Monday, 5 May 2014

Singapura Jadi Kreditur Kakap, Awas Intervensi

Indonesia bisa saja dihancurkan oleh Singapura, bila ketergantungan utang ke negara singa berbadan ikan itu terus berlanjut. Bisa saja Singapura menghancurkan negeri ini melalui aspek utang dengan segala ulah-ulah Indonesia yang ditengarai mengganggu mereka.

Misalnya saja soal penamaan kapal perang TNI AL Usman-Harun yang tidak diterima oleh Singapura, dengan dalih melukai hati rakyat mereka pasca pengeboman yang dilakukan Usman Harun di MacDonald House Orchard Road pada Maret 1965. Namun, protes Singapura tak digubris negeri ini.
Kasus ini memang telah berlalu. Tapi siapa tahu negeri pimpinan Lee Hsien Loong “balas dendam” dengan menggoyang ekonomi negeri ini? Pasalnya baru-baru ini, berdasarkan Bank Indonesia, terungkap data yang mengejutkan soal debitur yang paling setia sekaligus besar meminjamkan dana ke negeri. Ya, Singapura, yang cukup aktif sejak lima tahun terakhir.

Pada tahun 2009, negeri singa itu tercatat mengucurkan dananya sebesar US$ 22,33 miliar. Hingga di Januari 2014 ini, besaran pinjaman tersebut melambung di kisaran US$ 27,97 miliar atau bertambah sebesar 125,2 persen hingga menduduki angka US$ 50,3 miliar.

Demikian pula dengan pengembangan tanaman-tanaman yang berpotensi sebagai bahan bakar nabati (BBN) pengganti bahan bakar minyak (BBM). Pasalnya, Indonesia selama ini bergantung pada impor BBM dari Singapura untuk memenuhi tingginya kebutuhan konsumsi BBM seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat.

Indonesia berpotensi mengimpor minyak mentah, solar dan BBM sekitar 800-900 ribu barel per hari. Terdiri dari impor 300 ribu barel per hari untuk minyak mentah dan impor BBM sekitar 500-600 ribu barel per hari. Bahkan di 2020, impor BBM bisa menembus 1,6-2 juta barel per hari dengan kebutuhan dolar mencapai US$ 250 juta per hari.

Pemerintah Indonesia harus berhati-hati jika ada intervensi terkait pengembangan ekonomi negeri ini yang diembel-embeli “balas jasa” karena utang. Jika kita terus-terusan begini, akankah kita selamanya dikendalikan oleh Singapura?

Mata-matai Indonesia

Perlu diketahui juga, Singapura pada dasarnya kepanjangan tangan investor dari negara Eropa. Maka dari itu, mereka memegang kendali suplai utang untuk negara-negara di wilayahnya. Miris pula ketika di tahun 2011 ekspor Singapura sudah hampir US$ 400 miliar per tahun atau hampir dua kali lipat ekspor Indonesia yang US$ 203 miliar di tahun yang sama.

Padahal negeri tersebut tak memiliki kekayaan alam, dan luasnya pun jauh lebih kecil dibanding Indonesia. Namun bila melihat iklim bisnis di Singapura, tampak perbedaan mencolok. Mereka sangat kondusif dan tentunya kepastian hukum terlindungi.

Tak heran jika ratusan bahkan mungkin ribuan perusahaan kaliber dunia di belahan Asia hingga Australia memilih Singapura sebagai tempat pijakan untuk melakukan ekspansi bisnis seperti industri manufaktur, keuangan, dan jasa lainnya. Melihat kondisi itu, The Economist pada Maret lalu menempatkan Singapura ke-5 setelah Ukraina sebagai The World for Crony-Capitalism Index.

Pun menurut seorang peneliti dari Institute for Global Justice (IGC), Singapura merupakan mata-mata AS dan Inggris untuk Indonesia. Dia memata-matai pengendalian ekonomi, keuangan, perbankan, perdagangan dan sumber daya alam (SDA) Indonesia.

Sebagai negara yang kecil dan dikelilingi negara-negara besar, Singapura paham apa yang harus dilakukan, yaitu dengan memiliki kekuatan di sektor sumber daya manusia yang unggul dan perlindungan hukum. Singapura memperkuat kedua hal itu lantaran Indonesia merupakan ancaman baginya dari segi ekonomi.

Untuk itu, segenap cara dilakuka Singapura seperti memonitoring potensi Kota Bitung, yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara. Sebagai kota yang memiliki pelabuhan strategis, tentu ini sangat mengancam Singapura. Bayangkan bila Bitung bisa jalan menjadi seperti hub port akan menyaingi negara kecil Singapura.

Sayangnya, potensi ini kurang disadari oleh negeri ini. Justru Singapura yang tahu detail tentang kota kecil itu, jauh diketahui sebelum muncul adanya rencana Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung. Intelijen dari Singapura telah lama mengumpulkan fakta-fakta potensi dari Bitung. Segala daya dan upaya yang telah dilakukan oleh Singapura memang terang-terangan tidak dilakukan secara langsung, melainkan menggunakan lembaga-lembaga keuangan dunia yang ditunggangi kepentingan Singapura.

Memang saat ini Indonesia belum menjadi ancaman yang serius bagi Singapura. Namun, selagi masalah ini tak terlalu berat, segeralah negeri ini lebih peka dengan kembangkan beberapa daerah yang strategis untuk membangun pelabuhan-pelabuhan sebagai hub. Seperti daerah-daerah Batam, Bitung, Bintan, dan Sabang.

Namun, di sisi lain, Singapura juga bergantung pada negeri ini. Singapura, mau tak mau, harus memperhatikan kontribusi Indonesia terhadap ekonominya. Terdapat tiga ketergantungan Singapura pada Indonesia.

Pertama, soal tenaga kerja yang berasal dari Indonesia (TKI). Kedua, Singapura juga tergantung dari pasokan gas lewat pipa dari Indonesia. Ada 790 mmsfd gas mengalir dari Indonesia ke Singapura setiap harinya.

Serta yang ketiga adalah perekonomian Singapura juga tergantung dari wisatawan asal Indonesia. Tahun 2012 saja ada sekitar 2,1 juta wisatawan Indonesia ke Singapura dengan nilai belanja sekitar 2,3 miliar dolar Singapura.
(Published on citizendaily.net)

No comments:

Post a Comment