuputuskan pergi ke tempat pangkas rambut ala madura. Setiba di sana, seperti biasanya orang yang mau potong rambut, langsung meminta model yang pengen diminta.
“Gundulin, Mas” pintaku.
“Ya...” jawab si tukang potong rambut.
Gak sampai setengah jam, selesailah sesi pemotongan rambut (iyalah... digundulin doang kok).hehehe... Setelah itu, aku bayar jasanya lalu pulang ke kost.

Seiring bergulirnya waktu, tiba-tiba Aan temen kostku bertanya tentang model rambutku.
“Jan, waktu potong rambut, kamu pesen sama tukang potongnya dibikin pitak ya?” tanyanya sambil tertawa kecil.
“Pitak?” jawabku kebingungan.
“Iya pitak... masa kecoa!” jelasnya sambil tersenyum. (buset kecoa.hahahahaha...)
“Ah, masa sih?” balasku dengan semakin bingung.
“Coba deh kamu ngaca lebih jeli lagi di bagian kanan kepalamu” jelas Si Aan.

Dengan segera, aku pun langsung beranjak mengambil posisi zoom in di depan cermin sambil meneliti rambutku. Penuh keteletian ketika aku mengamati rambutku. Dan ternyata, DAMN!! apa yang dikatakan temenku bener-bener mencubit kesadaranku. Soalnya sebelum tau kayak gini, kemana-mana aku PD banget. Layaknya seleb yang baru potong rambut.hahahahaha... (boleh dong, narsis dikit).


Wednesday, 17 November 2010

Aku Kangen Kamu

“Aku kangen kamu, sayang...” itulah ucapan kerinduan seandainya blogku bisa ngomong, sms an, chatingan, wall-wall-an, surat-suratan, bahkan bisa-bisa kopdar (ketemuan).hahahahahahaha... Ajib! Tapi, andai kata bisa, bakalan aku jawab, "Aku juga rindu, sayang...unyu...unyu...unyu".hahahahahahaha... (makin gila!)

Yak! bener banget, udah lama aku gak menempa unek-unek ke bentuk tulisan. Ehmmm... kira-kira udah  4 bulan gak ngaplod tulisan-tulisanku yang sederhana ini. Rasa kangen juga sama blogku pastilah ada, tapi mau bagaimana lagi PR masih numpuk (kayak anak SD aja) hehehe... It’s ok, di sisi lain mungkin dari diri sendiri yang gak bisa atur waktu (jangan dicontoh ya anak-anak).

Maka dari itu, untuk membalas keresahan yang selama ini aku pendam, ingin rasanya menggali kembali kisah pengembaraan hidup yang sedang aku jalani.

Yuk, ngeblog lagi, Cinnnn....hahahahahaha!

Sunday, 25 July 2010

Bangga Pernah jadi Bagian dari Tropiz


Selamat atas kemenangan Tropiz band sebagai juara 1 dengan mendapatkan uang sebesar 15 juta rupiah dalam ajang Sprite De Plong 2010 di Purwokerto. Keep The Good Work, Guys! And I keep my fingers crossed for Tropiz!



 Dari kiri ke kanan; Adit (Keyboard), Puji (Guitar), 
Sendy (Drum), Ojan (Bass), Husni (Vocal).
Formasi tahun 2006.
Suatu kebanggaan tersendiri bagi aku. Walaupun sudah 4 tahun aku resign dari Tropiz. Memang aku akui kemajuan Tropiz benar-benar pesat. Dimulai dari asal ikut festival musik ecek-ecek sampai yang bertaraf Jawa Tengah. Bahkan se-Indonesia. Tidak bisa dihitung lagi tropy-tropy yang didapatkan oleh Tropiz sampai sekarang ini. Tropiz sendiri dirintis sejak aku SMA. Aku, Anto, Puji, Arif, Sendy. Itulah kami, Tropiz. Sejalan dengan bergulirnya waktu membuat formasi itu berganti. Dengan keluarnya Arif, masuklah Jefri sebagai penggantinya. Begitu pula Adit yang juga ikut bergabung. Dengan dukungan oleh para musisi Tegal, perlahan-lahan Tropiz mulai mendedikasikan dirinya untuk selalu mendapatkan penghargaan di setiap ajang festival musik.
Lengkaplah sudah Tropiz. Aroma rock yang kental beserta nuansa etnic sebagai bumbu menjadi positioning tersendiri bagi Tropiz saat itu. Namun, sekitar 1 tahun karier Tropiz yang sedang cemerlang, terdapat kemelut yang terjadi di dalam tubuh Tropiz. Keluarnya Jefri sebagai vokal, membuat Tropiz kelimpungan untuk mencari vokalis baru. Usaha untuk mencari vokalis baru pun dimulai. Mungkin pada masa itu, bisa dikatakan setiap hari kami selalu tukar pendapat tentang orang yang kira-kira akan kami ajak untuk bergabung dengan Tropiz. Pada saat itu di tengah goyahnya Tropiz, entah darimana tiba-tiba datang Husni sang mantan vokalis dari Breeze band menawarkan diri untuk menjadi bagian dari Tropiz. Dengan tangan terbuka kami langsung menerima Husni sebagai vokalis Tropiz. Kenapa kami langsung menerima Husni? Karena Husni mempunyai karakter vokal yang berbeda. Didukung dengan berbagai awards yang pernah ia raih sebagai the best vokal se-Jawa Tengah selama ia berada di bandnya yang terdahulu. Akhirnya, Tropiz pun kembali meramaikan jagad musik Tegal.

