Rutinitas bagi anak muda seperti aku yang baru pulang dari kota rantauan, selain bertemu kedua orangtua adalah berjumpa dengan kawan lama. Malam itu, aku lagi maen di rumah temenku. Wawan Darkum namanya. Obrolan yang gak tentu arah, ditemani dengan kopi manis, rokok, dan jajanan yang seadanya serta pemandangan di rumahnya yang bikin mata sepet, menjadi awal pertemuan dengan temen lamaku itu. Kenapa
sepet? Ya, soalnya pemandangan yang disuguhkan di rumahnya cuman drum-drum yang berisikan solar buat kapal. Wajar, keluarga Popeye. Bapaknya mantan pelaut dan kakak laki-lakinya ngejual solar buat bahan bakar kapal. Hehehehe.. (
just kidding, guys!)
Tapi tak apalah, yang penting adalah silaturahmi yang efeknya nanti bisa mempererat tali persaudaraan. Betul,
kan?
Tiba-tiba bunyi SMS khas HP Nok Ria miliku berbunyi. Langsung kubuka dan ternyata SMS itu dari dosenku. Beliau menanyakan bahasa Tegalnya, “Selamat Datang di Kota Tegal”. Kata beliau, mau dibuat
billboard-nya Suara Merdeka.
“Jan, bahasa Tegalnya SELAMAT DATANG DI KOTA TEGAL, gimana? Mau dibikin
billboard buat Suara Merdeka” Begitulah isi pesan pendek dari dosenku.
Seketika itu, aku pun kebingungan. Karena yang jadi pertanyaan di kepalaku itu, ‘Selamat Datang’ dalam bahasa Tegal itu gimana? Akhirnya, aku mencoba untuk menanyakan hal ini ke temen ngobrolku Si Wawan.
“Wan, bahasa Tegalnya Selamat Datang, gimana? Tanyaku.
“Gimana ya? Ehmmm... Selamet Teka! Iya,
kan?” Jawabnya dengan ketawa terpingkal-pingkal.
“Ah,
ngawur.. beneran nih! soalnya yang tanya ini dosenku, buat tulisan di
billboard-nya Suara Merdeka” Tegasku.
Gila! Bukannya ngebantu, yang ada temenku itu masih ketawa kegelian gara-gara celetukannya sendiri.
Karena gak tahu bahasa Tegalnya gimana, aku pun bales sms dosenku dengan alibi kalimat ‘Selamat Datang’ dalam bahasa Tegal gak ada. Tapi, walaupun aku ngomong gak ada, tetep aku kasih solusi pake bahasa Jawa halus sama dosenku itu.
“Wah... kayaknya gak ada bahasa Tegalnya untuk Selamat Datang, Pak. Alternatif lainnya pake bahasa Jawa halus aja” Isi balesan SMS ke dosenku itu.
“Ow ya sudah... maturnuwun ya, Jan” Bales SMS dosenku lagi.
“Nggih, Pak.. sama-sama” Kembali aku bales SMS beliau.