Tuesday, 6 April 2010

Maaf, Gak bisa Ditahan...


Cerita yang kutulis ini, berdasarkan dari apa yang diceritakan oleh kakaknya. Dia adalah Yusro, salah seorang pemuda di kampungku. Seorang anak laki-laki nomor empat dari enam bersaudara. Tinggi, hitam, gemesan, konyol, dan agak jorok. Hehehe... Walaupun seperti itu, dia anak yang baik dan menurut apa kata orang tua. Tapi gak sanggup kalo disuruh sama ortunya buat gak ngerokok. Tetep aja dia kucing-kucingan kalo mau ngerokok. Hehehe...
Suatu ketika dia sedang pergi bersama kakaknya (Mas Arum) naik sepeda motor. Singkat cerita, di tengah perjalanan pulang ke rumah (kebetulan dia yang nyupir motornya), tiba-tiba saja dia memacu kendaraannya dengan kecepatan lumayan tinggi sembari mengoyang-goyangkan pantatnya. Coba tebak kenapa dia goyang-goyangkan pantatnya? Yup bener banget, dia pengen pups (Pups = BAB, Berak, Beol, Ngising, Nlepenk). Hahahaha... 

Tuesday, 16 February 2010

Hati-hati dengan Anak Kembar

Jam sudah menunjukan arah 13.30 WIB, bel sekolah pun berbunyi, tanda mengakhiri kegiatan belajar mengajar di SMA Negeri 2 Tegal, hari itu. Matematika lah mata pelajaran terakhir di kelasku. Kala itu aku masih kelas 1 SMA, tepatnya kelas 1.2.
Pak Slamet: “Ok, anak-anak. Karena bel sudah berbunyi kita sudahi dulu mata pelajaran ini. Bagi yang mau beli LKS, uangnya bisa dikumpulkan dulu di bendahara kelas.”
Murid-murid: “Baik, Pak”
Pak Slamet: “Selamat siang, anak-anak”
Murid-murid: “Selamat siang, Pak”
Akhirnya, selesai sudah mata pelajaran yang paling gak kusenangi. Satu setengah jam dengan matematika sudah berlalu.
Seperti biasanya, aku dan dua temanku, Fadli dan Ijun nongkrong di poskamling sambil menunggu kedatangan mobil jemputan bernomor polisi warna kuning. Satu lagi SMS-an, yang satunya bengong, dan aku hanya menikmati asap rokok yang kuhisap, itulah kegiatan lain dari menunggu mobil tersebut. Sudah hampir 1 jam kami menunggu, belum datang juga.
Fadli: “Ah, iya ah... tumben lama bener Om nya”
Ijun: “Om siapa, Jos (panggilan lain Fadli)? Dijemput Om mu, ya?”
Fadli: “Iya, Om. Om supir angkot. Hehehe...”
Aku: “hahahahahaahaha...” (ketawaku sampai batuk, gara-gara asap rokok yang kuhisap)

Saturday, 13 February 2010

Di Balik Rasa Sakit (part 2)

Kali ini, aku sudah kembali ke rumah. Hanya tidur dan makan yang aku lakukan saat kaki kiriku tak berdaya. Bosan rasanya, karena terbiasa dengan aktivitas pergi main dan sekarang hanya berkutat di kamar tidur. Selang beberapa hari, banyak teman-temanku yang berkunjung menjengukku. Ini adalah hiburan yang bisa kurasakan serta sejenak menghilangkan rasa stres. Canda tawa pun menghiasi gubukku yang ramai dikunjungi teman. Moment ini aku luangkan untuk menandatangani gips yang menempel pada kaki kiriku.
Aku: “Mumpung lagi rame, aku pengen kalian tanda tangani gips ku ini” (sambil tersenyum)
Teman-teman: “Keren!” (serentak, kayak mau perang aja.hehehe)
Satu per satu, tanda tangan mereka melekat di gipsku.
Aku: “Ini baru keren!” (ungkapku sambil tertawa kecil)
Karena sudah malam, mereka pun satu per satu pulang. Dan kini aku sendiri lagi. Rasa bosan datang lagi. Tapi, tiba-tiba suara ketokan pintu berbunyi, dalam hatiku berkata siapa lagi yang datang. Dibukakan lah pintu oleh ibuku, dan ternyata teman dekatku Dias. Lalu, ibuku memanggilku.

Di Balik Rasa Sakit

Enam bulan lagi aku akan menghadapi UANAS di bangku SMP, SMP Negeri 14 Kota Tegal sekolahku. Tahun berganti tahun, tak terasa sudah kelas 3 SMP. Padahal, perasaanku mengatakan baru kemaren aku kelas 1 SMP. Yahhh... begitulah waktu berputar dengan cepat.
Malam itu, aku mau bermain dengan temanku, Dias (Sipe) namanya. Dia anak SMP Negeri 1 Kota Tegal. Biasalah anak umur segitu masih sering pergi maen, dan gak ada bedanya dengan sekarang. Hehehe... ngomong-ngmong soal UANAS, dulu aku gak peduli, tetap aja maen, dan megang buku aja gak pernah.
Aku: “Yas... Yas... Yas...?”
Dias: “Apa, Zan?”
Aku: “Maen yuk?”
Dias: “Tunggu bentar, nunggu ibuku nonton sinetron dulu”
Aku: “Apa hubungannya sinetron sama maen?” (sambil mengerutkan dahiku)
Dias: “Kayak gak tahu aja, kalo aku kepergok mau maen, ya gak bolehlah!” (Tegas dia)
Aku: “Ow... terus apa hubungannya?” (tetep gak ngerti)
Dias: “Biar ibuku lagi asyik-asyiknya nonton sinetron, trus aku keluar rumah...(badung banget yak) pokoknya kamu tunggu di depan masjid”
Aku: Oke!

Jangan Sudzon

Kata orang, semua itu dari kebiasaan, memang bener sih... Contohnya, bangun pagi. Ini yang selalu membuatku resah kala mau kuliah pagi. (Kalo kayak gini, jadi inget lagunya Harapan Jaya yang judulnya Kuliah Pagi.hehehe. ). Malam itu, aku berniat untuk bangun pagi dan kuliah pukul 07.00 WIB. Segala macam perlengkapan untuk besok telah aku siapkan, dari file untuk presentasi, tidur lebih awal, sampai alarm handphone ku aktifkan pukul 04.30 WIB. Alhasil, aku terbangun dari tidurku tepat jam 08.30 WIB. “Edan tenan, mosok ra mlebu kuliah neh!”, ungkapan kekesalanku di dalam hati sambil berdiri di atas kasur dan melihat arah pada jam dinding. Hmmm... entah setan apa yang membelenggu sehingga masih aja aku terkapar di atas kasur dengan sprei yang kecoklatan akibat 1 bulan belum dicuci. “Jane ki sing konslet sopo tho, aku opo alarmku?”, tanyaku penasaran dalam hati. Karena penasaran itu dan rasa ingin tahu yang tak bisa terbendung, akhirnya kuputuskan untuk mengecek alarm pada handphone ku. Coba kuatur lagi alarm dengan dicocokan pada jam sekarang. Tiba-tiba saja, “KRINGGGGG....” wah ini, ternyata yang konslet itu buka alarmku, tapi memang aku yang bener-bener konslet.hehehehe.. Setelah kejadian itu, aku bertekad untuk bangun pagi tiap hari, walaupun tidak ada kuliah pagi, dan tak lagi menyalahkan alarm handphone. Hehehe...